<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1131593786029234853</id><updated>2012-02-16T20:09:13.046+07:00</updated><category term='UU Guru dan Dosen'/><category term='Struktur dan fungsi jaringan hewan'/><category term='Struktur dan fungsi jaringan tumbuhan'/><category term='Pengembangan diri'/><category term='Media pembelajaran'/><category term='sistem gerak pada manusia'/><category term='Struktur dan Fungsi Sel'/><title type='text'>BIOLOGY SITE</title><subtitle type='html'>Learn biology, to knowladge</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://biocyberway.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1131593786029234853/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://biocyberway.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>van210</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05491969756456454186</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='10' src='http://2.bp.blogspot.com/_GHP-NEyWtGY/SlQ03NZ_xuI/AAAAAAAAABQ/meC2CAfV4bc/s1600-R/van2.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>19</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1131593786029234853.post-882608003231882584</id><published>2009-12-06T20:17:00.001+07:00</published><updated>2009-12-06T20:20:22.843+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='UU Guru dan Dosen'/><title type='text'>UNDANG-UNDANG GURU DAN DOSEN</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;DEWAN PERWAKILAN RAKYAT&lt;br /&gt;       REPUBLIK INDONESIA          &lt;br /&gt;UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;NOMOR 14 TAHUN 2005&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;TENTANG&lt;br /&gt;GURU DAN DOSEN &lt;br /&gt;DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA &lt;br /&gt;PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA &lt;br /&gt;Menimbang  :  a.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. bahwa pembangunan nasional dalam bidang pendidikan adalah upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia Indonesia yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia serta menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni dalam mewujudkan masyarakat yang maju, adil, makmur, dan beradab berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945&lt;br /&gt;bahwa untuk menjamin perluasan dan pemerataan akses, peningkatan mutu dan relevansi, serta tata pemerintahan yang baik dan akuntabilitas pendidikan yang mampu menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global perlu dilakukan pemberdayaan dan peningkatan mutu guru dan dosen secara terencana, terarah, dan berkesinambungan.&lt;br /&gt;bahwa guru dan dosen mempunyai fungsi, peran, dan kedudukan yang sangat strategis dalam pembangunan nasional dalam bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada huruf a sehingga perlu dikembangkan sebagai profesi yang bermartabat; &lt;br /&gt;bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a, huruf b, dan huruf c perlu dibentuk Undang-Undang tentang Guru dan Dosen. &lt;br /&gt;Mengingat  :   1. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a, huruf b, dan huruf c perlu dibentuk Undang-Undang tentang Guru dan Dosen. &lt;br /&gt;     2. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4301). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dengan Persetujuan Bersama &lt;br /&gt;DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;dan&lt;br /&gt;PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;MEMUTUSKAN: &lt;br /&gt;Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG GURU DAN DOSEN.&lt;br /&gt;BAB I &lt;br /&gt;KETENTUAN UMUM &lt;br /&gt;Pasal 1 &lt;br /&gt;Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:&lt;br /&gt;1. Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. &lt;br /&gt;2. Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. &lt;br /&gt;3. Guru besar atau profesor yang selanjutnya disebut profesor adalah jabatan fungsional tertinggi bagi dosen yang masih mengajar di lingkungan satuan pendidikan tinggi. &lt;br /&gt;4. Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi. &lt;br /&gt;5. Penyelenggara pendidikan adalah Pemerintah, pemerintah daerah, atau masyarakat yang menyelenggarakan pendidikan pada jalur pendidikan formal. &lt;br /&gt;6. Satuan pendidikan adalah kelompok layanan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan pada jalur pendidikan formal dalam setiap jenjang dan jenis pendidikan. &lt;br /&gt;7. Perjanjian kerja atau kesepakatan kerja bersama adalah perjanjian tertulis antara guru atau dosen dengan penyelenggara pendidikan atau satuan pendidikan yang memuat syarat-syarat kerja serta hak dan kewajiban para pihak dengan prinsip kesetaraan dan kesejawatan berdasarkan peraturan perundang-undangan. &lt;br /&gt;8. Pemutusan hubungan kerja atau pemberhentian kerja adalah pengakhiran perjanjian kerja atau kesepakatan kerja bersama guru atau dosen karena sesuatu hal yang mengakibatkan berakhirnya hak dan kewajiban antara guru atau dosen dan penyelenggara pendidikan atau satuan pendidikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. &lt;br /&gt;9. Kualifikasi akademik adalah ijazah jenjang pendidikan akademik yang harus dimiliki oleh guru atau dosen sesuai dengan jenis, jenjang, dan satuan pendidikan formal di tempat penugasan. &lt;br /&gt;10. Kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalan. &lt;br /&gt;11. Sertifikasi adalah proses pemberian sertifikat pendidik untuk guru dan dosen. &lt;br /&gt;12. Sertifikat pendidik adalah bukti formal sebagai pengakuan yang diberikan kepada guru dan dosen sebagai tenaga profesional. &lt;br /&gt;13. Organisasi profesi guru adalah perkumpulan yang berbadan hukum yang didirikan dan diurus oleh guru untuk mengembangkan profesionalitas guru. &lt;br /&gt;14. Lembaga pendidikan tenaga kependidikan adalah perguruan tinggi yang diberi tugas oleh Pemerintah untuk menyelenggarakan program pengadaan guru pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan/atau pendidikan menengah, serta untuk menyelenggarakan dan mengembangkan ilmu kependidikan dan nonkependidikan. &lt;br /&gt;15. Gaji adalah hak yang diterima oleh guru atau dosen atas pekerjaannya dari penyelenggara pendidikan atau satuan pendidikan dalam bentuk finansial secara berkala sesuai dengan peraturan perundang-undangan. &lt;br /&gt;16. Penghasilan adalah hak yang diterima oleh guru atau dosen dalam bentuk finansial sebagai imbalan melaksanakan tugas keprofesionalan yang ditetapkan dengan prinsip penghargaan atas dasar prestasi dan mencerminkan martabat guru atau dosen sebagai pendidik profesional. &lt;br /&gt;17. Daerah khusus adalah daerah yang terpencil atau terbelakang; daerah dengan kondisi masyarakat adat yang terpencil; daerah perbatasan dengan negara lain; daerah yang mengalami bencana alam, bencana sosial, atau daerah yang berada dalam keadaan darurat lain. &lt;br /&gt;18. Masyarakat adalah kelompok warga negara Indonesia nonpemerintah yang mempunyai perhatian dan peranan dalam bidang pendidikan. &lt;br /&gt;19. Pemerintah adalah pemerintah pusat. &lt;br /&gt;20. Pemerintah daerah adalah pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, atau pemerintah kota. &lt;br /&gt;21. Menteri adalah menteri yang menangani urusan pemerintahan dalam bidang pendidikan nasional. &lt;br /&gt;BAB II &lt;br /&gt;KEDUDUKAN, FUNGSI, DAN TUJUAN &lt;br /&gt;Pasal 2 &lt;br /&gt;(1) Guru mempunyai kedudukan sebagai tenaga profesional pada jenjang pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal yang diangkat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. &lt;br /&gt;(2)  Pengakuan kedudukan guru sebagai tenaga profesional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuktikan dengan sertifikat pendidik. &lt;br /&gt;Pasal 3 &lt;br /&gt;(1) Dosen mempunyai kedudukan sebagai tenaga profesional pada jenjang pendidikan tinggi yang diangkat sesuai dengan peraturan perundang-undangan.&lt;br /&gt;(2)  Pengakuan kedudukan dosen sebagai tenaga profesional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuktikan dengan sertifikat pendidik. &lt;br /&gt;Pasal 4 &lt;br /&gt;Kedudukan guru sebagai tenaga profesional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) berfungsi untuk meningkatkan martabat dan peran guru sebagai agen pembelajaran berfungsi untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional. &lt;br /&gt;Pasal 5 &lt;br /&gt;Kedudukan dosen sebagai tenaga profesional sebagaimana dimaksud pada Pasal 3 ayat (1) berfungsi untuk meningkatkan martabat dan peran dosen sebagai agen pembelajaran, pengembang ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, serta pengabdi kepada masyarakat berfungsi untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 6 &lt;br /&gt;Kedudukan guru dan dosen sebagai tenaga profesional bertujuan untuk melaksanakan sistem pendidikan nasional dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. &lt;br /&gt;BAB III &lt;br /&gt;PRINSIP PROFESIONALITAS &lt;br /&gt;Pasal 7 &lt;br /&gt;(1) Profesi guru dan profesi dosen merupakan bidang pekerjaan khusus yang dilaksanakan berdasarkan prinsip sebagai berikut: &lt;br /&gt;a. memiliki bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealisme; &lt;br /&gt;b. memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia; &lt;br /&gt;c. memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugas; &lt;br /&gt;d. memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas; &lt;br /&gt;e. memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan; &lt;br /&gt;f. memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja; &lt;br /&gt;g. memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat; &lt;br /&gt;h. memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas keprofesionalan; dan &lt;br /&gt;i. memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenangan mengatur hal-hal yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan guru. &lt;br /&gt;(2) Pemberdayaan profesi guru atau pemberdayaan profesi dosen diselenggarakan melalui pengembangan diri yang dilakukan secara demokratis, berkeadilan, tidak diskriminatif, dan berkelanjutan dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, kemajemukan bangsa, dan kode etik profesi. &lt;br /&gt;BAB IV &lt;br /&gt;GURU &lt;br /&gt;Bagian Kesatu &lt;br /&gt;Kualifikasi, Kompetensi, dan Sertifikasi &lt;br /&gt;Pasal 8 &lt;br /&gt;Guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. &lt;br /&gt;Pasal 9 &lt;br /&gt;Kualifikasi akademik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 diperoleh melalui pendidikan tinggi program sarjana atau program diploma empat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 10 &lt;br /&gt;(1) Kompetensi guru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi. &lt;br /&gt;(2)  Ketentuan lebih lanjut mengenai kompetensi guru sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. &lt;br /&gt;Pasal 11 &lt;br /&gt;(1) Sertifikat pendidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 diberikan kepada guru yang telah memenuhi persyaratan. &lt;br /&gt;(2) Sertifikasi pendidik diselenggarakan oleh perguruan tinggi yang memiliki program pengadaan tenaga kependidikan yang terakreditasi dan ditetapkan oleh Pemerintah.&lt;br /&gt;(3) Sertifikasi pendidik dilaksanakan secara objektif, transparan, dan akuntabel. &lt;br /&gt;(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai sertifikasi pendidik sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah. &lt;br /&gt;Pasal 12 &lt;br /&gt;Setiap orang yang telah memperoleh sertifikat pendidik memiliki kesempatan yang sama untuk diangkat menjadi guru pada satuan pendidikan tertentu. &lt;br /&gt;Pasal 13&lt;br /&gt;(1) Pemerintah dan pemerintah daerah wajib menyediakan anggaran untuk peningkatan kualifikasi akademik dan sertifikasi pendidik bagi guru dalam jabatan yang diangkat oleh satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat. &lt;br /&gt;(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai anggaran untuk peningkatan kualifikasi akademik dan sertifikasi pendidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. &lt;br /&gt;Bagian Kedua &lt;br /&gt;Hak dan Kewajiban &lt;br /&gt;Pasal 14 &lt;br /&gt;(1) Dalam melaksanakan tugas keprofesionalan, guru berhak: &lt;br /&gt;a. memperoleh penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum dan jaminan kesejahteraan sosial; &lt;br /&gt;b. mendapatkan promosi dan penghargaan sesuai dengan tugas dan prestasi kerja; &lt;br /&gt;c. memperoleh perlindungan dalam melaksanakan tugas dan hak atas kekayaan intelektual; &lt;br /&gt;d. memperoleh kesempatan untuk meningkatkan kompetensi; &lt;br /&gt;e. memperoleh dan memanfaatkan sarana dan prasarana pembelajaran untuk menunjang kelancaran tugas keprofesionalan; &lt;br /&gt;f. memiliki kebebasan dalam memberikan penilaian dan ikut menentukan kelulusan, penghargaan, dan/atau sanksi kepada peserta didik sesuai dengan kaidah pendidikan, kode etik guru, dan peraturan perundang-undangan; &lt;br /&gt;g. memperoleh rasa aman dan jaminan keselamatan dalam melaksanakan tugas; &lt;br /&gt;h. memiliki kebebasan untuk berserikat dalam organisasi profesi; &lt;br /&gt;i. memiliki kesempatan untuk berperan dalam penentuan kebijakan pendidikan; &lt;br /&gt;j. memperoleh kesempatan untuk mengembangkan dan meningkatkan kualifikasi akademik dan kompetensi; dan/atau &lt;br /&gt;k. memperoleh pelatihan dan pengembangan profesi dalam bidangnya. &lt;br /&gt;(2)   Ketentuan lebih lanjut mengenai hak guru sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. &lt;br /&gt;Pasal 15 &lt;br /&gt;(1) Penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (1) huruf a meliputi gaji pokok, tunjangan yang melekat pada gaji, serta penghasilan lain berupa tunjangan profesi, tunjangan fungsional, tunjangan khusus, dan maslahat tambahan yang terkait dengan tugasnya sebagai guru yang ditetapkan dengan prinsip penghargaan atas dasar prestasi. &lt;br /&gt;(2) Guru yang diangkat oleh satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah diberi gaji sesuai dengan peraturan perundang-undangan.&lt;br /&gt;(3) Guru yang diangkat oleh satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat diberi gaji berdasarkan perjanjian kerja atau kesepakatan kerja bersama. &lt;br /&gt;Pasal 16 &lt;br /&gt;(1) Pemerintah memberikan tunjangan profesi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (1) kepada guru yang telah memiliki sertifikat pendidik yang diangkat oleh penyelenggara pendidikan dan/atau satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat. &lt;br /&gt;(2) Tunjangan profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setara dengan 1 (satu) kali gaji pokok guru yang diangkat oleh satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah pada tingkat, masa kerja, dan kualifikasi yang sama.&lt;br /&gt;(3) Tunjangan profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dialokasikan dalam anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) dan/atau anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD). &lt;br /&gt;(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tunjangan profesi guru sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah. &lt;br /&gt;Pasal 17 &lt;br /&gt;(1) Pemerintah dan/atau pemerintah daerah memberikan tunjangan fungsional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (1) kepada guru yang diangkat oleh satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah dan pemerintah daerah.&lt;br /&gt;(2) Pemerintah dan/atau pemerintah daerah memberikan subsidi tunjangan fungsional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (1) kepada guru yang diangkat oleh satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. &lt;br /&gt;(3) Tunjangan fungsional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan subsidi tunjangan fungsional sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dialokasikan dalam anggaran pendapatan dan belanja negara dan/atau anggaran pendapatan dan belanja daerah. &lt;br /&gt;Pasal 18 &lt;br /&gt;(1) Pemerintah memberikan tunjangan khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (1) kepada guru yang bertugas di daerah khusus.&lt;br /&gt;(2) Tunjangan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setara dengan 1 (satu) kali gaji pokok guru yang diangkat oleh satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah pada tingkat, masa kerja, dan kualifikasi yang sama. &lt;br /&gt;(3) Guru yang diangkat oleh Pemerintah atau pemerintah daerah di daerah khusus, berhak atas rumah dinas yang disediakan oleh pemerintah daerah sesuai dengan kewenangan. &lt;br /&gt;(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tunjangan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 19 &lt;br /&gt;(1) Maslahat tambahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (1) merupakan tambahan kesejahteraan yang diperoleh dalam bentuk tunjangan pendidikan, asuransi pendidikan, beasiswa, dan penghargaan bagi guru, serta kemudahan untuk memperoleh pendidikan bagi putra dan putri guru, pelayanan kesehatan, atau bentuk kesejahteraan lain. &lt;br /&gt;(2) Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menjamin terwujudnya maslahat tambahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). &lt;br /&gt;(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai maslahat tambahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah. &lt;br /&gt;Pasal 20 &lt;br /&gt;Dalam melaksanakan tugas keprofesionalan, guru berkewajiban: &lt;br /&gt;a. merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran; &lt;br /&gt;b. meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni; &lt;br /&gt;c. bertindak objektif dan tidak diskriminatif atas dasar pertimbangan jenis kelamin, agama, suku, ras, dan kondisi fisik tertentu, atau latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi peserta didik dalam pembelajaran; &lt;br /&gt;d. menjunjung tinggi peraturan perundang-undangan, hukum, dan kode etik guru, serta nilai-nilai agama dan etika; dan &lt;br /&gt;e. memelihara dan memupuk persatuan dan kesatuan bangsa; &lt;br /&gt;Bagian Ketiga &lt;br /&gt;Wajib Kerja dan Ikatan Dinas &lt;br /&gt;Pasal 21 &lt;br /&gt;(1) Dalam keadaan darurat, Pemerintah dapat memberlakukan ketentuan wajib kerja kepada guru dan/atau warga negara Indonesia lainnya yang memenuhi kualifikasi akademik dan kompetensi untuk melaksanakan tugas sebagai guru di daerah khusus di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. &lt;br /&gt;(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai penugasan warga negara Indonesia sebagai guru dalam keadaan darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. &lt;br /&gt;Pasal 22 &lt;br /&gt;(1) Pemerintah dan/atau pemerintah daerah dapat menetapkan pola ikatan dinas bagi calon guru untuk memenuhi kepentingan pembangunan pendidikan nasional atau kepentingan pembangunan daerah. &lt;br /&gt;(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai pola ikatan dinas bagi calon guru sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. &lt;br /&gt;Pasal 23 &lt;br /&gt;(1) Pemerintah mengembangkan sistem pendidikan guru ikatan dinas berasrama di lembaga pendidikan tenaga kependidikan untuk menjamin efisiensi dan mutu pendidikan. &lt;br /&gt;(2) (2) Kurikulum pendidikan guru pada lembaga pendidikan tenaga kependidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus mengembangkan kompetensi yang diperlukan untuk mendukung pelaksanaan pendidikan nasional, pendidikan bertaraf internasional, dan pendidikan berbasis keunggulan lokal. &lt;br /&gt;Bagian Keempat &lt;br /&gt;Pengangkatan, Penempatan, Pemindahan, dan Pemberhentian &lt;br /&gt;Pasal 24 &lt;br /&gt;(1) Pemerintah wajib memenuhi kebutuhan guru, baik dalam jumlah, kualifikasi akademik, maupun dalam kompetensi secara merata untuk menjamin keberlangsungan satuan pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal serta untuk menjamin keberlangsungan pendidikan dasar dan menengah yang diselenggarakan oleh Pemerintah. &lt;br /&gt;(2) Pemerintah provinsi wajib memenuhi kebutuhan guru, baik dalam jumlah, kualifikasi akademik, maupun dalam kompetensi secara merata untuk menjamin keberlangsungan pendidikan menengah dan pendidikan khusus sesuai dengan kewenangan. &lt;br /&gt;(3) Pemerintah kabupaten/kota wajib memenuhi kebutuhan guru, baik dalam jumlah, kualifikasi akademik, maupun dalam kompetensi secara merata untuk menjamin keberlangsungan pendidikan dasar dan pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal sesuai dengan kewenangan. &lt;br /&gt;(4) Penyelenggara pendidikan atau satuan pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah yang diselenggarakan oleh masyarakat wajib memenuhi kebutuhan guru-tetap, baik dalam jumlah, kualifikasi akademik, maupun kompetensinya untuk menjamin keberlangsungan pendidikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 25 &lt;br /&gt;(1) Pengangkatan dan penempatan guru dilakukan secara objektif dan transparan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.&lt;br /&gt;(2) Pengangkatan dan penempatan guru pada satuan pendidikan yang diselenggarakan Pemerintah atau pemerintah daerah diatur dengan Peraturan Pemerintah.&lt;br /&gt;(3) Pengangkatan dan penempatan guru pada satuan pendidikan yang diselenggarakan masyarakat dilakukan oleh penyelenggara pendidikan atau satuan pendidikan yang bersangkutan berdasarkan perjanjian kerja atau kesepakatan kerja bersama. &lt;br /&gt;Pasal 26 &lt;br /&gt;(1) Guru yang diangkat oleh Pemerintah atau pemerintah daerah dapat ditempatkan pada jabatan struktural. &lt;br /&gt;(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai penempatan guru yang diangkat oleh Pemerintah atau pemerintah daerah pada jabatan struktural sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. &lt;br /&gt;Pasal 27 &lt;br /&gt;Tenaga kerja asing yang dipekerjakan sebagai guru pada satuan pendidikan di Indonesia wajib mematuhi kode etik guru dan peraturan perundang-undangan. &lt;br /&gt;Pasal 28 &lt;br /&gt;(1) Guru yang diangkat oleh Pemerintah atau pemerintah daerah dapat dipindahtugaskan antarprovinsi, antarkabupaten/antarkota, antarkecamatan maupun antarsatuan pendidikan karena alasan kebutuhan satuan pendidikan dan/atau promosi. &lt;br /&gt;(2) Guru yang diangkat oleh Pemerintah atau pemerintah daerah dapat mengajukan permohonan pindah tugas, baik antarprovinsi, antarkabupaten/antarkota, antarkecamatan maupun antarsatuan pendidikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. &lt;br /&gt;(3) Dalam hal permohonan kepindahan dikabulkan, Pemerintah atau pemerintah daerah memfasilitasi kepindahan guru sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sesuai dengan kewenangan. &lt;br /&gt;(4) Pemindahan guru pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat diatur oleh penyelenggara pendidikan atau satuan pendidikan yang bersangkutan berdasarkan perjanjian kerja atau kesepakatan kerja bersama.&lt;br /&gt;(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai pemindahan guru sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah. &lt;br /&gt;Pasal 29 &lt;br /&gt;(1) Guru yang bertugas di daerah khusus memperoleh hak yang meliputi kenaikan pangkat rutin secara otomatis, kenaikan pangkat istimewa sebanyak 1 (satu) kali, dan perlindungan dalam pelaksanaan tugas. &lt;br /&gt;(2) Guru yang diangkat oleh Pemerintah atau pemerintah daerah wajib menandatangani pernyataan kesanggupan untuk ditugaskan di daerah khusus paling sedikit selama 2 (dua) tahun. &lt;br /&gt;(3) Guru yang diangkat oleh Pemerintah atau pemerintah daerah yang telah bertugas selama 2 (dua) tahun atau lebih di daerah khusus berhak pindah tugas setelah tersedia guru pengganti. &lt;br /&gt;(4) Dalam hal terjadi kekosongan guru, Pemerintah atau pemerintah daerah wajib menyediakan guru pengganti untuk menjamin keberlanjutan proses pembelajaran pada satuan pendidikan yang bersangkutan&lt;br /&gt;(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai guru yang bertugas di daerah khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) diatur dengan Peraturan Pemerintah. &lt;br /&gt;Pasal 30 &lt;br /&gt;(1) Guru dapat diberhentikan dengan hormat dari jabatannya sebagai guru karena: &lt;br /&gt;a. meninggal dunia; &lt;br /&gt;b. mencapai batas usia pensiun; &lt;br /&gt;c. atas permintaan sendiri; &lt;br /&gt;d. sakit jasmani dan/atau rohani sehingga tidak dapat melaksanakan tugas secara terus-menerus selama 12 (dua belas) bulan; atau &lt;br /&gt;e. berakhirnya perjanjian kerja atau kesepakatan kerja bersama antara guru dan penyelenggara pendidikan. &lt;br /&gt;(2) Guru dapat diberhentikan tidak dengan hormat dari jabatan sebagai guru karena: &lt;br /&gt;a. melanggar sumpah dan janji jabatan; &lt;br /&gt;b. melanggar perjanjian kerja atau kesepakatan kerja bersama; atau &lt;br /&gt;c. melalaikan kewajiban dalam menjalankan tugas selama 1 (satu) bulan atau lebih secara terus-menerus. &lt;br /&gt;(3) Pemberhentian guru sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.&lt;br /&gt;(4) Pemberhentian guru karena batas usia pensiun sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dilakukan pada usia 60 (enam puluh) tahun.&lt;br /&gt;(5) Guru yang diangkat oleh Pemerintah atau pemerintah daerah yang diberhentikan dari jabatan sebagai guru, kecuali sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf b, tidak dengan sendirinya diberhentikan sebagai pegawai negeri sipil. &lt;br /&gt;Pasal 31 &lt;br /&gt;(1) Pemberhentian guru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (2) dapat dilakukan setelah guru yang bersangkutan diberi kesempatan untuk membela diri. &lt;br /&gt;(2)  Guru pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat yang diberhentikan dengan hormat tidak atas permintaan sendiri memperoleh kompensasi finansial sesuai dengan perjanjian kerja atau kesepakatan kerja bersama. &lt;br /&gt;Bagian Kelima &lt;br /&gt;Pembinaan dan Pengembangan &lt;br /&gt;Pasal 32 &lt;br /&gt;(1) Pembinaan dan pengembangan guru meliputi pembinaan dan pengembangan profesi dan karier.&lt;br /&gt;(2) Pembinaan dan pengembangan profesi guru sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. &lt;br /&gt;(3) Pembinaan dan pengembangan profesi guru sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui jabatan fungsional. &lt;br /&gt;(4) Pembinaan dan pengembangan karier guru sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi penugasan, kenaikan pangkat, dan promosi. &lt;br /&gt;Pasal 33 &lt;br /&gt;Kebijakan strategis pembinaan dan pengembangan profesi dan karier guru pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, atau masyarakat ditetapkan dengan peraturan Menteri. &lt;br /&gt;Pasal 34 &lt;br /&gt;(1) Pemerintah dan pemerintah daerah wajib membina dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi guru pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau masyarakat.&lt;br /&gt;(2) Satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat wajib membina dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi guru. &lt;br /&gt;(3) Pemerintah dan pemerintah daerah wajib memberikan anggaran untuk meningkatkan profesionalitas dan pengabdian guru pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau masyarakat. &lt;br /&gt;Pasal 35 &lt;br /&gt;(1) Beban kerja guru mencakup kegiatan pokok yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, membimbing dan melatih peserta didik, serta melaksanakan tugas tambahan. &lt;br /&gt;(2) (2) Beban kerja guru sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah sekurang-kurangnya 24 (dua puluh empat) jam tatap muka dan sebanyak-banyaknya 40 (empat puluh) jam tatap muka dalam 1 (satu) minggu. &lt;br /&gt;(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai beban kerja guru sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bagian Keenam &lt;br /&gt;Penghargaan &lt;br /&gt;Pasal 36 &lt;br /&gt;(1) Guru yang berprestasi, berdedikasi luar biasa, dan/atau bertugas di daerah khusus berhak memperoleh penghargaan. &lt;br /&gt;(2) Guru yang gugur dalam melaksanakan tugas di daerah khusus memperoleh penghargaan dari Pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau masyarakat. &lt;br /&gt;Pasal 37 &lt;br /&gt;(1) Penghargaan dapat diberikan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat, organisasi profesi, dan/atau satuan pendidikan. &lt;br /&gt;(2) Penghargaan dapat diberikan pada tingkat sekolah, tingkat desa/kelurahan, tingkat kecamatan, tingkat kabupaten/kota, tingkat provinsi, tingkat nasional, dan/atau tingkat internasional. &lt;br /&gt;(3) Penghargaan kepada guru dapat diberikan dalam bentuk tanda jasa, kenaikan pangkat istimewa, finansial, piagam, dan/atau bentuk penghargaan lain.&lt;br /&gt;(4) Penghargaan kepada guru dilaksanakan dalam rangka memperingati hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia, hari ulang tahun provinsi, hari ulang tahun kabupaten/kota, hari ulang tahun satuan pendidikan, hari pendidikan nasional, hari guru nasional, dan/atau hari besar lain. &lt;br /&gt;(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai pemberian penghargaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) diatur dengan Peraturan Pemerintah. &lt;br /&gt;Pasal 38 &lt;br /&gt;Pemerintah dapat menetapkan hari guru nasional sebagai penghargaan kepada guru yang diatur dengan peraturan perundang-undangan. &lt;br /&gt;Bagian Ketujuh &lt;br /&gt;Perlindungan &lt;br /&gt;Pasal 39 &lt;br /&gt;(1) Pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat, organisasi profesi, dan/atau satuan pendidikan wajib memberikan perlindungan terhadap guru dalam pelaksanaan tugas.&lt;br /&gt;(2) Perlindungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi perlindungan hukum, perlindungan profesi, serta perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja. &lt;br /&gt;(3) Perlindungan hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mencakup perlindungan hukum terhadap tindak kekerasan, ancaman, perlakuan diskriminatif, intimidasi, atau perlakuan tidak adil dari pihak peserta didik, orang tua peserta didik, masyarakat, birokrasi, atau pihak lain. &lt;br /&gt;(4) Perlindungan profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mencakup perlindungan terhadap pemutusan hubungan kerja yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan, pemberian imbalan yang tidak wajar, pembatasan dalam menyampaikan pandangan, pelecehan terhadap profesi, dan pembatasan/pelarangan lain yang dapat menghambat guru dalam melaksanakan tugas.&lt;br /&gt;(5) Perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mencakup perlindungan terhadap risiko gangguan keamanan kerja, kecelakaan kerja, kebakaran pada waktu kerja, bencana alam, kesehatan lingkungan kerja, dan/atau risiko lain. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bagian Kedelapan &lt;br /&gt;Cuti &lt;br /&gt;Pasal 40 &lt;br /&gt;(1) Guru memperoleh cuti sesuai dengan peraturan perundang-undangan. &lt;br /&gt;(2) Guru dapat memperoleh cuti untuk studi dengan tetap memperoleh hak gaji penuh.&lt;br /&gt;(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai cuti sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah. &lt;br /&gt;Bagian Kesembilan &lt;br /&gt;Organisasi Profesi dan Kode Etik &lt;br /&gt;Pasal 41 &lt;br /&gt;(1) Guru membentuk organisasi profesi yang bersifat independen.&lt;br /&gt;(2) Organisasi profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berfungsi untuk memajukan profesi, meningkatkan kompetensi, karier, wawasan kependidikan, perlindungan profesi, kesejahteraan, dan pengabdian kepada masyarakat. &lt;br /&gt;(3) Guru wajib menjadi anggota organisasi profesi. &lt;br /&gt;(4) Pembentukan organisasi profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. &lt;br /&gt;(5) Pemerintah dan/atau pemerintah daerah dapat memfasilitasi organisasi profesi guru dalam pelaksanaan pembinaan dan pengembangan profesi guru. &lt;br /&gt;Pasal 42 &lt;br /&gt;Organisasi profesi guru mempunyai kewenangan: &lt;br /&gt;a. menetapkan dan menegakkan kode etik guru; &lt;br /&gt;b. memberikan bantuan hukum kepada guru; &lt;br /&gt;c. memberikan perlindungan profesi guru; &lt;br /&gt;d. melakukan pembinaan dan pengembangan profesi guru; dan &lt;br /&gt;e. memajukan pendidikan nasional. &lt;br /&gt;Pasal 43 &lt;br /&gt;(1) Untuk menjaga dan meningkatkan kehormatan dan martabat guru dalam pelaksanaan tugas keprofesionalan, organisasi profesi guru membentuk kode etik. &lt;br /&gt;(2) Kode etik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berisi norma dan etika yang mengikat perilaku guru dalam pelaksanaan tugas keprofesionalan. &lt;br /&gt;Pasal 44 &lt;br /&gt;(1) Dewan kehormatan guru dibentuk oleh organisasi profesi guru. &lt;br /&gt;(2) Keanggotaan serta mekanisme kerja dewan kehormatan guru sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam anggaran dasar organisasi profesi guru. &lt;br /&gt;(3) Dewan kehormatan guru sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibentuk untuk mengawasi pelaksanaan kode etik guru dan memberikan rekomendasi pemberian sanksi atas pelanggaran kode etik oleh guru.&lt;br /&gt;(4) Rekomendasi dewan kehormatan profesi guru sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus objektif, tidak diskriminatif, dan tidak bertentangan dengan anggaran dasar organisasi profesi serta peraturan perundang-undangan.&lt;br /&gt;(5) Organisasi profesi guru wajib melaksanakan rekomendasi dewan kehormatan guru sebagaimana dimaksud pada ayat (3). &lt;br /&gt;BAB V &lt;br /&gt;DOSEN &lt;br /&gt;Bagian Kesatu &lt;br /&gt;Kualifikasi, Kompetensi, Sertifikasi, dan Jabatan Akademik &lt;br /&gt;Pasal 45 &lt;br /&gt;Dosen wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, dan memenuhi kualifikasi lain yang dipersyaratkan satuan pendidikan tinggi tempat bertugas, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. &lt;br /&gt;Pasal 46 &lt;br /&gt;(1) Kualifikasi akademik dosen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 diperoleh melalui pendidikan tinggi program pascasarjana yang terakreditasi sesuai dengan bidang keahlian. &lt;br /&gt;(2) Dosen memiliki kualifikasi akademik minimum: &lt;br /&gt;a. lulusan program magister untuk program diploma atau program sarjana; dan &lt;br /&gt;b. lulusan program doktor untuk program pascasarjana. &lt;br /&gt;(3) Setiap orang yang memiliki keahlian dengan prestasi luar biasa dapat diangkat menjadi dosen. &lt;br /&gt;(4) Ketentuan lain mengenai kualifikasi akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dan keahlian dengan prestasi luar biasa sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ditentukan oleh masing-masing senat akademik satuan pendidikan tinggi. &lt;br /&gt;Pasal 47 &lt;br /&gt;(1) Sertifikat pendidik untuk dosen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 diberikan setelah memenuhi syarat sebagai berikut: &lt;br /&gt;a. memiliki pengalaman kerja sebagai pendidik pada perguruan tinggi sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun; &lt;br /&gt;b. memiliki jabatan akademik sekurang-kurangnya asisten ahli; dan &lt;br /&gt;c. lulus sertifikasi yang dilakukan oleh perguruan tinggi yang menyelenggarakan program pengadaan tenaga kependidikan pada perguruan tinggi yang ditetapkan oleh Pemerintah. &lt;br /&gt;(3) Pemerintah menetapkan perguruan tinggi yang terakreditasi untuk menyelenggarakan program pengadaan tenaga kependidikan sesuai dengan kebutuhan.&lt;br /&gt;(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai sertifikat pendidik untuk dosen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan penetapan perguruan tinggi yang terakreditasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah. &lt;br /&gt;Pasal 48 &lt;br /&gt;(1) Status dosen terdiri atas dosen tetap dan dosen tidak tetap.&lt;br /&gt;(2) Jenjang jabatan akademik dosen-tetap terdiri atas asisten ahli, lektor, lektor kepala, dan profesor. &lt;br /&gt;(3) Persyaratan untuk menduduki jabatan akademik profesor harus memiliki kualifikasi akademik doktor.&lt;br /&gt;(4) Pengaturan kewenangan jenjang jabatan akademik dan dosen-tidak tetap ditetapkan oleh setiap satuan pendidikan tinggi sesuai dengan peraturan perundang-undangan. &lt;br /&gt;Pasal 49 &lt;br /&gt;(1) Profesor merupakan jabatan akademik tertinggi pada satuan pendidikan tinggi yang mempunyai kewenangan membimbing calon doktor. &lt;br /&gt;(2) Profesor memiliki kewajiban khusus menulis buku dan karya ilmiah serta menyebarluaskan gagasannya untuk mencerahkan masyarakat. &lt;br /&gt;(3)  Profesor yang memiliki karya ilmiah atau karya monumental lainnya yang sangat istimewa dalam bidangnya dan mendapat pengakuan internasional dapat diangkat menjadi profesor paripurna. &lt;br /&gt;(4) Pengaturan lebih lanjut mengenai profesor paripurna sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ditetapkan oleh setiap perguruan tinggi sesuai dengan peraturan perundang-undangan. &lt;br /&gt;Pasal 50 &lt;br /&gt;(1) Setiap orang yang memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 mempunyai kesempatan yang sama untuk menjadi dosen. &lt;br /&gt;(2) Setiap orang, yang akan diangkat menjadi dosen sebagaimana dimaksud pada ayat (1), wajib mengikuti proses seleksi. &lt;br /&gt;(3)  Setiap orang dapat diangkat secara langsung menduduki jenjang jabatan akademik tertentu berdasarkan hasil penilaian terhadap kualifikasi akademik, kompetensi, dan pengalaman yang dimiliki. &lt;br /&gt;(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai seleksi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan pengangkatan serta penetapan jenjang jabatan akademik tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ditentukan oleh setiap satuan pendidikan tinggi sesuai dengan peraturan perundang-undangan. &lt;br /&gt;Bagian Kedua &lt;br /&gt;Hak dan Kewajiban &lt;br /&gt;Pasal 51 &lt;br /&gt;(1) Dalam melaksanakan tugas keprofesionalan, dosen berhak: &lt;br /&gt;a. memperoleh penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum dan jaminan kesejahteraan sosial; &lt;br /&gt;b. mendapatkan promosi dan penghargaan sesuai dengan tugas dan prestasi kerja; &lt;br /&gt;c. memperoleh perlindungan dalam melaksanakan tugas dan hak atas kekayaan intelektual; &lt;br /&gt;d. memperoleh kesempatan untuk meningkatkan kompetensi, akses sumber belajar, informasi, sarana dan prasarana pembelajaran, serta penelitian dan pengabdian kepada masyarakat; &lt;br /&gt;e. memiliki kebebasan akademik, mimbar akademik, dan otonomi keilmuan; &lt;br /&gt;f. memiliki kebebasan dalam memberikan penilaian dan menentukan kelulusan peserta didik; dan &lt;br /&gt;g. memiliki kebebasan untuk berserikat dalam organisasi profesi/organisasi profesi keilmuan. &lt;br /&gt;(2)  Ketentuan lebih lanjut mengenai hak dosen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. &lt;br /&gt;Pasal 52 &lt;br /&gt;(1) Penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 51 ayat (1) huruf a meliputi gaji pokok, tunjangan yang melekat pada gaji, serta penghasilan lain yang berupa tunjangan profesi, tunjangan fungsional, tunjangan khusus, tunjangan kehormatan, serta maslahat tambahan yang terkait dengan tugas sebagai dosen yang ditetapkan dengan prinsip penghargaan atas dasar prestasi. &lt;br /&gt;(2)  Dosen yang diangkat oleh satuan pendidikan tinggi yang diselenggarakan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah diberi gaji sesuai dengan peraturan perundang-undangan. &lt;br /&gt;(3) Dosen yang diangkat oleh satuan pendidikan tinggi yang diselenggarakan oleh masyarakat diberi gaji berdasarkan perjanjian kerja atau kesepakatan kerja bersama. &lt;br /&gt;Pasal 53 &lt;br /&gt;(1) Pemerintah memberikan tunjangan profesi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (1) kepada dosen yang telah memiliki sertifikat pendidik yang diangkat oleh penyelenggara pendidikan dan/atau satuan pendidikan tinggi yang diselenggarakan oleh masyarakat. &lt;br /&gt;(2) Tunjangan profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setara dengan 1 (satu) kali gaji pokok dosen yang diangkat oleh Pemerintah pada tingkat, masa kerja, dan kualifikasi yang sama. &lt;br /&gt;(3) Tunjangan profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dialokasikan dalam anggaran pendapatan dan belanja negara. &lt;br /&gt;(4)  Ketentuan lebih lanjut mengenai tunjangan profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah. &lt;br /&gt;Pasal 54 &lt;br /&gt;(1) Pemerintah memberikan tunjangan fungsional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (1) kepada dosen yang diangkat oleh Pemerintah. &lt;br /&gt;(2) Pemerintah memberikan subsidi tunjangan fungsional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (1) kepada dosen yang diangkat oleh satuan pendidikan tinggi yang diselenggarakan oleh masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. &lt;br /&gt;(3) Tunjangan fungsional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dialokasikan dalam anggaran pendapatan dan belanja negara. &lt;br /&gt;Pasal 55 &lt;br /&gt;(1) Pemerintah memberikan tunjangan khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (1) kepada dosen yang bertugas di daerah khusus. &lt;br /&gt;(2) (2) Tunjangan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setara dengan 1 (satu) kali gaji pokok dosen yang diangkat oleh Pemerintah atau pemerintah daerah pada tingkat, masa kerja, dan kualifikasi yang sama. &lt;br /&gt;(3) Tunjangan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dialokasikan dalam anggaran pendapatan dan belanja negara. &lt;br /&gt;(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tunjangan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah. &lt;br /&gt;Pasal 56 &lt;br /&gt;(1) Pemerintah memberikan tunjangan kehormatan kepada profesor yang diangkat oleh penyelenggara pendidikan atau satuan pendidikan tinggi setara 2 (dua) kali gaji pokok profesor yang diangkat oleh Pemerintah pada tingkat, masa kerja, dan kualifikasi yang sama.&lt;br /&gt;(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai tunjangan kehormatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. &lt;br /&gt;Pasal 57 &lt;br /&gt;(1) Maslahat tambahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (1) merupakan tambahan kesejahteraan yang diperoleh dalam bentuk tunjangan pendidikan, asuransi pendidikan, beasiswa, dan penghargaan bagi dosen, serta kemudahan untuk memperoleh pendidikan bagi putra dan putri dosen, pelayanan kesehatan, atau bentuk kesejahteraan lain. &lt;br /&gt;(2) Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menjamin terwujudnya maslahat tambahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). &lt;br /&gt;(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai maslahat tambahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah. &lt;br /&gt;Pasal 58 &lt;br /&gt;Dosen yang diangkat oleh penyelenggara pendidikan atau satuan pendidikan tinggi yang diselenggarakan oleh masyarakat berhak memperoleh jaminan sosial tenaga kerja sesuai dengan peraturan perundang-undangan. &lt;br /&gt;Pasal 59 &lt;br /&gt;(1) Dosen yang mendalami dan mengembangkan bidang ilmu langka berhak memperoleh dana dan fasilitas khusus dari Pemerintah dan/atau pemerintah daerah. &lt;br /&gt;(2) Dosen yang diangkat oleh Pemerintah di daerah khusus, berhak atas rumah dinas yang disediakan oleh Pemerintah dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangan. &lt;br /&gt;Pasal 60 &lt;br /&gt;Dalam melaksanakan tugas keprofesionalan, dosen berkewajiban: &lt;br /&gt;a. melaksanakan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat; &lt;br /&gt;b. merencanakan, melaksanakan proses pembelajaran, serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran; &lt;br /&gt;c. meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni; &lt;br /&gt;d. bertindak objektif dan tidak diskriminatif atas dasar pertimbangan jenis kelamin, agama, suku, ras, kondisi fisik tertentu, atau latar belakang sosioekonomi peserta didik dalam pembelajaran; &lt;br /&gt;e. menjunjung tinggi peraturan perundang-undangan, hukum, dan kode etik, serta nilai-nilai agama dan etika; dan &lt;br /&gt;f. memelihara dan memupuk persatuan dan kesatuan bangsa. &lt;br /&gt;Bagian Ketiga &lt;br /&gt;Wajib Kerja dan Ikatan Dinas &lt;br /&gt;Pasal 61 &lt;br /&gt;(1) Dalam keadaan darurat Pemerintah dapat memberlakukan ketentuan wajib kerja kepada dosen dan/atau warga negara Indonesia lain yang memenuhi kualifikasi akademik dan kompetensi untuk melaksanakan tugas sebagai dosen di daerah khusus. &lt;br /&gt;(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai penugasan warga negara Indonesia sebagai dosen dalam keadaan darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. &lt;br /&gt;Pasal 62 &lt;br /&gt;(1) Pemerintah dapat menetapkan pola ikatan dinas bagi calon dosen untuk memenuhi kepentingan pembangunan pendidikan nasional, atau untuk memenuhi kepentingan pembangunan daerah.&lt;br /&gt;(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai pola ikatan dinas bagi calon dosen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bagian Keempat &lt;br /&gt;Pengangkatan, Penempatan, Pemindahan, dan Pemberhentian &lt;br /&gt;Pasal 63 &lt;br /&gt;(1) Pengangkatan dan penempatan dosen pada satuan pendidikan tinggi dilakukan secara objektif dan transparan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.&lt;br /&gt;(2) Pengangkatan dan penempatan dosen pada satuan pendidikan tinggi yang diselenggarakan oleh Pemerintah diatur dengan Peraturan Pemerintah. &lt;br /&gt;(3) Pengangkatan dan penempatan dosen pada satuan pendidikan tinggi yang diselenggarakan oleh masyarakat dilakukan oleh penyelenggara pendidikan atau satuan pendidikan tinggi yang bersangkutan berdasarkan perjanjian kerja atau kesepakatan kerja bersama.&lt;br /&gt;(4) Pemerintah dan pemerintah daerah wajib memfasilitasi satuan pendidikan tinggi yang diselenggarakan oleh masyarakat untuk menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu. &lt;br /&gt;Pasal 64 &lt;br /&gt;(1) Dosen yang diangkat oleh Pemerintah dapat ditempatkan pada jabatan struktural sesuai dengan peraturan perundang-undangan. &lt;br /&gt;(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai penempatan dosen yang diangkat oleh Pemerintah pada jabatan struktural sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. &lt;br /&gt;Pasal 65 &lt;br /&gt;Tenaga kerja asing yang dipekerjakan sebagai dosen pada satuan pendidikan tinggi di Indonesia wajib mematuhi peraturan perundang-undangan. &lt;br /&gt;Pasal 66 &lt;br /&gt;Pemindahan dosen pada satuan pendidikan tinggi yang diselenggarakan oleh masyarakat diatur oleh penyelenggara pendidikan berdasarkan perjanjian kerja atau kesepakatan kerja bersama. &lt;br /&gt;Pasal 67 &lt;br /&gt;(1) Dosen dapat diberhentikan dengan hormat dari jabatannya karena: &lt;br /&gt;a. meninggal dunia; &lt;br /&gt;b. telah mencapai batas usia pensiun; &lt;br /&gt;c. atas permintaan sendiri; &lt;br /&gt;d. tidak dapat melaksanakan tugas secara terus-menerus selama 12 (dua belas) bulan karena sakit jasmani dan/atau rohani; atau &lt;br /&gt;e. berakhirnya perjanjian kerja atau kesepakatan kerja bersama antara dosen dan penyelenggara pendidikan. &lt;br /&gt;(2) Dosen dapat diberhentikan tidak dengan hormat dari jabatannya karena: &lt;br /&gt;a. melanggar sumpah dan janji jabatan; &lt;br /&gt;b. melanggar perjanjian kerja atau kesepakatan kerja bersama; atau &lt;br /&gt;c. melalaikan kewajiban dalam menjalankan tugas selama 1 (satu) bulan atau lebih secara terus-menerus. &lt;br /&gt;(3) Pemberhentian dosen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilakukan oleh penyelenggara pendidikan atau satuan pendidikan tinggi yang bersangkutan berdasarkan peraturan perundang-undangan. &lt;br /&gt;(4) Pemberhentian dosen karena batas usia pensiun sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dilakukan pada usia 65 (enam puluh lima) tahun.&lt;br /&gt;(5) Profesor yang berprestasi dapat diperpanjang batas usia pensiunnya sampai 70 (tujuh puluh) tahun. &lt;br /&gt;(6) Dosen yang diangkat oleh Pemerintah yang diberhentikan dari jabatannya, kecuali sebagaimana dimaksud ayat (1) huruf a dan huruf b, tidak dengan sendirinya diberhentikan sebagai pegawai negeri sipil. &lt;br /&gt;Pasal 68 &lt;br /&gt;(1) Pemberhentian dosen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 67 ayat (2) dapat dilakukan setelah dosen yang bersangkutan diberikan kesempatan untuk membela diri. &lt;br /&gt;(2) Dosen pada satuan pendidikan tinggi yang diselenggarakan oleh masyarakat yang diberhentikan dengan hormat tidak atas permintaan sendiri memperoleh kompensasi finansial sesuai dengan perjanjian kerja atau kesepakatan kerja bersama. &lt;br /&gt;Bagian Kelima &lt;br /&gt;Pembinaan dan Pengembangan &lt;br /&gt;Pasal 69 &lt;br /&gt;(1) Pembinaan dan pengembangan dosen meliputi pembinaan dan pengembangan profesi dan karier.&lt;br /&gt;(2) Pembinaan dan pengembangan profesi dosen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. &lt;br /&gt;(3) Pembinaan dan pengembangan profesi dosen dilakukan melalui jabatan fungsional. &lt;br /&gt;(4) Pembinaan dan pengembangan karier dosen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi penugasan, kenaikan pangkat, dan promosi. &lt;br /&gt;Pasal 70 &lt;br /&gt;Kebijakan strategis pembinaan dan pengembangan profesi dan karier dosen pada satuan pendidikan tinggi yang diselenggarakan oleh Pemerintah atau masyarakat ditetapkan dengan peraturan Menteri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 71 &lt;br /&gt;(1) Pemerintah wajib membina dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi dosen pada satuan pendidikan tinggi yang diselenggarakan oleh Pemerintah dan/atau masyarakat. &lt;br /&gt;(2) Satuan pendidikan tinggi yang diselenggarakan oleh masyarakat wajib membina dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi dosen. &lt;br /&gt;(3) Pemerintah wajib memberikan anggaran untuk meningkatkan profesionalitas dan pengabdian dosen pada satuan pendidikan tinggi yang diselenggarakan oleh Pemerintah dan/atau masyarakat. &lt;br /&gt;Pasal 72 &lt;br /&gt;(1) Beban kerja dosen mencakup kegiatan pokok yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran, melakukan evaluasi pembelajaran, membimbing dan melatih, melakukan penelitian, melakukan tugas tambahan, serta melakukan pengabdian kepada masyarakat. &lt;br /&gt;(2) Beban kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya sepadan dengan 12 (dua belas) satuan kredit semester (SKS) dan sebanyak-banyaknya 16 (enam belas) satuan kredit semester. &lt;br /&gt;(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai beban kerja dosen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur oleh setiap satuan pendidikan tinggi sesuai dengan peraturan perundang-undangan. &lt;br /&gt;Bagian Keenam &lt;br /&gt;Penghargaan &lt;br /&gt;Pasal 73 &lt;br /&gt;(1) Dosen yang berprestasi, berdedikasi luar biasa, dan/atau bertugas di daerah khusus berhak memperoleh penghargaan. &lt;br /&gt;(2) Dosen yang gugur dalam melaksanakan tugas di daerah khusus memperoleh penghargaan dari Pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau masyarakat. &lt;br /&gt;Pasal 74 &lt;br /&gt;(1) Penghargaan dapat diberikan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat, organisasi profesi keilmuan, dan/atau satuan pendidikan tinggi. &lt;br /&gt;(2) Penghargaan dapat diberikan pada tingkat satuan pendidikan tinggi, tingkat kabupaten/kota, tingkat provinsi, tingkat nasional, dan/atau tingkat internasional. &lt;br /&gt;(3) Penghargaan dapat diberikan dalam bentuk tanda jasa, kenaikan pangkat istimewa, finansial, piagam, dan/atau bentuk penghargaan lain. &lt;br /&gt;(4)  Penghargaan kepada dosen dilaksanakan dalam rangka memperingati hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia, hari ulang tahun provinsi, hari ulang tahun kabupaten/kota, hari ulang tahun satuan pendidikan tinggi, hari pendidikan nasional, dan/atau hari besar lain. &lt;br /&gt;(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai pemberian penghargaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) diatur dengan Peraturan Pemerintah. &lt;br /&gt;Bagian Ketujuh &lt;br /&gt;Perlindungan &lt;br /&gt;Pasal 75 &lt;br /&gt;(1) Pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat, organisasi profesi, dan/atau satuan pendidikan tinggi wajib memberikan perlindungan terhadap dosen dalam pelaksanaan tugas. &lt;br /&gt;(2) Perlindungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi perlindungan hukum, perlindungan profesi, serta perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja. &lt;br /&gt;(3) Perlindungan hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mencakup perlindungan terhadap tindak kekerasan, ancaman, perlakuan diskriminatif, intimidasi, atau perlakuan tidak adil dari pihak peserta didik, orang tua peserta didik, masyarakat, birokrasi, dan/atau pihak lain.&lt;br /&gt;(4) Perlindungan profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mencakup perlindungan terhadap pelaksanaan tugas dosen sebagai tenaga profesional yang meliputi pemutusan hubungan kerja yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan, pemberian imbalan yang tidak wajar, pembatasan kebebasan akademik, mimbar akademik, dan otonomi keilmuan, serta pembatasan/pelarangan lain yang dapat menghambat dosen dalam pelaksanaan tugas.&lt;br /&gt;(5) Perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (2) meliputi perlindungan terhadap risiko gangguan keamanan kerja, kecelakaan kerja, kebakaran pada waktu kerja, bencana alam, kesehatan lingkungan kerja, dan/atau risiko lain.&lt;br /&gt;(6) Dalam rangka kegiatan akademik, dosen mendapat perlindungan untuk menggunakan data dan sumber yang dikategorikan terlarang oleh peraturan perundang-undangan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bagian Kedelapan &lt;br /&gt;Cuti &lt;br /&gt;Pasal 76 &lt;br /&gt;(1) Dosen memperoleh cuti sesuai dengan peraturan perundang-undangan. &lt;br /&gt;(2) Dosen memperoleh cuti untuk studi dan penelitian atau untuk pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni dengan memperoleh hak gaji penuh.&lt;br /&gt;(3)  Ketentuan lebih lanjut mengenai cuti sebagaimana dimaksud pada pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah. &lt;br /&gt;BAB VI &lt;br /&gt;SANKSI &lt;br /&gt;Pasal 77 &lt;br /&gt;(1) Guru yang diangkat oleh Pemerintah atau pemerintah daerah yang tidak menjalankan kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 dikenai sanksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan. &lt;br /&gt;(2) Sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa: &lt;br /&gt;a. teguran; &lt;br /&gt;b. peringatan tertulis; &lt;br /&gt;c. penundaan pemberian hak guru; &lt;br /&gt;d. penurunan pangkat; &lt;br /&gt;e. pemberhentian dengan hormat; atau &lt;br /&gt;f. pemberhentian tidak dengan hormat. &lt;br /&gt;(3) Guru yang berstatus ikatan dinas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 yang tidak melaksanakan tugas sesuai dengan perjanjian kerja atau kesepakatan kerja bersama diberi sanksi sesuai dengan perjanjian ikatan dinas. &lt;br /&gt;(4) Guru yang diangkat oleh penyelenggara pendidikan atau satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat, yang tidak menjalankan kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 dikenai sanksi sesuai dengan perjanjian kerja atau kesepakatan kerja bersama. &lt;br /&gt;(5) Guru yang melakukan pelanggaran kode etik dikenai sanksi oleh organisasi profesi. &lt;br /&gt;(6) Guru yang dikenai sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4), dan ayat (5) mempunyai hak membela diri. &lt;br /&gt;Pasal 78 &lt;br /&gt;(1) Dosen yang diangkat oleh Pemerintah yang tidak menjalankan kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60 dikenai sanksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan.&lt;br /&gt;(2) Sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa: &lt;br /&gt;a. teguran; &lt;br /&gt;b. peringatan tertulis; &lt;br /&gt;c. penundaan pemberian hak dosen; &lt;br /&gt;d. penurunan pangkat dan jabatan akademik; &lt;br /&gt;e. pemberhentian dengan hormat; atau &lt;br /&gt;f. pemberhentian tidak dengan hormat. &lt;br /&gt;(3) Dosen yang diangkat oleh penyelenggara pendidikan atau satuan pendidikan tinggi yang diselenggarakan oleh masyarakat yang tidak menjalankan kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60 dikenai sanksi sesuai dengan perjanjian kerja atau kesepakatan kerja bersama.&lt;br /&gt;(4) Dosen yang berstatus ikatan dinas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 62 yang tidak melaksanakan tugas sesuai dengan perjanjian kerja atau kesepakatan kerja bersama diberi sanksi sesuai dengan perjanjian ikatan dinas. &lt;br /&gt;(5) Dosen yang dikenai sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) mempunyai hak membela diri. &lt;br /&gt;Pasal 79 &lt;br /&gt;(1) Penyelenggara pendidikan atau satuan pendidikan yang melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24, Pasal 34, Pasal 39, Pasal 63 ayat (4), Pasal 71, dan Pasal 75 diberi sanksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan. &lt;br /&gt;(2) Sanksi bagi penyelenggara pendidikan berupa: &lt;br /&gt;a. teguran; &lt;br /&gt;b. peringatan tertulis; &lt;br /&gt;c. pembatasan kegiatan penyelenggaraan satuan pendidikan; atau &lt;br /&gt;d. pembekuan kegiatan penyelenggaraan satuan pendidikan. &lt;br /&gt;BAB VII &lt;br /&gt;KETENTUAN PERALIHAN &lt;br /&gt;Pasal 80 &lt;br /&gt;(1) Pada saat mulai berlakunya Undang-Undang ini: &lt;br /&gt;a. guru yang belum memiliki sertifikat pendidik memperoleh tunjangan fungsional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) dan ayat (2) dan memperoleh maslahat tambahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (2) paling lama 10 (sepuluh) tahun, atau guru yang bersangkutan telah memenuhi kewajiban memiliki sertifikat pendidik. &lt;br /&gt;b. dosen yang belum memiliki sertifikat pendidik memperoleh tunjangan fungsional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54 ayat (1) dan ayat (2) dan memperoleh maslahat tambahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 57 ayat (2) paling lama 10 (sepuluh) tahun, atau dosen yang bersangkutan telah memenuhi kewajiban memiliki sertifikat pendidik. &lt;br /&gt;(2) Tunjangan fungsional dan maslahat tambahan bagi guru dan dosen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dialokasikan dalam anggaran pendapatan dan belanja negara dan anggaran pendapatan dan belanja daerah. &lt;br /&gt;Pasal 81 &lt;br /&gt;Semua peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan guru dan dosen tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan atau belum diganti dengan peraturan baru berdasarkan Undang-Undang ini. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;BAB VIII &lt;br /&gt;KETENTUAN PENUTUP &lt;br /&gt;Pasal 82 &lt;br /&gt;(1) Pemerintah mulai melaksanakan program sertifikasi pendidik paling lama dalam waktu 12 (dua belas) bulan terhitung sejak berlakunya Undang-Undang ini. &lt;br /&gt;(2) Guru yang belum memiliki kualifikasi akademik dan sertifikat pendidik sebagaimana dimaksud pada Undang-Undang ini wajib memenuhi kualifikasi akademik dan sertifikat pendidik paling lama 10 (sepuluh) tahun sejak berlakunya Undang-Undang ini. &lt;br /&gt;Pasal 83 &lt;br /&gt;Semua peraturan perundang-undangan yang diperlukan untuk melaksanakan Undang-Undang ini harus diselesaikan selambat-lambatnya 18 (delapan belas) bulan sejak berlakunya Undang-Undang ini. &lt;br /&gt;Pasal 84 &lt;br /&gt;Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. &lt;br /&gt;Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. &lt;br /&gt;Disahkan di Jakarta &lt;br /&gt;pada tanggal ---- &lt;br /&gt;PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;SOESILO BAMBANG YUDHOYONO &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diundangkan di Jakarta &lt;br /&gt;Pada tanggal ---- &lt;br /&gt;MENTERI HUKUM DAN HAM &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;HAMID AWALUDIN &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN ........... NOMOR ............. &lt;br /&gt;________________________________________&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;DEWAN PERWAKILAN RAKYAT&lt;br /&gt;       REPUBLIK INDONESIA          &lt;br /&gt;PENJELASAN &lt;br /&gt;ATAS &lt;br /&gt;UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA &lt;br /&gt;NOMOR ……….. TAHUN ……… &lt;br /&gt;TENTANG &lt;br /&gt;GURU DAN DOSEN &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;I. UMUM &lt;br /&gt;Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menyatakan bahwa tujuan nasional adalah untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Untuk mewujudkan tujuan nasional tersebut, pendidikan merupakan faktor yang sangat menentukan. Selanjutnya, Pasal 31 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 mengamanatkan bahwa (1) setiap warga negara berhak mendapat pendidikan; (2) Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan suatu sistem pendidikan nasional yang diatur dalam undang-undang; (3) Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya; (4) Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang; (5) Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20% (dua puluh persen) dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional. &lt;br /&gt;Salah satu amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 tersebut kemudian diatur lebih lanjut dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang memiliki visi terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. &lt;br /&gt;Kualitas manusia yang dibutuhkan oleh bangsa Indonesia pada masa yang akan datang adalah yang mampu menghadapi persaingan yang semakin ketat dengan bangsa lain di dunia. Kualitas manusia Indonesia tersebut dihasilkan melalui penyelenggaraan pendidikan yang bermutu. Oleh karena itu, guru dan dosen mempunyai fungsi, peran, dan kedudukan yang sangat strategis. Pasal 39 Ayat (2) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa pendidik merupakan tenaga profesional. Kedudukan guru dan dosen sebagai tenaga profesional mempunyai visi terwujudnya penyelenggaraan pembelajaran sesuai dengan prinsip-prinsip profesionalitas untuk memenuhi hak yang sama bagi setiap warga negara dalam memperoleh pendidikan yang bermutu. &lt;br /&gt;Berdasarkan uraian di atas, pengakuan kedudukan guru dan dosen sebagai tenaga profesional mempunyai misi untuk melaksanakan tujuan Undang-Undang ini sebagai berikut: &lt;br /&gt;1. mengangkat martabat guru dan dosen; &lt;br /&gt;2. menjamin hak dan kewajiban guru dan dosen; &lt;br /&gt;3. meningkatkan kompetensi guru dan dosen; &lt;br /&gt;4. memajukan profesi serta karier guru dan dosen; &lt;br /&gt;5. meningkatkan mutu pembelajaran; &lt;br /&gt;6. meningkatkan mutu pendidikan nasional; &lt;br /&gt;7. mengurangi kesenjangan ketersediaan guru dan dosen antardaerah dari segi jumlah, mutu, kualifikasi akademik, dan kompetensi; &lt;br /&gt;8. mengurangi kesenjangan mutu pendidikan antardaerah; dan &lt;br /&gt;9. meningkatkan pelayanan pendidikan yang bermutu. &lt;br /&gt;Berdasarkan visi dan misi tersebut, kedudukan guru sebagai tenaga profesional berfungsi untuk meningkatkan martabat guru serta perannya sebagai agen pembelajaran untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional, sedangkan kedudukan dosen sebagai tenaga profesional berfungsi untuk meningkatkan martabat dosen serta mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional. &lt;br /&gt;Sejalan dengan fungsi tersebut, kedudukan guru dan dosen sebagai tenaga profesional bertujuan untuk melaksanakan sistem pendidikan nasional dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yakni berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. &lt;br /&gt;Untuk meningkatkan penghargaan terhadap tugas guru dan dosen, kedudukan guru dan dosen pada jenjang pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi perlu dikukuhkan dengan pemberian sertifikat pendidik. Sertifikat tersebut merupakan pengakuan atas kedudukan guru dan dosen sebagai tenaga profesional. Dalam melaksanakan tugasnya, guru dan dosen harus memperoleh penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum sehingga memiliki kesempatan untuk meningkatkan kemampuan profesionalnya. &lt;br /&gt;Selain itu, perlu juga diperhatikan upaya-upaya memaksimalkan fungsi dan peran strategis guru dan dosen yang meliputi penegakan hak dan kewajiban guru dan dosen sebagai tenaga profesional, pembinaan dan pengembangan profesi guru dan dosen; perlindungan hukum, perlindungan profesi, serta perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja. &lt;br /&gt;Berdasarkan visi, misi, dan pertimbangan-pertimbangan di atas diperlukan strategi yang meliputi: &lt;br /&gt;1. penyelenggaraan sertifikasi pendidik berdasarkan kualifikasi akademik dan kompetensi profesional; &lt;br /&gt;2. pemenuhan hak dan kewajiban guru dan dosen sebagai tenaga profesional yang sesuai dengan prinsip profesionalitas; &lt;br /&gt;3. penyelenggaraan kebijakan strategis dalam pengangkatan, penempatan, pemindahan, dan pemberhentian guru dan dosen sesuai dengan kebutuhan, baik jumlah, kualifikasi akademik, maupun kompetensi yang dilakukan secara merata, objektif, dan transparan untuk menjamin keberlangsungan pendidikan; &lt;br /&gt;4. penyelenggaraan kebijakan strategis dalam pembinaan dan pengembangan profesi guru dan dosen untuk meningkatkan profesionalitas dan pengabdian para guru dan dosen; &lt;br /&gt;5. peningkatan pemberian penghargaan dan jaminan perlindungan terhadap guru dan dosen dalam pelaksanaan tugas profesional; &lt;br /&gt;6. peningkatan peran organisasi profesi untuk menjaga dan meningkatkan kehormatan dan martabat guru dan dosen dalam pelaksanaan tugas sebagai tenaga profesional; &lt;br /&gt;7. penguatan kesetaraan antara guru dan dosen yang bertugas pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah dan pemerintah daerah dengan guru dan dosen yang bertugas pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat; &lt;br /&gt;8. penguatan tanggung jawab dan kewajiban Pemerintah dan pemerintah daerah dalam merealisasikan pencapaian anggaran pendidikan untuk memenuhi hak dan kewajiban guru dan dosen sebagai tenaga profesional; dan &lt;br /&gt;9. peningkatan peran serta masyarakat dalam memenuhi hak dan kewajiban guru dan dosen. &lt;br /&gt;Pengakuan kedudukan guru dan dosen sebagai tenaga profesional merupakan bagian dari pembaharuan sistem pendidikan nasional yang pelaksanaannya memperhatikan berbagai ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang pendidikan, kepegawaian, ketenagakerjaan, keuangan, dan pemerintahan daerah. &lt;br /&gt;Sehubungan dengan hal itu, diperlukan pengaturan tentang kedudukan guru dan dosen sebagai tenaga profesional dalam suatu Undang-Undang tentang Guru dan Dosen. &lt;br /&gt;II. PASAL DEMI PASAL &lt;br /&gt;Pasal 1 &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 2 &lt;br /&gt;Ayat (1) &lt;br /&gt;Guru sebagai tenaga profesional mengandung arti bahwa pekerjaan guru hanya dapat dilakukan oleh seseorang yang mempunyai kualifikasi akademik, kompetensi, dan sertifikat pendidik sesuai dengan persyaratan untuk setiap jenis dan jenjang pendidikan tertentu. &lt;br /&gt;Ayat (2) &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 3 &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 4 &lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan guru sebagai agen pembelajaran (learning agent) adalah peran guru antara lain sebagai fasilitator, motivator, pemacu, perekayasa pembelajaran, dan pemberi inspirasi belajar bagi peserta didik. &lt;br /&gt;Pasal 5 &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 6 &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 7 &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 8 &lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan sehat jasmani dan rohani adalah kondisi kesehatan fisik dan mental yang memungkinkan guru dapat melaksanakan tugas dengan baik. Kondisi kesehatan fisik dan mental tersebut tidak ditujukan kepada penyandang cacat. &lt;br /&gt;Pasal 9 &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 10 &lt;br /&gt;Ayat (1) &lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik. &lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap, berakhlak mulia, arif, dan berwibawa serta menjadi teladan peserta didik. &lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan kompetensi profesional adalah kemampuan penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam. &lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan kompetensi sosial adalah kemampuan guru untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan efisien dengan peserta didik, sesama guru, orangtua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar. &lt;br /&gt;Ayat (2) &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 11 &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 12 &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 13 &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 14 &lt;br /&gt;Ayat (1) &lt;br /&gt;huruf a &lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum adalah pendapatan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup guru dan keluarganya secara wajar, baik sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan, rekreasi, dan jaminan hari tua. &lt;br /&gt;huruf b &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;huruf c &lt;br /&gt;Cukup jelas &lt;br /&gt;huruf d &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;huruf e &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;huruf f &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;huruf g &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;huruf h &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;huruf i &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;huruf j &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;huruf k &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Ayat (2) &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 15 &lt;br /&gt;Ayat (1) &lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan gaji pokok adalah satuan penghasilan yang ditetapkan berdasarkan pangkat, golongan, dan masa kerja. &lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan tunjangan yang melekat pada gaji adalah tambahan penghasilan sebagai komponen kesejahteraan yang ditentukan berdasarkan jumlah tanggungan keluarga. &lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan tunjangan profesi adalah tunjangan yang diberikan kepada guru yang memiliki sertifikat pendidik sebagai penghargaan atas profesionalitasnya. &lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan tunjangan khusus adalah tunjangan yang diberikan kepada guru sebagai kompensasi atas kesulitan hidup yang dihadapi dalam melaksanakan tugas di daerah khusus. &lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan maslahat tambahan adalah tambahan kesejahteraan yang diperoleh dalam bentuk asuransi, pelayanan kesehatan, atau bentuk kesejahteraan lain. &lt;br /&gt;Ayat (2) &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Ayat (3) &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 16 &lt;br /&gt;Ayat (1) &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Ayat (2) &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Ayat (3) &lt;br /&gt;Tunjangan profesi dapat diperhitungkan sebagai bagian dari anggaran pendidikan selain gaji pendidik dan anggaran pendidikan kedinasan untuk memenuhi ketentuan dalam Pasal 49 ayat (1) dan ayat (4) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. &lt;br /&gt;Ayat (4) &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 17 &lt;br /&gt;Ayat (1) &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Ayat (2) &lt;br /&gt;Cukup jelas &lt;br /&gt;Ayat (3) &lt;br /&gt;Tunjangan fungsional dapat diperhitungkan sebagai bagian dari anggaran pendidikan selain gaji pendidik dan anggaran pendidikan kedinasan untuk memenuhi ketentuan dalam Pasal 49 ayat (1) dan ayat (4) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. &lt;br /&gt;Pasal 18 &lt;br /&gt;Ayat (1) &lt;br /&gt;Tunjangan khusus dapat diperhitungkan sebagai bagian dari anggaran pendidikan selain gaji pendidik dan anggaran pendidikan kedinasan untuk memenuhi ketentuan dalam Pasal 49 ayat (1) dan ayat (4) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. &lt;br /&gt;Ayat (2) &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Ayat (3) &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Ayat (4) &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 19 &lt;br /&gt;Ayat (1) &lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan kemudahan untuk memperoleh pendidikan bagi putra-putri guru adalah berupa kesempatan dan keringanan biaya pendidikan bagi putra-putri guru yang telah memenuhi syarat-syarat akademik untuk menempuh pendidikan dalam satuan pendidikan tertentu. &lt;br /&gt;Ayat (2) &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Ayat (3) &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 20 &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 21 &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 22 &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 23 &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 24 &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 25 &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 26 &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 27 &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 28 &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 29 &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 30 &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 31 &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 32 &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 33 &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 34 &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 35 &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 36 &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 37 &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 38 &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 39 &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 40 &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 41 &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 42 &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 43 &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 44 &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 45 &lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan sehat jasmani dan rohani adalah kondisi kesehatan fisik dan mental yang memungkinkan dosen dapat melaksanakan tugas dengan baik. Kondisi kesehatan fisik dan mental tersebut tidak ditujukan kepada penyandang cacat. &lt;br /&gt;Pasal 46 &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 47 &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 48 &lt;br /&gt;Ayat (1) &lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan dosen tetap adalah dosen yang bekerja penuh waktu yang berstatus sebagai tenaga pendidik tetap pada satuan pendidikan tinggi tertentu. &lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan dosen tidak tetap adalah dosen yang bekerja paruh waktu yang berstatus sebagai tenaga pendidik tidak tetap pada satuan pendidikan tinggi tertentu. &lt;br /&gt;Ayat (2) &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Ayat (3) &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Ayat (4) &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 49 &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 50 &lt;br /&gt;Ayat (1) &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Ayat (2) &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Ayat (3) &lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan secara langsung adalah tanpa berjenjang. &lt;br /&gt;Ayat (4) &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 51 &lt;br /&gt;Ayat (1) &lt;br /&gt;huruf a &lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum adalah pendapatan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup dosen dan keluarganya secara wajar, baik sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan, rekreasi, dan jaminan hari tua. &lt;br /&gt;huruf b &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;huruf c &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;huruf d &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;huruf e &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;huruf f &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;huruf g &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Ayat (2) &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 52 &lt;br /&gt;Ayat (1) &lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan gaji pokok adalah satuan penghasilan yang ditetapkan berdasarkan pangkat, golongan, dan masa kerja. &lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan tunjangan yang melekat pada gaji adalah tambahan penghasilan sebagai komponen kesejahteraan yang ditentukan berdasarkan jumlah tanggungan keluarga. &lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan tunjangan profesi adalah tunjangan yang diberikan kepada dosen yang memiliki sertifikat pendidik sebagai penghargaan atas profesionalitasnya. &lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan tunjangan khusus adalah tunjangan yang diberikan kepada dosen sebagai kompensasi atas kesulitan hidup yang dihadapi dalam melaksanakan tugas di daerah khusus. &lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan maslahat tambahan adalah tambahan kesejahteraan yang diperoleh dalam bentuk asuransi, pelayanan kesehatan, atau bentuk kesejahteraan lain. &lt;br /&gt;Ayat (2) &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Ayat (3) &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 53 &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 54 &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 55 &lt;br /&gt;Ayat (1) &lt;br /&gt;Lihat penjelasan Pasal 18 ayat (3) &lt;br /&gt;Ayat (2) &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Ayat (3) &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Ayat (4) &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 56 &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 57 &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 58 &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 59 &lt;br /&gt;Ayat (1) &lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan bidang ilmu yang langka adalah ilmu yang sangat khas, memiliki tingkat kesulitan tinggi, dan/atau mempunyai nilai-nilai strategis serta tidak banyak diminati. &lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan dana dan fasilitas khusus adalah alokasi anggaran dan kemudahan yang diperuntukkan dosen yang mendalami ilmu langka tersebut. &lt;br /&gt;Ayat (2) &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 60 &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 61 &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 62 &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 63 &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 64 &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 65 &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 66 &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 67 &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 68 &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 69 &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 70 &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 71 &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 72 &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 73 &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 74 &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 75 &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 76 &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 77 &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 78 &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 79 &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 80 &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 81 &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 82 &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 83 &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 84 &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN – NOMOR – &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1131593786029234853-882608003231882584?l=biocyberway.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://biocyberway.blogspot.com/feeds/882608003231882584/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1131593786029234853&amp;postID=882608003231882584&amp;isPopup=true' title='19 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1131593786029234853/posts/default/882608003231882584'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1131593786029234853/posts/default/882608003231882584'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://biocyberway.blogspot.com/2009/12/undang-undang-guru-dan-dosen.html' title='UNDANG-UNDANG GURU DAN DOSEN'/><author><name>van210</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05491969756456454186</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='10' src='http://2.bp.blogspot.com/_GHP-NEyWtGY/SlQ03NZ_xuI/AAAAAAAAABQ/meC2CAfV4bc/s1600-R/van2.jpg'/></author><thr:total>19</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1131593786029234853.post-4021119116253278201</id><published>2009-12-06T20:11:00.000+07:00</published><updated>2009-12-06T20:14:16.405+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pengembangan diri'/><title type='text'>PENGEMBANGAN DIRI</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt; BAB I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.  LANDASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 1 butir 6 yang mengemukakan bahwa konselor adalah pendidik, Pasal 3 bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik, dan Pasal 4 ayat (4) bahwa pendidikan diselenggarakan dengan memberi keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran, dan Pasal 12 Ayat (1b) yang menyatakan bahwa setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Pasal 5 s.d Pasal 18 tentang standar isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, yang memuat pengembangan diri peserta didik dalam struktur kurikulum setiap satuan pendidikan difasilitasi dan/atau dibimbing oleh konselor, guru, atau tenaga kependidikan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Dasar Standarisasi Profesi Konseling yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Tahun 2004 untuk memberi arah pengembangan profesi konseling di sekolah dan di luar sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.  PENGERTIAN&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Pengembangan diri merupakan kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran sebagai  bagian integral dari kurikulum sekolah/madrasah. Kegiatan pengembangan diri merupakan upaya pembentukan watak dan kepribadian peserta didik yang dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling  berkenaan dengan masalah pribadi dan kehidupan sosial, kegiatan belajar, dan pengembangan karir, serta kegiatan ekstra kurikuler. Di samping itu, untuk satuan pendidikan kejuruan, kegiatan pengembangan diri, khususnya pelayanan konseling ditujukan guna pengembangan kreativitas dan karir. Untuk satuan pendidikan khusus, pelayanan konseling menekankan peningkatan kecakapan hidup sesuai dengan kebutuhan khusus peserta didik.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;    Kegiatan pengembangan diri berupa pelayanan konseling difasilitasi/ dilaksanakan oleh konselor, dan kegiatan ekstra kurikuler dapat dibina oleh konselor, guru dan atau tenaga kependidikan lain sesuai dengan kemampuan dan kewenangnya. Pengembangan diri yang dilakukan dalam bentuk kegiatan pelayanan konseling dan kegiatan ekstra kurikuler dapat megembangankan kompetensi dan kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari peserta didik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. TUJUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Tujuan Umum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat,  minat, kondisi dan perkembangan peserta didik, dengan memperhatikan kondisi sekolah/madrasah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tujuan Khusus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Pengembangan diri bertujuan menunjang pendidikan peserta didik dalam mengembangkan:&lt;br /&gt;  a.  Bakat &lt;br /&gt;  b.  Minat&lt;br /&gt;  c.   Kreativitas&lt;br /&gt;  d.  Kompetensi dan kebiasaan dalam kehidupan&lt;br /&gt;  e.  Kemampuan kehidupan keagamaan&lt;br /&gt;  f.   Kemampuan sosial&lt;br /&gt;  g.  Kemampuan belajar&lt;br /&gt;  h.  Wawasan dan perencanaan karir&lt;br /&gt;  i.  Kemampuan pemecahan masalah&lt;br /&gt;       j.   Kemandirian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. RUANG LINGKUP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pengembangan diri meliputi kegiatan terprogram dan tidak terprogram. Kegiatan terprogram direncanakan secara khusus dan diikuti oleh peserta didik sesuai dengan kebutuhan dan kondisi pribadinya. Kegitan tidak terprogram dilaksanakan secara lansung oleh pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah/madrasah yang diikuti oleh semua peserta didik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan terprogram terdiri atas dua komponen: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pelayanan konseling, meliputi pengembangan: &lt;br /&gt;a.  kehidupan pribadi&lt;br /&gt;b.  kemampuan sosial&lt;br /&gt;c.  kemampuan belajar&lt;br /&gt;d.  wawasan dan perencanaan karir&lt;br /&gt;2. Ekstra kurikuler, meliputi kegiatan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.  kepramukaan&lt;br /&gt;b.  latihan kepemimpinan, ilmiah remaja, palang merah remaja&lt;br /&gt;c.  seni, olahraga, cinta alam, jurnalistik, teater, keagamaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E.  BENTUK-BENTUK PELAKSANAAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kegiatan pengembangan diri secara terprogram dilaksanakan dengan perencanaan khusus dalam kurun waktu tertentu untuk memenuhi kebutuhan peserta didik secara individual,  kelompok, dan atau klasikal melalui penyelenggaraan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. layanan dan kegiatan pendukung konseling&lt;br /&gt;b. kegiatan ekstra kurikuler.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kegiatan  pengembangan diri secara tidak terprogram dapat dilaksanakan sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Rutin, yaitu kegiatan yang dilakukan terjadwal, seperti: upacara bendera, senam, ibadah khusus keagamaan bersama, keberaturan, pemeliharaan kebersihan dan kesehatan diri.&lt;br /&gt;b. Spontan, adalah kegiatan  tidak terjadwal dalam kejadian khusus seperti: pembentukan perilaku memberi salam, membuang sampah pada tempatnya, antri, mengatasi silang pendapat (pertengkaran).&lt;br /&gt;c. Keteladanan, adalah kegiatan dalam bentuk perilaku sehari-hari seperti:   berpakaian rapi, berbahasa yang baik, rajin membaca, memuji kebaikan dan atau keberhasilan orang lain, datang tepat waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENGEMBANGAN DIRI&lt;br /&gt;MELALUI PELAYANAN KONSELING&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.  STRUKTUR PELAYANAN KONSELING  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pelayanan konseling di sekolah/madrasah  merupakan usaha membantu peserta didik   dalam pengembangan kehidupan pribadi, kehidupan sosial, kegiatan belajar, serta perencanaan dan pengembangan karir. Pelayanan konseling  memfasilitasi pengembangan peserta didik, secara individual, kelompok dan atau klasikal, sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, minat, perkembangan, kondisi, serta peluang-peluang yang dimiliki. Pelayanan ini juga membantu mengatasi kelemahan dan hambatan serta masalah yang dihadapi peserta didik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pengertian Konseling&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik, baik secara perorangan maupun kelompok, agar mampu mandiri dan berkembang secara optimal, dalam bidang pengembangan kehidupan pribadi, kehidupan sosial, kemampuan belajar, dan perencanaan karir, melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung, berdasarkan norma-norma yang berlaku.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Paradigma, Visi, dan Misi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Paradigma &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paradigma konseling adalah pelayanan bantuan psiko-pendidikan dalam bingkai budaya.  Artinya, pelayanan konseling berdasarkan kaidah-kaidah keilmuan dan teknologi pendidikan serta psikologi yang dikemas dalam kaji-terapan pelayanan konseling yang diwarnai oleh budaya lingkungan peserta didik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Visi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Visi pelayanan konseling adalah terwujudnya kehidupan kemanusiaan yang membahagiakan melalui tersedianya pelayanan bantuan dalam pemberian dukungan perkembangan dan pengentasan masalah agar peserta didik berkembang secara optimal, mandiri dan bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Misi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Misi pendidikan, yaitu memfasilitasi pengembangan peserta didik melalui pembentukan perilaku efektif-normatif dalam kehidupan keseharian dan masa depan. &lt;br /&gt;2)  Misi pengembangan, yaitu memfasilitasi pengembangan potensi dan kompetensi peserta didik di dalam lingkungan sekolah/ madrasah, keluarga dan masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Misi pengentasan masalah, yaitu memfasilitasi pengentasan masalah peserta didik mengacu pada kehidupan efektif sehari-hari.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; 3.  Bidang Pelayanan  Konseling&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  a. Pengembangan kehidupan pribadi, yaitu bidang pelayanan yang membantu  peserta didik dalam memahami, menilai, dan mengembangkan potensi dan kecakapan, bakat dan minat, serta kondisi sesuai dengan karakteristik  kepribadian dan kebutuhan dirinya secara  realistik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  b. Pengembangan kehidupan sosial, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai serta mengembangkan kemampuan hubungan sosial yang sehat dan efektif dengan teman sebaya, anggota keluarga, dan warga lingkungan sosial yang lebih luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  c. Pengembangan kemampuan belajar, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik mengembangkan kemampuan belajar dalam rangka mengikuti pendidikan sekolah/madrasah dan belajar secara mandiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Pengembangan karir, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai informasi, serta memilih dan mengambil keputusan karir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Fungsi Konseling&lt;br /&gt;a. Pemahaman, yaitu fungsi untuk membantu peserta didik memahami diri dan lingkungannya. &lt;br /&gt;b. Pencegahan, yaitu fungsi untuk membantu peserta didik mampu mencegah atau menghindarkan diri dari berbagai permasalahan yang dapat menghambat perkembangan dirinya.&lt;br /&gt;c. Pengentasan, yaitu fungsi untuk membantu peserta didik mengatasi masalah yang dialaminya.&lt;br /&gt;d. Pemeliharaan dan pengembangan, yaitu fungsi untuk membantu peserta didik memelihara dan menumbuh-kembangkan berbagai potensi dan kondisi positif yang dimilikinya. &lt;br /&gt;e. Advokasi, yaitu fungsi untuk membantu peserta didik memperoleh pembelaan atas hak dan atau kepentingannya yang kurang mendapat perhatian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.  Prinsip dan Asas Konseling &lt;br /&gt;a. Prinsip-prinsip konseling berkenaan dengan sasaran layanan, permasalahan yang dialami peserta didik, program pelayanan, serta tujuan dan pelaksanaan pelayanan.&lt;br /&gt;b. Asas-asas konseling meliputi asas kerahasiaan, kesukarelaan, keterbukaan, kegiatan, kemandirian, kekinian, kedinamisan, keterpaduan, kenormatifan,  keahlian, alih tangan kasus, dan tut wuri handayani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Jenis Layanan Konseling&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Orientasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik memahami lingkungan baru, terutama lingkungan sekolah/madrasah dan obyek-obyek yang dipelajari, untuk menyesuaikan diri serta mempermudah dan memperlancar peran peserta didik di lingkungan yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Informasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik menerima dan memahami berbagai informasi diri, sosial, belajar, karir/jabatan, dan pendidikan lanjutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Penempatan dan Penyaluran, yaitu layanan yang membantu peserta didik memperoleh penempatan dan penyaluran yang tepat di dalam kelas, kelompok belajar, jurusan/program studi, program latihan, magang, dan kegiatan ekstra kurikuler.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Penguasaan Konten, yaitu layanan yang membantu peserta didik menguasai konten tertentu, terumata kompetensi dan atau kebiasaan  yang berguna dalam kehidupan di sekolah, keluarga, dan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Konseling Perorangan, yaitu layanan yang membantu peserta didik dalam mengentaskan masalah pribadinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. Bimbingan Kelompok, yaitu layanan yang membantu peserta didik dalam pengembangan pribadi, kemampuan hubungan sosial, kegiatan belajar, karir/jabatan, dan pengambilan keputusan, serta melakukan kegiatan tertentu melalui dinamika kelompok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g. Konseling Kelompok, yaitu layanan yang membantu peserta didik dalam pembahasan dan pengentasan masalah pribadi melalui dinamika kelompok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;h. Konsultasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik dan atau pihak lain dalam memperoleh wawasan, pemahaman, dan cara-cara yang perlu dilaksanakan dalam menangani kondisi dan atau masalah peserta didik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;i. Mediasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik menyelesaikan permasalahan dan memperbaiki hubungan antarmereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 7. Kegiatan Pendukung &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Aplikasi Instrumentasi, yaitu kegiatan mengumpulkan data tentang diri peserta didik dan lingkungannya, melalui aplikasi berbagai instrumen, baik tes maupun non-tes.&lt;br /&gt;b. Himpunan Data, yaitu kegiatan menghimpun data yang relevan dengan pengembangan peserta didik, yang diselenggarakan secara berkelanjutan, sistematis, komprehensif, terpadu, dan bersifat rahasia.&lt;br /&gt;c. Konferensi Kasus, yaitu kegiatan membahas permasalahan peserta didik dalam pertemuan khusus yang dihadiri oleh pihak-pihak yang dapat memberikan data, kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya masalah peserta didik, yang bersifat terbatas dan tertutup.&lt;br /&gt;d. Kunjungan Rumah, yaitu kegiatan memperoleh data, kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya masalah peserta didik melalui pertemuan dengan orang tua dan atau keluarganya. &lt;br /&gt;e. Tampilan Kepustakaan, yaitu kegiatan menyediakan berbagai bahan pustaka yang dapat digunakan peserta didik dalam pengembangan pribadi, kemampuan sosial, kegiatan belajar, dan karir/jabatan.&lt;br /&gt;f. Alih Tangan Kasus, yaitu kegiatan untuk memindahkan penanganan masalah peserta didik ke pihak lain sesuai keahlian dan kewenangannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 8.  Format Kegiatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  a. Individual, yaitu format kegiatan konseling yang melayani peserta didik secara perorangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  b. Kelompok, yaitu format kegiatan konseling yang melayani sejumlah peserta didik melalui suasana dinamika kelompok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  c. Klasikal, yaitu format kegiatan konseling yang melayani sejumlah peserta didik dalam satu kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  d. Lapangan, yaitu format kegiatan konseling yang melayani seorang atau  sejumlah peserta didik melalui kegiatan di luar kelas atau lapangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  e. Pendekatan Khusus, yaitu format kegiatan konseling yang melayani kepentingan peserta didik melalui pendekatan kepada pihak-pihak yang dapat memberikan kemudahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.  Program Pelayanan&lt;br /&gt;a. Jenis Program&lt;br /&gt;1) Program Tahunan, yaitu program pelayanan konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu tahun untuk masing-masing kelas di sekolah/madrasah. &lt;br /&gt;2) Program Semesteran, yaitu program pelayanan konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu semester yang merupakan jabaran program tahunan. &lt;br /&gt;3) Program Bulanan, yaitu program pelayanan konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu bulan yang merupakan jabaran program semesteran. &lt;br /&gt;4) Program Mingguan, yaitu program pelayanan konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu minggu yang merupakan jabaran program bulanan. &lt;br /&gt;5) Program Harian, yaitu program pelayanan konseling yang dilaksanakan pada hari-hari tertentu dalam satu  minggu. Program harian merupakan jabaran dari program mingguan dalam bentuk satuan layanan (SATLAN) dan atau satuan kegiatan pendukung (SATKUNG) konseling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Penyusunan Program&lt;br /&gt;1) Program pelayanan konseling disusun berdasarkan kebutuhan peserta didik (need assessment) yang diperoleh melalui aplikasi instrumentasi.&lt;br /&gt;2) Substansi program pelayanan konseling meliputi keempat bidang, jenis layanan dan kegiatan pendukung, format kegiatan, sasaran pelayanan, dan volume/beban tugas konselor. &lt;br /&gt;(Lampiran 1 dan Lampiran 2a, 2b, 2c, dan 2d) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;B.  PERENCANAAN KEGIATAN &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 1. Perencanaan kegiatan pelayanan konseling mengacu pada program tahunan yang telah dijabarkan ke dalam program semesteran, bulanan serta mingguan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Perencanaan kegiatan pelayanan konseling harian yang merupakan jabaran dari program mingguan disusun dalam bentuk SATLAN dan SATKUNG yang masing-masing memuat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Sasaran layanan/kegiatan pendukung&lt;br /&gt;b. Substansi layanan/kegiatan pendukung&lt;br /&gt;c. Jenis layanan/kegiatan pendukung, serta alat bantu yang digunakan&lt;br /&gt;d. Pelaksana layanan/kegiatan pendukung dan pihak-pihak yang terlibat&lt;br /&gt;e. Waktu dan tempat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Lampiran 3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Rencana kegiatan pelayanan konseling mingguan meliputi kegiatan di dalam kelas dan di luar kelas untuk masing-masing kelas peserta didik yang menjadi tanggung jawab konselor. (Lampiran 1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Satu kali kegiatan layanan atau kegiatan pendukung konseling berbobot ekuivalen 2 (dua) jam pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Volume keseluruhan kegiatan pelayanan konseling dalam satu minggu minimal ekuivalen dengan beban tugas wajib konselor di sekolah/ madrasah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;C. PELAKSANAAN KEGIATAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Bersama pendidik dan personil sekolah/madrasah lainnya, konselor berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan pengembangan diri yang bersifat rutin, insidental dan keteladanan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;2. Program pelayanan konseling yang direncanakan dalam bentuk SATLAN dan SATKUNG dilaksanakan sesuai dengan sasaran, substansi, jenis kegiatan, waktu, tempat, dan pihak-pihak yang terkait. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pelaksanaan Kegiatan Pelayanan Konseling&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Di dalam jam pembelajaran sekolah/madrasah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Kegiatan tatap muka secara klasikal dengan peserta didik untuk menyelenggarakan layanan informasi, penempatan dan penyaluran, penguasaan konten, kegiatan instrumentasi, serta layanan/kegiatan lain yang dapat dilakukan di dalam kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Volume kegiatan tatap muka klasikal adalah 2 (dua) jam per kelas per minggu dan dilaksanakan secara terjadwal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Kegiatan tidak tatap muka dengan peserta didik untuk menyelenggarakan layanan konsultasi, kegiatan konferensi kasus, himpunan data, kunjungan rumah, pemanfaatan kepustakaan, dan alih tangan kasus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.   Di luar jam pembelajaran sekolah/madrasah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Kegiatan tatap  muka dengan peserta didik untuk menyelenggarakan layanan orientasi, konseling perorangan,, bimbingan kelompok, konseling kelompok, dan mediasi, serta kegiatan lainnya yang dapat dilaksanakan di luar kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2)  Satu kali kegiatan layanan/pendukung konseling di luar kelas/di luar jam pembelajaran ekuivalen dengan 2 (dua) jam pembelajaran tatap muka dalam kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Kegiatan pelayanan konseling di luar jam pembelajaran sekolah/madrasah maksimum 50% dari seluruh kegiatan pelayanan konseling, diketahui dan dilaporkan kepada pimpinan sekolah/madrasah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     4. Kegiatan pelayanan konseling dicatat dalam laporan pelaksanaan program (LAPELPROG). (Lampiran 4). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Volume dan waktu untuk pelaksanaan kegiatan pelayanan konseling di dalam kelas dan di luar kelas setiap minggu diatur oleh konselor dengan persetujuan pimpinan sekolah/madrasah (Lampiran 5) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Program pelayanan konseling pada masing-masing satuan sekolah/madrasah dikelola dengan memperhatikan keseimbangan dan kesinambungan program antarkelas dan antarjenjang kelas, dan mensinkronisasikan program pelayanan konseling dengan kegiatan pembelajaran mata pelajaran dan kegiatan ekstra kurikuler, serta mengefektifkan dan mengefisienkan penggunaan fasilitas sekolah/ madrasah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. PENILAIAN KEGIATAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 1. Penilaian hasil kegiatan pelayanan konseling dilakukan melalui:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  a.  Penilaian segera (LAISEG), yaitu penilaian pada akhir setiap jenis layanan dan kegiatan pendukung konseling untuk mengetahui perolehan peserta didik yang dilayani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  b. Penilaian jangka pendek (LAIJAPEN), yaitu penilaian dalam waktu tertentu (satu minggu sampai dengan satu bulan) setelah satu jenis layanan dan atau kegiatan pendukung konseling diselenggarakan untuk mengetahui dampak layanan/kegiatan terhadap peserta didik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  c. Penilaian jangka panjang (LAIJAPANG), yaitu penilaian dalam waktu tertentu (satu bulan sampai dengan satu semester) setelah satu atau beberapa layanan dan kegiatan pendukung konseling diselenggarakan untuk mengetahui lebih jauh dampak layanan dan atau kegiatan pendukung konseling terhadap peserta didik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 2. Penilaian proses kegiatan pelayanan konseling dilakukan melalui analisis terhadap keterlibatan unsur-unsur sebagaimana tercantum di dalam SATLAN dan SATKUNG, untuk mengetahui efektifitas dan efesiensi pelaksanaan kegiatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 3. Hasil penilaian kegiatan pelayanan konseling dicantumkan dalam LAPELPROG  (Lampiran 4).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Hasil kegiatan pelayanan konseling secara keseluruhan dalam satu semester untuk setiap peserta didik dilaporkan secara kualitatif. (Lampiran 6 dan Lampiran 7)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. PELAKSANA KEGIATAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 1. Pelaksana kegiatan pelayanan konseling adalah konselor sekolah/ madrasah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 2. Konselor pelaksana kegiatan pelayanan konseling di sekolah/madrasah wajib:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  a.  Menguasai spektrum pelayanan pada umumnya, khususnya pelayanan profesional  konseling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  b. Merumuskan dan menjelaskan peran profesional konselor kepada pihak-pihak terkait, terutama peserta didik, pimpinan sekolah/ madrasah, sejawat pendidik, dan orang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  c. Melaksanakan tugas pelayanan profesional konseling yang setiap kali dipertanggungjawabkan kepada pemangku kepentingan, terutama pimpinan sekolah/madrasah, orang tua, dan peserta didik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  d. Mewaspadai hal-hal negatif yang dapat mengurangi keefektifan kegiatan pelayanan profesional konseling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  e. Mengembangkan kemampuan profesional konseling secara berkelanjutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  (Rincian kewajiban konselor Lampiran 8).&lt;br /&gt;  3. Beban tugas wajib konselor ekuivalen dengan beban tugas wajib pendidik lainnya di sekolah/madrasah sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;      4. Pelaksana pelayanan konseling &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           a.  Pelaksana pelayanan konseling di SD/MI/SDLB pada dasarnya adalah guru kelas yang melaksanakan layanan orientasi, informasi, penempatan dan penyaluran, dan penguasaan konten dengan menginfusikan materi layanan tersebut ke dalam pembelajaran, serta untuk peserta didik Kelas IV, V, dan VI dapat diselenggarakan layanan konseling perorangan, bimbingan kelompok, dan konseling kelompok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           b.  Pada satu SD/MI/SDLB atau sejumlah SD/MI/SDLB dapat diangkat seorang konselor untuk menyelenggarakan pelayanan konseling. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           c. Pada satu SMP/MTs/SMPLB, SMA/MA/SMALB/SMK/MAK dapat diangkat sejumlah konselor dengan rasio seorang konselor untuk 150 orang peserta didik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. PENGAWASAN  KEGIATAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 1. Kegiatan pelayanan konseling di sekolah/madrasah dipantau, dievaluasi, dan dibina melalui kegiatan pengawasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 2. Pengawasan kegiatan pelayanan konseling dilakukan secara:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  a.  interen, oleh kepala sekolah/madrasah.&lt;br /&gt;  b. eksteren, oleh pengawas sekolah/madrasah bidang konseling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 3. Fokus pengawasan adalah kemampuan profesional konselor dan implementasi kegiatan pelayanan konseling yang menjadi kewajiban dan tugas konselor di sekolah/madrasah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 4. Pengawasan kegiatan pelayanan konseling dilakukan secara berkala dan berkelanjutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 5. Hasil pengawasan didokumentasikan, dianalisis, dan ditindaklanjuti untuk peningkatan mutu perencanaan dan pelaksanaan kegiatan pelayanan konseling di sekolah/madrasah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENGEMBANGAN DIRI&lt;br /&gt;MELALUI KEGIATAN EKSTRA KURIKULER&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.  STRUKTUR KEGIATAN EKSTRA KURIKULER  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pengertian Kegiatan Ekstra Kurikuler &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan Ekstra Kurikuler adalah kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran dan pelayanan konseling untuk membantu pengembangan peserta didik sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, dan minat mereka melalui kegiatan yang secara khusus diselenggarakan oleh pendidik dan atau tenaga kependidikan yang berkemampuan dan berkewenangan di sekolah/madrasah.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Visi dan Misi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Visi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Visi kegiatan ekstra kurikuler adalah berkembangnya potensi, bakat dan minat secara optimal, serta tumbuhnya kemandirian dan kebahagiaan peserta didik  yang berguna untuk diri sendiri, keluarga dan masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Misi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Menyediakan sejumlah kegiatan yang dapat dipilih oleh peserta didik sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, dan minat mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Menyelenggarakan kegiatan yang memberikan kesempatan peserta didik mengespresikan  diri secara bebas melalui kegiatan mandiri dan atau kelompok. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; 3. Fungsi Kegiatan Ekstra Kurikuler&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Pengembangan, yaitu fungsi kegiatan ekstra kurikuler untuk mengembangkan kemampuan dan kreativitas peserta didik sesuai dengan potensi, bakat dan minat mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Sosial, yaitu fungsi kegiatan ekstra kurikuler untuk mengembangkan kemampuan dan rasa tanggung jawab sosial peserta didik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Rekreatif, yaitu fungsi kegiatan ekstra kurikuler untuk mengembangkan suasana rileks, mengembirakan dan menyenangkan bagi peserta didik yang menunjang proses perkembangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Persiapan karir, yaitu fungsi kegiatan ekstra kurikuler untuk mengembangkan kesiapan karir peserta didik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Prinsip Kegiatan Ekstra Kurikuler&lt;br /&gt;a. Individual, yaitu prinsip kegiatan ekstra kurikuler yang sesuai dengan potensi, bakat dan minat peserta didik masing-masing.&lt;br /&gt;b. Pilihan, yaitu prinsip kegiatan ekstra kurikuler yang sesuai dengan keinginan dan diikuti secara sukarela peserta didik.&lt;br /&gt;c. Keterlibatan aktif, yaitu prinsip kegiatan ekstra kurikuler yang menuntut keikutsertaan peserta didik secara penuh.&lt;br /&gt;d. Menyenangkan, yaitu prinsip kegiatan ekstra kurikuler dalam suasana yang disukai dan mengembirakan peserta didik.&lt;br /&gt;e. Etos kerja, yaitu prinsip kegiatan ekstra kurikuler yang membangun semangat peserta didik untuk bekerja dengan baik dan berhasil. &lt;br /&gt;f. Kemanfaatan sosial, yaitu prinsip kegiatan ekstra kurikuler yang dilaksanakan untuk kepentingan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Jenis kegiatan Ekstra Kurikuler &lt;br /&gt;a. Krida, meliputi Kepramukaan, Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS), Palang Merah Remaja (PMR), Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (PASKIBRAKA).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Karya Ilmiah, meliputi Kegiatan Ilmiah Remaja (KIR), kegiatan penguasaan keilmuan dan kemampuan akademik, penelitian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Latihan/lomba keberbakatan/prestasi, meliputi pengembangan bakat olah raga, seni dan budaya, cinta alam, jurnaistik, teater, keagamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Seminar, lokakarya, dan pameran/bazar, dengan  substansi antara lain karir, pendidikan, kesehatan, perlindungan HAM, keagamaan, seni  budaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 6.  Format Kegiatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  a. Individual, yaitu format kegiatan ekstra kurikuler yang diikuti peserta didik secara perorangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  b. Kelompok, yaitu format kegiatan ekstra kurikuler yang diikuti oleh kelompok-kelompok peserta didik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  c. Klasikal, yaitu format kegiatan ekstra kurikuler yang diikuti peserta didik dalam satu kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Gabungan, yaitu format kegiatan ekstra kurikuler yang diikuti peserta didik antarkelas/antarsekolah/madraasah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Lapangan, yaitu format kegiatan ekstra kurikuler yang diikuti seorang atau sejumlah peserta didik melalui kegiatan di luar kelas atau kegiatan lapangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.  PERENCANAAN KEGIATAN &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Perencanaan kegiatan ekstra kurikuler mengacu pada jenis-jenis kegiatan yang memuat unsur-unsur: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Sasaran kegiatan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Substansi kegiatan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pelaksana kegiatan dan pihak-pihak yang terkait, serta keorganisasiannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Waktu dan tempat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5 Sarana &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Lampiran 10)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. PELAKSANAAN KEGIATAN&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;1. Kegiatan ekstra kurikuler yang bersifat rutin, spontan dan keteladanan dilaksanakan secara langsung oleh guru, konselor dan tenaga kependidikan di sekolah/madrasah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 2. Kegiatan ekstra kurikuler yang terprogram dilaksanakan sesuai dengan sasaran, substansi, jenis kegiatan, waktu, tempat, dan pelaksana sebagaimana telah direncanakan. (Lampiran 11)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. PENILAIAN KEGIATAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Hasil dan proses kegiatan ekstra kurikuler dinilai secara kualitatif dan dilaporkan kepada pimpinan sekolah/madrasah dan pemangku kepentingan lainnya oleh penanggung jawab kegiatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; (Lampiran 12,13, dan14)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. PELAKSANA KEGIATAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pelaksana kegiatan ekstra kurikuler adalah pendidik dan atau  tenaga kependidikan sesuai dengan kemampuan dan kewenangan pada substansi kegiatan ekstra kurikuler yang dimaksud. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;F. PENGAWASAN  KEGIATAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 1. Kegiatan ekstra kurikuler di sekolah/madrasah dipantau, dievaluasi, dan dibina melalui kegiatan pengawasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 2. Pengawasan kegiatan ekstra kurikuler dilakukan secara:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  a.  interen, oleh kepala sekolah/madrasah.&lt;br /&gt;  b. eksteren, oleh pihak yang secara struktural/fungsional memiliki kewenangan membina kegiatan ekstra kurikuler yang dimaksud.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 3. Hasil pengawasan didokumentasikan, dianalisis, dan ditindaklanjuti untuk peningkatan mutu perencanaan dan pelaksanaan kegiatan ekstra kurikuler di sekolah/madrasah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LAMPIRAN&lt;br /&gt;Lampiran 1 : Contoh Penugasan Pengasuhan kepada Konselor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENUGASAN PENGASUHAN PESERTA DIDIK&lt;br /&gt;KEPADA KONSELOR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEKOLAH/MADRASAH : SMA 1 Perdana TAHUN AJARAN : 2006/2007&lt;br /&gt;KELAS  : XI IPA dan IPS KONSELOR : Asti Cantika&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No. Kelas Jumlah Siswa Keterangan&lt;br /&gt;1.  XI IPA 1 40 Masuk pagi&lt;br /&gt;2.  XI IPA 2 37 Masuk pagi&lt;br /&gt;3.  XI IPS 1 36 Masuk pagi&lt;br /&gt;4.  XI IPS 2 38 Masuk pagi&lt;br /&gt; Jumlah 151 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota Sahabat, 10 Juli 2006&lt;br /&gt;Kepala Sekolah/Madrasah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ttd&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bambang Budi Sentosa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lampiran 2 a : Contoh Program Tahunan Pelayanan Konseling&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PROGRAM TAHUNAN &lt;br /&gt;PELAYANAN KONSELING&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEKOLAH/MADRASAH : SMA I Perdana       TAHUN AJARAN : 2006 - 2007&lt;br /&gt;KELAS   : XI IPA 2        KONSELOR   : Asti Cantika&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No Kegiatan Materi Bidang Pengembangan*)&lt;br /&gt;  Pribadi Sosial Belajar Karir&lt;br /&gt;1 2 3 4 5 6&lt;br /&gt;1. Layanan Orientasi Obyek-obyek pengembangan pribadi Obyek-obyek pengembangan hubungan sosial Obyek-obyek pengembangan kemampuan belajar Obyek-obyek implementasi karir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  (1) (2) (3) (4)&lt;br /&gt;2. Layanan Informasi Informasi tentang perkembangan, potensi, kemampuan dan kondisi  diri  Informasi tentang potensi, kemampuan dan kondisi hubungan sosial Informasi tentang potensi, kemampuan, kegiatan dan hasil belajar Informasi tentang potensi, kemampuan, arah dan kondisi karir&lt;br /&gt;  (5) (6) (7) (8)&lt;br /&gt;3. Layanan Penempatan/Penyaluran Penempatan dan penyaluran untuk pengembangan kemampuan pribadi &lt;br /&gt; Penempatan dan penyaluran untuk pengembangan kemampuan sosial Penempatan dan penyaluran untuk pengembangan kemampuan belajar Penempatan dan penyaluran untuk pengembangan kemampuan karir&lt;br /&gt;  (9) (10) (11) (12)&lt;br /&gt;4. Layanan Penguasaan Konten Kompetensi dan kebiasaan dalam kehidupan pribadi&lt;br /&gt; Kompetensi dan kebiasaan dalam kehidupan sosial&lt;br /&gt; Kompetensi dan kebiasaan dalam kegiatan serta penguasaan bahan belajar&lt;br /&gt; Kompetensi dan kebiasaan dalam pengembangan karir&lt;br /&gt;  (13) (14) (15) (16)&lt;br /&gt;5. Layanan Konseling Perorangan Masalah pribadi: dalam kehidupan pribadi Masalah pribadi: dalam kehidupan sosial Masalah pribadi: dalam kemampuan, kegiatan dan hasil belajar Masalah pribadi: dalam pengembangan karir&lt;br /&gt;  (17) (18) (19) (20)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;6. Layanan Bimbingan Kelompok Topik tentang: Kemampuan dan kondisi pribadi Topik tentang: Kemampuan dan kondisi hubungan sosial Topik tentang: Kemampuan, kegiatan dan hasil belajar Topik tentang: Kemampuan dan arah karir&lt;br /&gt;  (21) (22) (23) (24)&lt;br /&gt;7. Layanan Konseling Kelompok Masalah pribadi: dalam kehidupan pribadi Masalah pribadi: dalam kehidupan sosial&lt;br /&gt; Masalah pribadi: dalam kemampuan kegiatan belajar Masalah pribadi: dalam pengembangan karir&lt;br /&gt;  (25) (26) (27) (28)&lt;br /&gt;8. Layanan Konsultasi Pemberdayaan pihak tertentu untuk dapat membantu peserta didik dalam pengembangan pribadi&lt;br /&gt; Pemberdayaan pihak tertentu untuk dapat membantu peserta didik dalam pengembangan kemampuan sosial Pemberdayaan pihak tertentu untuk dapat membantu peserta didik dalam pengembangan kemampuan belajar Pemberdayaan pihak tertentu untuk dapat membantu peserta didik dalam pengembangan karir&lt;br /&gt;  (29) (30) (31) (32)&lt;br /&gt;9. Layanan Mediasi &lt;br /&gt;--- Upaya mendamaikan pihak-pihak tertentu (peserta didik) yang berselisih --- ---&lt;br /&gt;  (33) (34) (35) (36)&lt;br /&gt;10. Aplikasi Instrumentasi Intrument tes dan non tes untuk mengungkapkan kondisi dan masalah pribadi peserta didik&lt;br /&gt; Intrument tes dan non tes untuk mengungkapkan kondisi dan masalah hubungan sosial peserta didik&lt;br /&gt; Intrument tes dan non tes untuk mengungkapkan kondisi dan masalah belajar peserta didik&lt;br /&gt; Intrument tes dan non tes untuk mengungkapkan kondisi dan masalah karir peserta didik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  (37) (38) (39) (40)&lt;br /&gt;11. Himpunan Data Data perkembangan, kondisi dan lingkungan diri pribadi Data perkembangan, kondisi hubungan dan lingkungan sosial Data kemampuan, kegiatan dan hasil belajar Data kemampuan, arah dan persiapan karir&lt;br /&gt;  (41) (42) (43) (44)&lt;br /&gt;12. Konferensi Kasus Pembahasan kasus-kasus masalah pribadi tertentu yang dialami peseta didik&lt;br /&gt;  Pembahasan kasus-kasus masalah sosial tertentu yang dialami peseta didik&lt;br /&gt;  Pembahasan kasus-kasus masalah belajar tertentu yang dialami peseta didik&lt;br /&gt;  Pembahasan kasus-kasus masalah karir tertentu yang dialami peseta didik&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  (45) (46) (47) (48)&lt;br /&gt;13. Kunjungan Rumah Pertemuan dengan orang tua, keluarga, peserta didik yang mengalami masalah pribadi&lt;br /&gt; Pertemuan dengan orang tua, keluarga, peserta didik yang mengalami masalah sosial&lt;br /&gt; Pertemuan dengan orang tua, keluarga, peserta didik yang mengalami masalah belajar&lt;br /&gt; Pertemuan dengan orang tua, keluarga, peserta didik yang mengalami masalah karir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  (49) (50) (51) (52)&lt;br /&gt;14. Tampilan Kepustakaan Bacaan dan rekaman tentang perkembangan dan kehidupan pribadi&lt;br /&gt; Bacaan dan rekaman tentang perkembangan dan kemampuan sosial Bacaan dan rekaman tentang kemampuan dan kegiatan belajar Bacaan dan rekaman tentang arah dan kehidupan karir&lt;br /&gt;  (53) (54) (55) (56)&lt;br /&gt;15. Alih Tangan Kasus Pendalaman penanganan masalah pribadi&lt;br /&gt; Pendalaman penanganan masalah sosial Pendalaman penanganan masalah belajar Pendalaman penanganan masalah karir&lt;br /&gt;  (57) (58) (59) (60)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota Sahabat, 15 Juli 2006&lt;br /&gt;Konselor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ttd&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asti Cantika&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Contoh Materi Pengembangan:&lt;br /&gt;(1) Layanan Orientasi: Obyek-obyek pengembangan pribadi, seperti:&lt;br /&gt; Fasilitas olah raga; latihan bina raga; bela diri.&lt;br /&gt; Sanggar seni dan budaya&lt;br /&gt; Tempat peribadatan&lt;br /&gt; Rehabilitasi penderita narkoba&lt;br /&gt;(2) Layanan Orientasi: Obyek-obyek pengembangan hubungan sosial, seperti:&lt;br /&gt; Kegiatan gotong royong&lt;br /&gt; Perjamuan&lt;br /&gt; Seminar, lokakarya, diskusi, dan kegiatan kelompok lainnya&lt;br /&gt; Rapat besar&lt;br /&gt;(3) Layanan Orientasi: Obyek-obyek pengembangan kemampuan belajar, seperti&lt;br /&gt; Lembaga bimbingan belajar&lt;br /&gt; Fasilitas belajar di sekolah&lt;br /&gt; Sekolah-sekolah/madrasah lain&lt;br /&gt; Perguruan tinggi&lt;br /&gt;(4) Layanan Orientasi: Obyek-obyek implementasi karir, seperti:&lt;br /&gt; Kursus-kursus keterampilan&lt;br /&gt; Bengkel&lt;br /&gt; Perusahaan/pabrik, industri&lt;br /&gt; Kantor&lt;br /&gt; Perkebunan, pertanian, perikanan, pertambangan&lt;br /&gt;(5) Layanan Informasi: Informasi tentang perkembangan potensi, kemampuan dan kondisi pribadi, seperti:&lt;br /&gt; Kecerdasan&lt;br /&gt; Bakat&lt;br /&gt; Minat&lt;br /&gt; Karakteristik pribadi; pemahaman diri&lt;br /&gt; Tugas perkembangan, tahap perkembangan&lt;br /&gt; Gejala perkembangan tertentu&lt;br /&gt; Perbedaan individual&lt;br /&gt; Keunikan diri&lt;br /&gt;(6) Layanan Informasi: Informasi tentang potensi, kemampuan dan kondisi hubungan sosial, seperti:&lt;br /&gt; Pemahaman terhadap orang lain&lt;br /&gt; Kiat berteman&lt;br /&gt; Hubungan antarremaja&lt;br /&gt; Hubungan dalam keluarga&lt;br /&gt; Hubungan dengan guru, orangtua, pimpinan masyarakat&lt;br /&gt; Data sosiogram&lt;br /&gt;(7) Layanan Informasi: Informasi tentang potensi, kemampuan, kegiatan dan hasil belajar, seperti:&lt;br /&gt; Kiat belajar&lt;br /&gt; Kegiatan belajar di dalam kelas&lt;br /&gt; Belajar kelompok&lt;br /&gt; Belajar mandiri&lt;br /&gt; Hasil belajar mata pelajaran&lt;br /&gt; Persiapan ulangan, ujian UAS dan UAN&lt;br /&gt;(8) Layanan Informasi: Informasi tentang potensi, kemampuan, arah dan kondisi karir, seperti:&lt;br /&gt; Hubungan antara bakat, minat, pekerjaan, dan pendidikan&lt;br /&gt; Persyaratan karir&lt;br /&gt; Pendidikan umum dan pendidikan kejuruan&lt;br /&gt; Informasi karir/pekerjaan/pendidikan&lt;br /&gt;(9) , (10), (11), dan (12) Layanan Penempatan/Penyaluran: Penempatan dan penyaluran untuk pengembangan kemampuan pribadi, sosial, belajar, dan karir dapat dilakukan melalui penempatan di dalam kelas (berkenaan dengan tempat duduk), pada kelompok belajar; diskusi, magang; krida; latihan keberbakatan//prestasi, kegiatan lapangan, kepanitiaan, serta kegiatan layanan bimbingan/konseling kelompok. Masing-masing penempatan/penyaluran itu dapat dimaksudkan untuk mengembangkan satu atau lebih kemampuan peserta didik: kemampuan pribadi, sosial, belajar, karir.&lt;br /&gt;(13) Layanan Penguasaan Konten: Kompetensi dan kebiasaan dalam kehidupan pribadi, seperti:&lt;br /&gt; Mengatur jadwal kegiatan sehari-hari: di rumah, di sekolah, di luar rumah/sekolah.&lt;br /&gt; Menyampaikan kondisi diri sendiri kepada orang lain&lt;br /&gt; Mengambil keputusan&lt;br /&gt; Menggunakan waktu senggang&lt;br /&gt; Memperkuat ibadat keagamaan&lt;br /&gt; Mengendalikan diri&lt;br /&gt; Berpikir dan bersikap positif; apresiatif&lt;br /&gt; Mematuhi peraturan lalu-lintas&lt;br /&gt;(14) Layanan Penguasaan Konten: Kompetensi dan kebiasaan dalam kehidupan sosial, seperti:&lt;br /&gt; Cara berbicara dengan orang yang berbeda-beda (teman sebaya, orang yang lebih tua, anggota keluarga)&lt;br /&gt; Kemampuan pidato&lt;br /&gt; Menyampaikan pendapat secara lugu (asertive) kepada orang lain&lt;br /&gt; Mendengar, memahami dan merespon secara tepat dan positif pendapat orang lain&lt;br /&gt; Melihat kebaikan orang lain dan mengekspresikannya&lt;br /&gt; Menulis surat persahabatan&lt;br /&gt; Mengucapkan salam; terima kasih; meminta maaf&lt;br /&gt; Kemampuan berdiskusi; bermusyawarah&lt;br /&gt;(15) Layanan Penguasaan Konten: Kompetensi dan kebiasaan dalam kegiatan dan penguasaan bahan belajar, seperti:&lt;br /&gt; Menyusun jadwal belajar&lt;br /&gt; Bertanya/menjawab di dalam kelas&lt;br /&gt; Meringkas materi bacaan&lt;br /&gt; Menyusun kalimat efektif dalam paragraf&lt;br /&gt; Menyusun laporan kegiatan/tugas pelajaran&lt;br /&gt; Menyusun makalah&lt;br /&gt;(16) Layanan Penguasaan Konten: Kompetensi dan kebiasaan dalam pengembangan karir, seperti:&lt;br /&gt; Menyalurkan bakat, minat, kegemaran yang mengarah ke karir tertentu&lt;br /&gt; Memelihara perabotan rumah tangga: pakaian, perabot, peralatan listrik&lt;br /&gt; Memperbaiki peralatan sederhana&lt;br /&gt; Menyusun lamaran pekerjaan; currikulum vitae&lt;br /&gt; Mempertimbangkan dan memilih pekerjaan&lt;br /&gt; Mempertimbangkan dan memilih pendidikan sesuai dengan arah karir&lt;br /&gt;(17), (18), (19), dan (20)  Layanan Konseling Perorangan: &lt;br /&gt; Materi yang dibahas dalam layanan konseling perorangan tidak dapat ditetapkan terlebih dahulu, melainkan akan diungkapkan oleh klien ketika layanan dilaksanakan. Apapun masalah yang diungkapkan oleh klien (masalah pribadi, sosial, belajar, ataupun karir), maka masalah itulah yang dibahas dalam layanan konseling perorangan. Dalam  hal ini konselor dapat memanggil peserta didik (yaitu peserta didik yang menjadi tanggung jawab asuhannya) untuk diberikan layanan konseling untuk masalah tertentu (masalah pribadi, sosial, belajar, atau karir), namun konselor harus lebih mengutamakan masalah yang dikemukakan sendiri oleh peserta didik yang menerima layanan konseling perorangan.&lt;br /&gt;(21) Layanan Bimbingan Kelompok: Topik tentang kemampuan dan kondisi pribadi, seperti:&lt;br /&gt; Potensi diri&lt;br /&gt; Kiat menyalurkan bakat, minat, kegemaran, hobi&lt;br /&gt; Kebiasaan sehari-hari di rumah; kegiatan rutin, membantu orang tua, belajar&lt;br /&gt; Sikap terhadap narkoba; KKN; pembunuhan; perkosaan; perang&lt;br /&gt; Sikap terhadap bencana alam; kecelakaan; HAM; kemiskinan; anak terlantar&lt;br /&gt; Perbedaan individu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(22) Layanan Bimbingan Kelompok: Topik tentang Kemampuan dan kondisi hubungan sosial, seperti:&lt;br /&gt; Hubungan muda-mudi&lt;br /&gt; Suasana hubungan di sekolah: antarsiswa, guru-siswa, antarpersonil sekolah lainnya&lt;br /&gt; Peristiwa sosial di masyarakat: demo brutal, bentrok antarwarga&lt;br /&gt; Peranan RT/RW&lt;br /&gt; Toleransi, solidaritas&lt;br /&gt;(23) Layanan Bimbingan Kelompok: Topik tentang kemampuan, kegiatan dan hasil belajar, seperti:&lt;br /&gt; Kiat-kiat belajar; belajar sendiri; belajar kelompok&lt;br /&gt; Sikap terhadap mata pelajaran; tugas/PR; suasana belajar di sekolah, perpustakaan, laboratorium&lt;br /&gt; Sikap terhadap hasil ulangan, ujian&lt;br /&gt; Masalah menyontek dalam ulangan/ujian&lt;br /&gt; Pemanfaatan buku pelajaran&lt;br /&gt;(24) Layanan Bimbingan Kelompok: Topik tentang pengembangan karir, seperti:&lt;br /&gt; Hidup adalah untuk bekerja&lt;br /&gt; Masa depan kita; masalah pengangguran; lowongan pekerjaan; PHK&lt;br /&gt; Memilih pekerjaan; memilih pendidikan lanjutan&lt;br /&gt; Masalah TKI/TKW&lt;br /&gt;(25), (26), (27), dan (28) Layanan Konseling Kelompok: &lt;br /&gt;Seperti untuk layanan konseling perorangan, materi yang dibahas dalam konseling kelompok tidak dapat ditetapkan terlebih dahulu oleh konselor, melainkan akan dikemukakan oleh masing-masing anggota kelompok. Apapun masalah yang diungkapkan oleh anggota kelompok tersebut, dan terpilih untuk dibicarakan (apakah masalah pribadi, sosial, belajar, ataupun karir) itulah yang dibahas melalui layanan konseling kelompok. Dalam hal ini konselor dapat mengikutsertakan seorang atau lebih peserta didik yang diasuhnya untuk menjadi anggota kelompok dan menjalani layanan konseling kelompok dengan masalah tertentu (masalah pribadi, sosial, belajar, atau karir) dan dapat mengupayakan agar masalah tersebut dapat dibahas, namun konselor harus lebih mengutamakan masalah yang dipilih oleh kelompok untuk dibahas dalam konseling kelompok.&lt;br /&gt;(29), (30), (31), (32) Layanan Konsultasi: &lt;br /&gt;Seperti untuk layanan konseling perorangan, materi yang dibahas dalam layanan konsultasi tidak dapat ditetapkan terlebih dahulu oleh konselor, melainkan akan dikemukakan oleh konsulti ketika layanan berlangsung. Apapun masalah yang diungkapkan oleh konsulti tentang peserta didik yang hendak dibantunya (apakah masalah pribadi, sosial, belajar , atau karir) itulah yang dibahas dalam layanan konsultasi. Konselor dapat memperkirakan apa yang hendak dikemukakan oleh konsulti untuk dibahas dalam layanan konsultasi, namun konselor harus mengutamakan pembahasan masalah yang dikemukakan sendiri oleh konsulti.&lt;br /&gt;(33), (34), (35), (36) Layanan Mediasi: &lt;br /&gt;Masalah yang menyebabkan perselisihan pada dasarnya adalah masalah sosial. Dalam hal ini layanan mediasi pertama-tama menangani hubungan sosial di antara pihak-pihak yang berselisih. Dalam pelaksanaan layanan mediasi boleh jadi akan muncul masalah pribadi, masalah belajar, masalah karir, dan masalah sosial lainnya yang perlu ditangani oleh konselor.&lt;br /&gt;(37), (38), (39), (40) Aplikasi Instrumentasi: &lt;br /&gt;Instrumen tes dan nontes untuk mengungkapkan kondisi dan masalah pribadi, sosial, belajar, dan karir bentuk dan isinya bermacam-macam, seperti:&lt;br /&gt; Tes Inteligensi&lt;br /&gt; Tes Bakat&lt;br /&gt; Inventori Minat Karir&lt;br /&gt; Inventori Kreativitas&lt;br /&gt; Inventori Kepribadian: Self-Esteem; Locus of Control&lt;br /&gt; Inventori Hubungan Sosial&lt;br /&gt; Inventori Tahap Perkembangan&lt;br /&gt; Sosiometri&lt;br /&gt; Alat Ungkap Masalah: Masalah Belajar, dan Masalah-masalah lainnya&lt;br /&gt; Tes Hasil Belajar&lt;br /&gt; Tes Diagnostik&lt;br /&gt;Masing-masing instrumen di atas ada yang mengukur atau mengungkapkan satu atau lebih kondisi diri peserta didik: kondisi diri pribadi, hubungan sosial, kemampuan belajar, dan atau arah/kemampuan karir.&lt;br /&gt;(41) Himpunan Data: Data perkembangan, kondisi dan lingkungan diri pribadi, seperti:&lt;br /&gt; Identitas diri&lt;br /&gt; Potensi dasar: inteligensi, bakat, minat&lt;br /&gt; Identitas keluarga&lt;br /&gt; Riwayat kesehatan&lt;br /&gt; Catatan anekdot (kejadian khusus)&lt;br /&gt; Masalah diri pribadi&lt;br /&gt;(42) Himpunan Data: Data perkembangan, kondisi hubungan dan lingkungan sosial, seperti:&lt;br /&gt; Sosiogram&lt;br /&gt; Teman dekat&lt;br /&gt; Data hubungan sosial&lt;br /&gt; Masalah sosial&lt;br /&gt;(43) Himpunan Data: Data kemampuan, kegiatan dan belajar, seperti:&lt;br /&gt; Nilai hasil belajar&lt;br /&gt; Data kegiatan belajar&lt;br /&gt; Riwayat pendidikan&lt;br /&gt; Masalah belajar&lt;br /&gt;(44) Himpunan Data: Data kemampuan, arah dan persiapan karir, seperti:&lt;br /&gt; Pekerjaan orang tua/keluarga&lt;br /&gt; Bakat-minat karir; jurusan yang diambil&lt;br /&gt; Masalah karir&lt;br /&gt;(45) Konferensi Kasus: Masalah pribadi, seperti:&lt;br /&gt; Sering absen; membolos&lt;br /&gt; Tingkah laku menyimpang; nakal&lt;br /&gt;(46) Konferensi Kasus: Masalah sosial, seperti:&lt;br /&gt; Suka menyendiri&lt;br /&gt; Menganggu teman&lt;br /&gt;(47) Konferensi Kasus: Kasus masalah belajar, seperti:&lt;br /&gt; Menganggu suasana kelas ketika sedang belajar&lt;br /&gt; Lalai mengerjakan PR&lt;br /&gt; Nilai pelajaran rendah&lt;br /&gt; Sulit mengikuti pelajaran&lt;br /&gt;(48) Konferensi Kasus: Masalah karir, seperti:&lt;br /&gt; Masalah penjurusan&lt;br /&gt; Pilihan karir&lt;br /&gt; Kegiatan praktik; magang&lt;br /&gt;(49), (50), (51), (52) Kunjungan Rumah:&lt;br /&gt; Kegiatan kunjungan rumah dapat membawa satu atau lebih masalah peserta didik (masalah pribadi, sosial, belajar, dan atau karir) untuk dibicarakan dengan orang tua dan atau keluarga.&lt;br /&gt;(53) Tampilan Kepustakaan: Materi bacaan, film, rekaman vidio dan audio tentang perkembangan dan kehidupan pribadi, seperti:&lt;br /&gt; Tahap-tahap perkembangan&lt;br /&gt; Tugas-tugas perkembangan&lt;br /&gt; Penampilan dan pengembangan bakat, minat, kegemaran&lt;br /&gt; Kehidupan keagamaan&lt;br /&gt; Bahan relaksasi&lt;br /&gt; Motivasi berprestasi&lt;br /&gt; Otobiografi: Kisah orang-orang sukses&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(54) Tampilan Kepustakaan: Materi bacaan, film, rekaman vidio dan audio tentang kemampuan hubungan sosial, seperti:&lt;br /&gt; Suasana hubungan “Saya Oke, Kamu juga Oke”&lt;br /&gt; Kiat bergaul&lt;br /&gt; Kepemimpinan&lt;br /&gt; Mengatasi konflik dengan win-win solution&lt;br /&gt;(55) Tampilan Kepustakaan: Materi bacaan, film, rekaman vidio dan audio tentang kemampuan dan kegiatan belajar, seperti:&lt;br /&gt; Kiat belajar di sekolah&lt;br /&gt; Panduan menulis makalah&lt;br /&gt; Bagaimana menyiapkan dari untuk ulangan/ujian&lt;br /&gt; Belajar secara mandiri&lt;br /&gt; Belajar kelompok&lt;br /&gt;(56) Tampilan Kepustakaan: Materi becaan, film, rekaman vidio dan audio tentang arah dan kehidupan karir, misalnya:&lt;br /&gt; Apa bakat dan karir Anda?&lt;br /&gt; Informasi karir&lt;br /&gt; Panduan penjurusan&lt;br /&gt; Panduan memilih sekolah lanjutan&lt;br /&gt; Lowongan pekerjaan&lt;br /&gt; Keselamatan kerja&lt;br /&gt; Kiat sukses dalam karir&lt;br /&gt;(57) , (58), (59), (60), Alih Tangan Kasus:&lt;br /&gt; Materi alih tangan kasus merupakan pendalaman terhadap masalah pribadi, sosial, belajar, dan atau karir peserta didik yang semula ditangani oleh konselor, dan selanjutnya memerlukan penanganan oleh pihak lain yang berkeahlian/berkewenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lampiran 2 b : Contoh Program Semesteran Pelayanan Konseling&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PROGRAM SEMESTERAN &lt;br /&gt;PELAYANAN KONSELING&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEKOLAH/MADRASAH : SMA I Perdana       TAHUN : 2006 - 2007&lt;br /&gt;KELAS   : XI IPA 2        KONSELOR  : Asti Cantika&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No &lt;br /&gt;Kegiatan Materi Bidang Pengembangan&lt;br /&gt;  Semester I (Juli-Desember 2006) Semester II (Januari-Juni 2007)&lt;br /&gt;  Pribadi Sosial Belajar Karir Pribadi Sosial Belajar Karir&lt;br /&gt;1 2 3 4 5 6 7 8 9 10&lt;br /&gt;1. Layanan Orientasi Obyek-obyek pengembangan pribadi&lt;br /&gt; Obyek-obyek pengembangan hubungan sosial&lt;br /&gt; Obyek-obyek pengembangan kemampuan belajar&lt;br /&gt; Obyek-obyek implementasi karir&lt;br /&gt; Obyek-obyek pengembangan pribadi&lt;br /&gt; Obyek-obyek pengembangan hubungan sosial&lt;br /&gt; Obyek-obyek pengembangan kemampuan belajar&lt;br /&gt; Obyek-obyek implementasi karir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  (1) (2) (3) (4) (1) (2) (3) (4)&lt;br /&gt;2. Layanan Informasi Informasi tentang perkembangan,potensi, kemampuan dan kondisi diri&lt;br /&gt; Informasi tentang potensi, kemampuan dan kondisi hubungan sosial&lt;br /&gt; Informasi tentang potensi, kemampuan, kegiatan dan hasil belajar&lt;br /&gt; Informasi tentang potensi, kemampuan, arah dan kondisi karir&lt;br /&gt; Informasi tentang perkembangan,potensi, kemampuan dan kondisi diri&lt;br /&gt; Informasi tentang potensi, kemampuan dan kondisi hubungan sosial&lt;br /&gt; Informasi tentang potensi, kemampuan, kegiatan dan hasil belajar&lt;br /&gt; Informasi tentang potensi, kemampuan, arah dan kondisi karir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  (5) (6) (7) (8) (5) (6) (7) (8)&lt;br /&gt;3. Layanan Penempatan/Penyaluran&lt;br /&gt; Penempatan dan penyaluran untuk pengembangan kemampuan pribadi  Penempatan dan penyaluran untuk pengembangan kemampuan sosial Penempatan dan penyaluran untuk pengembangan kemampuan belajar Penempatan dan penyaluran untuk pengembangan kemampuan karir Penempatan dan penyaluran untuk pengembangan kemampuan pribadi  Penempatan dan penyaluran untuk pengembangan kemampuan sosial Penempatan dan penyaluran untuk pengembangan kemampuan belajar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Penempatan dan penyaluran untuk pengembangan kemampuan karir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  (9)&lt;br /&gt; (10) (11) (12) (9) (10) (11) (12)&lt;br /&gt;4. Layanan Penguasaan Konten Kompetensi dan kebiasaan dalam kehidupan pribadi&lt;br /&gt; Kompetensi dan kebiasaan dalam kehidupan sosial&lt;br /&gt; Kompetensi dan kebiasaan dalam kegiatan dan penguasaan bahan belajar&lt;br /&gt; Kompetensi dan kebiasaan dalam pengembangan karir&lt;br /&gt; Kompetensi dan kebiasaan dalam kehidupan pribadi&lt;br /&gt; Kompetensi dan kebiasaan dalam kehidupan sosial&lt;br /&gt; Kompetensi dan kebiasaan dalam kegiatan dan penguasaan bahan belajar&lt;br /&gt; Kompetensi dan kebiasaan dalam pengembangan karir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  (13) (14) (15) (16) (13) (14) (15) (16)&lt;br /&gt;5. Layanan Konseling Perorangan Masalah pribadi: dalam kehidupan pribadi Masalah pribadi: dalam kehidupan sosial Masalah pribadi: dalam kemampuan kegiatan dan hasil belajar Masalah pribadi: dalam pengembangan karir Masalah pribadi: dalam kehidupan pribadi Masalah pribadi: dalam kehidupan sosial Masalah pribadi: dalam kemampuan kegiatan dan hasil belajar&lt;br /&gt; Masalah pribadi: dalam pengembangan karir&lt;br /&gt;  (17) (18) (19) (20) (17) (18) (19) (20)&lt;br /&gt;6. Layanan Bimbingan Kelompok Topik tentang: Kemampuan dan kondisi pribadi&lt;br /&gt;  Topik tentang: Kemampuan dan kondisi hubungan sosial Topik tentang: Kemampuan, kegiatan dan hasil belajar&lt;br /&gt;  Topik tentang: Kemampuan dan arah karir&lt;br /&gt;  Topik tentang: Kemampuan dan kondisi pribadi&lt;br /&gt;  Topik tentang: Kemampuan dan kondisi hubungan sosial Topik tentang: Kemampuan, kegiatan dan hasil belajar Topik tentang: Kemampuan dan arah karir&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  (21) (22) (23) (24) (21) (22) (23) (24)&lt;br /&gt;7. Layanan Konseling Kelompok Masalah pribadi: dalam kehidupan pribadi&lt;br /&gt; Masalah pribadi: dalam kehidupan sosial Masalah pribadi: dalam kemampuan kegiatan belajar Masalah pribadi: dalam pengembangan karir Masalah pribadi: dalam kehidupan pribadi&lt;br /&gt; Masalah pribadi: dalam kehidupan sosial Masalah pribadi: dalam kemampuan kegiatan belajar Masalah pribadi: dalam pengembangan karir&lt;br /&gt;  (25) (26) (27) (28) (25) (26) (27) (28)&lt;br /&gt;8. Layanan Konsultasi Pemberdayaan pihak tertentu untuk dapat membantu peserta didik dalam pengembangan pribadi Pemberdayaan pihak tertentu untuk dapat membantu peserta didik dalam pengembangan kemampuan sosial Pemberdayaan pihak tertentu untuk dapat membantu peserta didik dalam pengembangan kemampuan belajar Pemberdayaan pihak tertentu untuk dapat membantu peserta didik dalam pengembangan karir Pemberdayaan pihak tertentu untuk dapat membantu peserta didik dalam pengembangan pribadi Pemberdayaan pihak tertentu untuk dapat membantu peserta didik dalam pengembangan kemampuan sosial Pemberdayaan pihak tertentu untuk dapat membantu peserta didik dalam pengembangan kemampuan belajar Pemberdayaan pihak tertentu untuk dapat membantu peserta didik dalam pengembangan karir&lt;br /&gt;  (29) (30) (31) (32) (29) (30) (31) (32)&lt;br /&gt;9. Layanan Mediasi --- Upaya mendamaikan pihak-pihak tertentu (peserta didik) yang berselisih --- --- --- Upaya mendamaikan pihak-pihak tertentu (peserta didik) yang berselisih&lt;br /&gt; --- ---&lt;br /&gt;  (33) (34) (35) (36) (33) (34) (35) (36)&lt;br /&gt;10. Aplikasi Instrumentasi Intrument tes dan non tes untuk mengungkapkan kondisi dan masalah pribadi peserta didik&lt;br /&gt; Intrument tes dan non tes untuk mengungkapkan kondisi dan masalah hubungan sosial peserta didik&lt;br /&gt; Intrument tes dan non tes untuk mengungkapkan kondisi dan masalah belajar peserta didik&lt;br /&gt; Intrument tes dan non tes untuk mengungkapkan kondisi dan masalah karir peserta didik&lt;br /&gt; Intrument tes dan non tes untuk mengungkapkan kondisi dan masalah pribadi peserta didik&lt;br /&gt; Intrument tes dan non tes untuk mengungkapkan kondisi dan masalah hubungan sosial peserta didik&lt;br /&gt; Intrument tes dan non tes untuk mengungkapkan kondisi dan masalah belajar peserta didik&lt;br /&gt; Intrument tes dan non tes untuk mengungkapkan kondisi dan masalah karir peserta didik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  (37) (38) (39) (40) (37) (38) (39) (40)&lt;br /&gt;11. Himpunan Data Data perkembangan, kondisi dan lingkungan diri pribadi Data perkembangan, kondisi hubungan dan lingkungan sosial Data kemampuan, kegiatan dan hasil belajar Data kemampuan, arah dan persiapan karir Data perkembangan, kondisi dan lingkungan diri pribadi Data perkembangan, kondisi hubungan dan lingkungan sosial&lt;br /&gt; Data kemampuan, kegiatan dan hasil belajar Data kemampuan, arah dan persiapan karir&lt;br /&gt;  (41) (42) (43) (44) (41) (42) (43) (44)&lt;br /&gt;12. Konferensi Kasus Pembahasan kasus-kasus masalah pribadi tertentu yang dialami peseta didik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Pembahasan kasus-kasus masalah sosial tertentu yang dialami peseta didik&lt;br /&gt;  Pembahasan kasus-kasus masalah belajar tertentu yang dialami peseta didik&lt;br /&gt;  Pembahasan kasus-kasus masalah karir tertentu yang dialami peseta didik&lt;br /&gt;  Pembahasan kasus-kasus masalah pribadi tertentu yang dialami peseta didik&lt;br /&gt;  Pembahasan kasus-kasus masalah sosial tertentu yang dialami peseta didik&lt;br /&gt;  Pembahasan kasus-kasus masalah belajar tertentu yang dialami peseta didik&lt;br /&gt;  Pembahasan kasus-kasus masalah karir tertentu yang dialami peseta didik&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; (45) (46) (47) (48) (45) (46) (47) (48)&lt;br /&gt;13. Kunjungan Rumah Pertemuan dengan orang tua, keluarga, peserta didik yang mengalami masalah pribadi&lt;br /&gt; Pertemuan dengan orang tua, keluarga, peserta didik yang mengalami masalah sosial&lt;br /&gt; Pertemuan dengan orang tua, keluarga, peserta didik yang mengalami masalah belajar&lt;br /&gt; Pertemuan dengan orang tua, keluarga, peserta didik yang mengalami masalah karir&lt;br /&gt; Pertemuan dengan orang tua, keluarga, peserta didik yang mengalami masalah&lt;br /&gt; Pertemuan dengan orang tua, keluarga, peserta didik yang mengalami masalah&lt;br /&gt; Pertemuan dengan orang tua, keluarga, peserta didik yang mengalami masalah&lt;br /&gt; Pertemuan dengan orang tua, keluarga, peserta didik yang mengalami masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  (49) (50) (51) (52) (49) (50) (51) (52)&lt;br /&gt;14. Tampilan Kepustakaan Bacaan dan rekaman tentang perkembangan dan kehidupan pribadi Bacaan dan rekaman tentang perkembangan dan kemampuan sosial Bacaan dan rekaman tentang kemampuan dan kegiatan belajar Bacaan dan rekaman tentang arah dan kehidupan karir Bacaan dan rekaman tentang perkembangan dan kehidupan pribadi Bacaan dan rekaman tentang perkembangan dan kemampuan sosial Bacaan dan rekaman tentang kemampuan dan kegiatan belajar Bacaan dan rekaman tentang arah dan kehidupan karir&lt;br /&gt;  (53) (54) (55) (56) (53) (54) (55) (56)&lt;br /&gt;15. Alih Tangan Kasus Pendalaman penanganan masalah pribadi Pendalaman penanganan masalah sosial Pendalaman penanganan masalah belajar Pendalaman penanganan masalah karir Pendalaman penanganan masalah pribadi Pendalaman penanganan masalah sosial Pendalaman penanganan masalah belajar Pendalaman penanganan masalah karir&lt;br /&gt;  (57) (58) (59) (60) (57) (58) (59) (60)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota Sahabat, 15 Juli 2006&lt;br /&gt;Konselor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ttd&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asti Cantika&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lampiran 2c : Contoh Program Bulanan Pelayanan Konseling&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PROGRAM BULANAN&lt;br /&gt;PELAYANAN KONSELING&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEKOLAH/MADRASAH : SMA I Perdana          SEMESTER : I&lt;br /&gt;KELAS   : XI IPA 2           BULAN : Juli-Desember 2006&lt;br /&gt;              KONSELOR  : Asti Cantika&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No &lt;br /&gt;Kegiatan Materi Bidang Pengembangan&lt;br /&gt;  Semester I (Juli-Desember 2006)&lt;br /&gt;  Bulan I Bulan II Bulan III Bulan IV Bulan V Bulan VI&lt;br /&gt;1 2 3 4 5 6 7 8&lt;br /&gt;1. Layanan Orientasi Fasilitas olahraga dan rekreasi&lt;br /&gt; Lingkungan sosial Fasilitas perpustakaan; laboratorium Lingkungan alam  Lingkungan sekitar sekolah Lingkungan budaya; kerja&lt;br /&gt;  (1) (2) (3) (1) (2) (4)&lt;br /&gt;2. Layanan Informasi Penjurusan di SMA Informasi karir terkait dengan jurusan di SMA&lt;br /&gt;  Informasi potensi diri Informasi perkembagan diri Informasi kegiatan belajar Informasi hasil sosiometri&lt;br /&gt;  (5) dan (8) (8) (5) (5) (7) (6)&lt;br /&gt;3. Layanan Penempatan/Penyaluran Penempatan/penya-luran sesuai kebutuhan siswa &lt;br /&gt; Penempatan/penya-luran sesuai kebutuhan siswa Penempatan/penya-luran sesuai kebutuhan siswa Penempatan/penya-&lt;br /&gt;luran sesuai kebutuhan siswa Penempatan/penya-&lt;br /&gt;luran sesuai kebutuhan siswa Penempatan/penya-&lt;br /&gt;luran sesuai kebutuhan siswa&lt;br /&gt;  (9,10, 11) (9,10, 11) (9,10, 11) (9,10, 11) (9,10, 11, 12) (9,10, 11, 12)&lt;br /&gt;4. Layanan Penguasaan Konten Kompetensi dan kebiasaan kehidupan pribadi/sosial&lt;br /&gt; Kompetensi dan kebiasaan kehidupan pribadi/sosial Kompetensi dan kemampuan kebiasaan kegiatan belajar Kompetensi dan kebiasaan kegiatan belajar Kompetensi dan kebiasaan kegiatan belajar Kompetensi dan kebiasaan kehidupan karir&lt;br /&gt;  (13, 14) (13, 14) (15) (15) (15) (16)&lt;br /&gt;5. Layanan Konseling Perorangan&lt;br /&gt; Masalah pribadi Masalah pribadi Masalah pribadi Masalah pribadi Masalah pribadi Masalah pribadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; (17, 18, 19, 20) (17, 18, 19, 20) (17, 18, 19, 20) (17, 18, 19, 20) (17, 18, 19, 20) (17, 18, 19, 20)&lt;br /&gt;6. Layanan Bimbingan Kelompok&lt;br /&gt; Topik tentang: Tahun ajaran baru Topik tentang: Kemampuan diri  Topik tentang: Kemampuan sosial Topik tentang: Kegiatan belajar Topik tentang: Hasil belajar Topik tentang: Arah karir&lt;br /&gt;  (21, 22, 23) (21) (22) (23) (23) (24)&lt;br /&gt;7. Layanan Konseling Kelompok Masalah pribadi/sosial/belajar/karir Masalah pribadi/sosial/belajar/karir  Masalah pribadi/sosial/belajar/karir Masalah pribadi/sosial/belajar/karir Masalah pribadi/sosial/belajar/karir Masalah pribadi/sosial/belajar/karir&lt;br /&gt;  (25, 26, 27, 28) (25, 26, 27, 28) (25, 26, 27, 28) (25, 26, 27, 28) (25, 26, 27, 28) (25, 26, 27, 28)&lt;br /&gt;8. Layanan Konsultasi&lt;br /&gt; Pemberdayaan pihak tertentu untuk dapat membantu peserta didik&lt;br /&gt; Pemberdayaan pihak tertentu untuk dapat membantu peserta didik Pemberdayaan pihak tertentu untuk dapat membantu peserta didik Pemberdayaan pihak tertentu untuk dapat membantu peserta didik Pemberdayaan pihak tertentu untuk dapat membantu peserta didik Pemberdayaan pihak tertentu untuk dapat membantu peserta didik&lt;br /&gt;  (29, 30, 31, 32) (29, 30, 31, 32) (29, 30, 31, 32) (29, 30, 31, 32) (29, 30, 31, 32) (29, 30, 31, 32)&lt;br /&gt;9. Layanan Mediasi&lt;br /&gt; Upaya mendamaikan pihak-pihak tertentu (peserta didik) yang berselisih&lt;br /&gt; Upaya mendamaikan pihak-pihak tertentu (peserta didik) yang berselisih Upaya mendamaikan pihak-pihak tertentu (peserta didik) yang berselisih Upaya mendamaikan pihak-pihak tertentu (peserta didik) yang berselisih Upaya mendamaikan pihak-pihak tertentu (peserta didik) yang berselisih Upaya mendamaikan pihak-pihak tertentu (peserta didik) yang berselisih&lt;br /&gt;  (31, 34, 35, 36) (31, 34, 35, 36) (31, 34, 35, 36) (31, 34, 35, 36) (31, 34, 35, 36) (31, 34, 35, 36)&lt;br /&gt;10. Aplikasi Instrumentasi&lt;br /&gt; Intrument tes dan non tes untuk mengungkapkan kondisi dan masalah peserta didik&lt;br /&gt; Intrument tes dan non tes untuk mengungkapkan kondisi dan masalah peserta didik&lt;br /&gt; Intrument tes dan non tes untuk mengungkapkan kondisi dan masalah peserta didik&lt;br /&gt; Intrument tes dan non tes untuk mengungkapkan kondisi dan masalah peserta didik&lt;br /&gt; Intrument tes dan non tes untuk mengungkapkan kondisi dan masalah peserta didik&lt;br /&gt; Intrument tes dan non tes untuk mengungkapkan kondisi dan masalah peserta didik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  (37, 38, 39, 40) (37, 38, 39, 40) (37, 38, 39, 40) (37, 38, 39, 40) (37, 38, 39, 40) (37, 38, 39, 40)&lt;br /&gt;11. Himpunan Data Data perkembangan, kondisi dan lingkungan pribadi/sosial/belajar/ karir&lt;br /&gt; Data perkembangan, kondisi dan lingkungan pribadi/sosial/belajar/ karir&lt;br /&gt; Data perkembangan, kondisi dan lingkungan pribadi/sosial/belajar/ karir&lt;br /&gt; Data perkembangan, kondisi dan lingkungan pribadi/sosial/belajar/ karir&lt;br /&gt; Data perkembangan, kondisi dan lingkungan pribadi/sosial/belajar/ karir&lt;br /&gt; Data perkembangan, kondisi dan lingkungan pribadi/sosial/belajar/ karir&lt;br /&gt;  (41,42, 43, 44) (41,42, 43, 44) (41,42, 43, 44) (41,42, 43, 44) (41,42, 43, 44) (41,42, 43, 44)&lt;br /&gt;12. Konferensi Kasus&lt;br /&gt; Pembahasan kasus-kasus tertentu yang dialami peseta didik&lt;br /&gt;  Pembahasan kasus-kasus tertentu yang dialami peseta didik&lt;br /&gt;  Pembahasan kasus-kasus tertentu yang dialami peseta didik&lt;br /&gt;  Pembahasan kasus-kasus tertentu yang dialami peseta didik&lt;br /&gt;  Pembahasan kasus-kasus tertentu yang dialami peseta didik&lt;br /&gt;  Pembahasan kasus-kasus tertentu yang dialami peseta didik&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  (45, 46, 47, 48) (45, 46, 47, 48) (45, 46, 47, 48) (45, 46, 47, 48) (45, 46, 47, 48) (45, 46, 47, 48)&lt;br /&gt;13. Kunjungan Rumah&lt;br /&gt; Pertemuan dengan orang tua, keluarga peserta didik yang mengalami masalah pribadi/sosial/belajar/karir.&lt;br /&gt; Pertemuan dengan orang tua, keluarga peserta didik yang mengalami masalah pribadi/sosial/belajar/karir.&lt;br /&gt; Pertemuan dengan orang tua, keluarga peserta didik yang mengalami masalah pribadi/sosial/belajar/karir.&lt;br /&gt; Pertemuan dengan orang tua, keluarga peserta didik yang mengalami masalah pribadi/sosial/belajar/karir.&lt;br /&gt; Pertemuan dengan orang tua, keluarga peserta didik yang mengalami masalah pribadi/sosial/belajar/karir.&lt;br /&gt; Pertemuan dengan orang tua, keluarga peserta didik yang mengalami masalah pribadi/sosial/belajar/karir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  (49, 50, 51, 52) (49, 50, 51, 52) (49, 50, 51, 52) (49, 50, 51, 52) (49, 50, 51, 52) (49, 50, 51, 52)&lt;br /&gt;14. Tampilan Kepustakaan Bacaan dan rekaman tentang perkembangan/ kehidupan/kegiatan pribadi/sosial/belajar/karir&lt;br /&gt; Bacaan dan rekaman tentang perkembangan/ kehidupan/kegiatan pribadi/sosial/belajar/karir Bacaan dan rekaman tentang perkembangan/ kehidupan/kegiatan pribadi/sosial/belajar/karir Bacaan dan rekaman tentang perkembangan/ kehidupan/kegiatan pribadi/sosial/belajar/karir Bacaan dan rekaman tentang perkembangan/ kehidupan/kegiatan pribadi/sosial/belajar/karir Bacaan dan rekaman tentang perkembangan/ kehidupan/kegiatan pribadi/sosial/belajar/karir&lt;br /&gt;  (53, 54, 55, 56) (53, 54, 55, 56) (53, 54, 55, 56) (53, 54, 55, 56) (53, 54, 55, 56) (53, 54, 55, 56)&lt;br /&gt;15. Alih tangan Kasus Pendalaman penanganan masalah pribadi/sosial/belajar/karir&lt;br /&gt; Pendalaman penanganan masalah pribadi/sosial/belajar/karir&lt;br /&gt; Pendalaman penanganan masalah pribadi/sosial/belajar/karir&lt;br /&gt; Pendalaman penanganan masalah pribadi/sosial/belajar/karir&lt;br /&gt; Pendalaman penanganan masalah pribadi/sosial/belajar/karir&lt;br /&gt; Pendalaman penanganan masalah pribadi/sosial/belajar/karir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  (57, 58, 59, 60) (57, 58, 59, 60) (57, 58, 59, 60) (57, 58, 59, 60) (57, 58, 59, 60) (57, 58, 59, 60)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota Sahabat, 15 Juli 2006&lt;br /&gt;Konselor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ttd&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asti Cantika&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lampiran 2 d : Contoh Program Mingguan Pelayanan Konseling&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PROGRAM MINGGUAN&lt;br /&gt;PELAYANAN KONSELING&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEKOLAH/MADRASAH : SMA I Perdana BULAN : Juli 2006&lt;br /&gt;KELAS  : XI IPA 1, XI IPA 2 MINGGU : IV (24-29 Juli 2006)&lt;br /&gt;    XI IPS 1, XI IPS 2 KONSELOR : Asti Cantika&lt;br /&gt;No Kegiatan Materi Bidang Pengembangan&lt;br /&gt;  Pribadi Sosial Belajar Karir&lt;br /&gt;1 2 3 4 5 6&lt;br /&gt;1. Layanan Orientasi - - - -&lt;br /&gt;2. Layanan Informasi - - Penjurusan bagi siswa SMA &lt;br /&gt;    (8) &lt;br /&gt;3. Layanan Penempatan/Penyaluran - - - -&lt;br /&gt;4. Layanan Penguasaan Konten - - - -&lt;br /&gt;5. Layanan Konseling Perorangan Masalah Kehidupan pribadi*)&lt;br /&gt;(17) Masalah hubungan sosial*)&lt;br /&gt;(18) Masalah belajar*)&lt;br /&gt;(19) Masalah karir*)&lt;br /&gt;(20)&lt;br /&gt;6. Layanan Bimbingan Kelompok - Teman baru&lt;br /&gt;(22) Memasuki tahun ajaran baru&lt;br /&gt;(27) &lt;br /&gt;7. Layanan Konseling Kelompok Masalah kehidupan pribadi*)&lt;br /&gt;(17) Masalah hubungan sosial*)&lt;br /&gt;(18) Masalah belajar*)&lt;br /&gt;(19) Masalah karir*)&lt;br /&gt;(20)&lt;br /&gt;8. Layanan Konsultasi - - - -&lt;br /&gt;9. Layanan Mediasi - - - -&lt;br /&gt;10. Aplikasi Instrumentasi Pengungkapan masalah**) Pengungkapan masalah**) Pengungkapan masalah**) Pengungkapan masalah**)&lt;br /&gt;  (37, 38, 39, 40) (37, 38, 39, 40) (37, 38, 39, 40) (37, 38, 39, 40)&lt;br /&gt;11. Himpunan Data    &lt;br /&gt;12. Konferensi Kasus - - - -&lt;br /&gt;13. Kunjungan Rumah - - - -&lt;br /&gt;14.&lt;br /&gt;Tampilan Kepustakaan ***) ***) ***) ***)&lt;br /&gt;15. Alih Tangan Kasus - - - -&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lampiran 3 : Contoh Rencana Program Harian Pelayanan Konseling&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;PROGRAM HARIAN&lt;br /&gt;PELAYANAN KONSELING&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Satuan Layanan (SATLAN)&lt;br /&gt;• Satuan Kegiatan Pendukung (SATKUNG)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No. Tanggal/&lt;br /&gt;Waktu Jam &lt;br /&gt;Pemb Sasaran Kegiatan Kegiatan &lt;br /&gt;Layanan/Pendukung Materi Kegiatan Alat Bantu Tempat Pelaksana Keterangan&lt;br /&gt;1 2  3 5 4 6 7 8 9&lt;br /&gt;1. 24 Juli 2006&lt;br /&gt;10.00–11.30 2 Kelas XI IPA 1 Aplikasi intrumentasi Pengungkapan masalah umum AUM Umum Format SLTA Ruang kelas XI IPA 1 Konselor Hasil langsung diolah  melalui program komputer&lt;br /&gt;     (37, 38, 39, 40)    &lt;br /&gt;2. 24 Juli 2006&lt;br /&gt;11.45–13.15 2 Kelas XI IPA 2 Aplikasi intrumentasi Pengungkapan masalah umum AUM Umum Format SLTA Ruang kelas XI IPA 2 Konselor Hasil langsung diolah  melalui program komputer&lt;br /&gt;     (37, 38, 39, 40)    &lt;br /&gt;3. 25 Juli 2006&lt;br /&gt;10.15–11.45 2 Kelas XI IPS 1 Aplikasi intrumentasi Pengungkapan masalah umum AUM Umum Format SLTA Ruang kelas XI IPS 1 Konselor Hasil langsung diolah  melalui program komputer&lt;br /&gt;     (37, 38, 39, 40)    &lt;br /&gt;4. 25 Juli 2006&lt;br /&gt;11.45–13.15 2 Kelas XI IPS 2 Aplikasi intrumentasi Pengungkapan masalah umum AUM Umum Format SLTA Ruang kelas XI IPS 2 Konselor Hasil langsung diolah  melalui program komputer&lt;br /&gt;     (37, 38, 39, 40)    &lt;br /&gt;5. 26 Juli 2006&lt;br /&gt;10.00–11.30 2 Kelas XI IPA 1 Layanan Informasi Penjurusan bagi siswa SMA  Film tentang kegiatan praktikum di laboratorium Kelas XI IPA 1 Konselor Layanan pertama secara klasikal&lt;br /&gt;     (5), (6), (7), (8)    &lt;br /&gt;6. 26 Juli 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16.00- ... 2 Klp. I/XI IPA 2&lt;br /&gt;Andika,Restysari,&lt;br /&gt;Canggih, Pandu, Halim, Nia, Asti, Lisa, Tuti, SugI Layanan Bimbingan Kelompok&lt;br /&gt; Memasuki tahun ajaran baru KTSP Kelas XI SMA dan buku wajib Ruang Perpustakaan sekolah Konselor dan Wali kelas XI  IPA 2 Layanan kelompok pertama&lt;br /&gt;     (27)    &lt;br /&gt;7. 26 Juli 2006 &lt;br /&gt;16.00- ... 2 Buletin AH&lt;br /&gt; Layanan Konseling Perorangan*)  - Ruang Konseling Konselor  -&lt;br /&gt;     (19)    &lt;br /&gt;8. 27 Juli 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16.00- ... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Klp. II/XI IPA 2&lt;br /&gt;Anisaa, Dedy, Meutia Sari, Boyke, Baby Ine, Yory, Romez, Winnie, Dony, Mesra M. Layanan Bimbingan Kelompok&lt;br /&gt; Memasuki tahun ajaran baru KTSP Kelas XI SMA dan buku wajib Ruang Perpustakaan sekolah Konselor dan Wali kelas XI  IPA 2 Layanan kelompok pertama&lt;br /&gt;9. 28 Juli 2006&lt;br /&gt;16.00 - ... 2 Klp. I/XI IPA 1&lt;br /&gt;Afizah, &lt;br /&gt;Rahma,&lt;br /&gt;Nabila,&lt;br /&gt;Ical, aril,&lt;br /&gt;Bagas,&lt;br /&gt;Ano, adi,&lt;br /&gt;Upik,&lt;br /&gt;Alexander Layanan Konseling Kelompok Bakat untuk memasuki jurusan IPA *) KTSP Kelas XI SMA dan buku wajib Ruang Konseling Kelompok Konselor dan Wali Kelas XI IPA 1 Kelompok membahas masalah pribadi seorang anggota kelompok&lt;br /&gt;     (29)    &lt;br /&gt;10. 29 Juli 2005&lt;br /&gt;15.00 - ... 2 Sandra Layanan Konseling Perorangan *) *) - Ruang Konseling Konselor -&lt;br /&gt;     (19)    &lt;br /&gt;11. 29 Juli 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16.00 - ... 2 Klp. II/XI IPA 1&lt;br /&gt;Bintang, Wulan, Candra, Alifa, Kartika, Dinda, Nana, Yuri, Putri, Zamris Layanan Bimbingan Kelompok&lt;br /&gt; Memasuki tahun ajaran baru KTSP Kelas XI SMA dan buku wajib Ruang Perpustakaan sekolah Konselor dan Wali kelas XI  IPA 1 Layanan kelompok pertama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lampiran 4 : Contoh Lapelprog          &lt;br /&gt;LAPORAN PELAKSANAAN PROGRAM&lt;br /&gt;PELAYANAN KONSELING&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No. Tanggal Kegiatan Jam&lt;br /&gt;Pemb. Sasaran Kegiatan Kegiatan Layanan/Pendukung Materi Kegiatan Evaluasi&lt;br /&gt;      Hasil Proses&lt;br /&gt;1. 24 Juli 2006&lt;br /&gt;10.00–11.30 2 Kelas XI IPA 1 Aplikasi intrumentasi Pengungkapan masalah umum • Laiseg: Siswa memahami tujuan pengungkapan masalah dan sangat mengharapkan hasil-hasilnya &lt;br /&gt;• Laijapen: akan dilaksanakan beberapa minggu kemudian Pengadministrasikan AUM berjalan lancar; lembar jawaban diolah dan hasilnya akan disampaikan kepada siswa seminggu kemudian &lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;2. 24 Juli 2006&lt;br /&gt;11.45–13.15 2 Kelas XI IPA 2 Aplikasi intrumentasi Pengungkapan masalah umum • Laiseg: Siswa memahami tujuan pengungkapan masalah dan sangat mengharapkan hasil-hasilnya &lt;br /&gt; Pengadministrasikan AUM berjalan lancar; seorang siswa tidak hadir; lembar jawaban diolah dan hasilnya akan disampaikan seminggu kemudian kepada siswa. &lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;3. 25 Juli 2006&lt;br /&gt;10.15–11.45 2 Kelas XI IPS 1 Aplikasi intrumentasi Pengungkapan masalah umum • Laiseg: Siswa memahami tujuan pengungkapan masalah dan sangat mengharapkan hasil-hasilnya &lt;br /&gt;• Laijapen: akan dilaksanakan beberapa minggu kemudian Pengadministrasikan AUM berjalan lancar; siswa banyak bertanya; lembar jawaban diolah dan hasilnya disampaikan kepada siswa seminggu kemudian  &lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;4. 25 Juli 2006&lt;br /&gt;11.45–13.15 2 Kelas XI IPS 2 Aplikasi intrumentasi Pengungkapan masalah umum • Laiseg: Siswa memahami tujuan pengungkapan masalah dan sangat mengharapkan hasil-hasilnya &lt;br /&gt;• Laijapen: akan dilaksanakan beberapa minggu kemudian Pengadministrasikan AUM berjalan lancar; seorang siswa terlambat sehingga diberi waktu tersendiri; lembar jawaban diolah dan hasilnya disampaikan kepada siswa seminggu kemudian. &lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;5. 26 Juli 2006&lt;br /&gt;10.15–11.45&lt;br /&gt; 2 Kelas XI IPA 1 Layanan Informasi Penjurusan bagi siswa SMA  • Laiseg: Siswa memahami arah penjurusan &lt;br /&gt;• Laijapen: akan dilaksanakan beberapa minggu kemudian Penyajian disertai diskusi dengan partisipasi aktif siswa &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;26 Juli 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16.00-17.15 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klp. I/XI IPA 2&lt;br /&gt;Andika,Restysari,&lt;br /&gt;Canggih, Pandu, Halim, Nia, Asti, Lisa, Tuti, SugI &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Layanan Bimbingan kelompok&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasuki tahun ajaran baru &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Laiseg: Anggota kelompok memahami tuntutan kelas baru&lt;br /&gt;• Laijapen: akan dilaksanakan beberapa minggu kemudian &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siswa gembira mengikutinya; kekurangan waktu karena hari semakin sore; kesempatan berikutnya membahas topik lain.&lt;br /&gt;7. 26 Juli 2006&lt;br /&gt;16.00 – 17.30 2 Buletin AH Layanan Konseling perorangan Kemampuan melanjutkan pelajaran  • Laiseg: Siswa dengan senang hati memahami dan berupaya memenuhi tuntutan menjalani kelas XI IPA di SMA &lt;br /&gt;• Laijapen: akan dilaksanakan beberapa minggu kemudian Agak terganggu oleh suasana di luar ruangan konseling; kesempatan berikutnya membahas masalah siswa lain.&lt;br /&gt;8. 27 Juli 2006-16.00-17.30 2 Klp. II/XI IPA 2&lt;br /&gt;Anisaa, Dedy, Meutia Sari, Boyke, Baby Ine, Yory, Romez, Winnie, Dony, Mesra M. Layanan Bimbingan Kelompok Memasuki tahun ajaran baru • Laiseg: Anggota kelompok memahami tuntutan kelas baru&lt;br /&gt;• Laijapen: akan dilaksanakan beberapa minggu kemudian Siswa gembira mengikutinya; kekurangan waktu karena hari semakin sore; kesempatan berikutnya membahas topik lain.&lt;br /&gt;9. 28 Juli 2006&lt;br /&gt;16.00 – 17.40  2 Klp. I/XI IPA 1&lt;br /&gt;Afizah, rahma,&lt;br /&gt;Nabila, Ical, aril,&lt;br /&gt;Bagas, Ano, adi, upik, Alexander Layanan Konseling Kelompok Bakat untuk memasuki jurusan IPA • Laiseg: Siswa tidak perlu ragu tentang kecocokan dirinya untuk jurusan IPA&lt;br /&gt;• Laijapen: akan dilaksanakan beberapa minggu kemudian Anggota kelompok secara aktif memberikan sumbangan yang sangat berarti bagi siswa yang masalahnya dibahas. Kesempatan berikutnya membahas masalah siswa lain.&lt;br /&gt;10. 29 Juli 2006&lt;br /&gt;15.00 – 16.30 2 Sandra Layanan Konseling Perorangan Pindah kelas • Laiseg: Siswa menunda kependahannya serta memahami dan berupaya memenuhi tuntutan menjalani kelas XI IPA di SMA &lt;br /&gt;• Laijapen: akan dilaksanakan beberapa minggu kemudian Agak terganggu oleh suasana di luar ruangan konseling; perlu bicara dengan orang tua.&lt;br /&gt;11. 29 Juli 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16.00-17.15 2 Klp. II/XI IPA 1&lt;br /&gt;Bintang, Wulan, Candra, Alifa, Kartika, Dinda, Nana, Yuri, Putri, Zamris &lt;br /&gt;Layanan Bimbingan Kelopmpok Memasuki tahun ajaran baru • Laiseg: Siswa tidak perlu ragu tentang kecocokan dirinya untuk jurusan IPA&lt;br /&gt;• Laijapen: akan dilaksanakan beberapa minggu kemudian Siswa antusias; mereka banyak menampilkan pengalaman pribadi. Kesempatan berikutnya membahas topik lain.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lampiran 5&lt;br /&gt;Volume Kegiatan Mingguan &lt;br /&gt;Pelayanan Konseling&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Volume kegiatan mingguan konselor disusun dengan   memper-hatikan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Peserta didik yang diasuh seorang konselor : 150 orang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Jumlah jam pembelajaran wajib : sesuai peraturan yang &lt;br /&gt;   berlaku &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Satu kali kegiatan layanan atau pendukung &lt;br /&gt; konseling ekuivalen dengan   : 2 jam pembelajaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas kegiatan mingguan seorang konselor minimal berupa 9 (sembilan) kali kegiatan (layanan atau pendukung) tiap-tiap satu minggu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Semua kegiatan (minimal) mingguan tersebut secara langsung ditujukan kepada seluruh peserta didik (150 orang) yang diasuh konselor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Semua kegiatan (minimal) mingguan tersebut diselenggarakan di dalam kelas/sewaktu jam pembelajaran berlangsung dan atau di luar kelas/di luar jam pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Kegiatan pelayanan konseling, baik berupa layanan maupun pendukungnya, yang diselenggarakan di dalam maupun di luar jam pembelajaran dalam satu minggu dihitung ekuivalensinya dengan jam pembelajaran mingguan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lampiran 6: Jenis dan Frekwensi Layanan yang Diterima Peserta Didik &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LAYANAN KONSELING&lt;br /&gt;YANG DITERIMA PESERTA DIDIK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEKOLAH/MADRASAH: SMA I Perdana  SEMESTER  : II (Januari-Juni 2006)&lt;br /&gt;KELAS : X 5 KONSELOR : Afif Putra Zaman&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;      Jenis Layanan&lt;br /&gt;   Orien&lt;br /&gt;tasi Infor&lt;br /&gt;masi Penem/&lt;br /&gt;peny Peng&lt;br /&gt;kont Kons peror Bimb klp Kons klp Konsul&lt;br /&gt;tasi  Medi&lt;br /&gt;asi Jml&lt;br /&gt;1 Amir Hardiman 05161 1 4 1 5 1 2 2 - - 16&lt;br /&gt;2 Arnoldi 05162 - 3 2 3 - 1 2 - - 11&lt;br /&gt;3 Asma Munir 05163 1 4 1 5 - 2 2 - - 15&lt;br /&gt;4 Asri Asih 05164 1 4 - 5 - 2 1 - - 13&lt;br /&gt;5 Azimat Kurnia 05165 1 4 - 5 2 2 1 - - 15&lt;br /&gt;6 Bagir Firmansyah 05166 1 4 1 5 - 2 1 - - 14&lt;br /&gt;7 Bagus Hutajulu 05167 1 4 1 5 1 2 2 - - 16&lt;br /&gt;8 Charles Darmawan 05168 1 3 2 4 2 2 2 -   16&lt;br /&gt;9 Daeng Dodi Dermawan 05169 1 4 1 4 - 2 2 - 1 15&lt;br /&gt;10 Darius Manca 05170 1 4 1 5 - 2 1 - 1 15&lt;br /&gt;11 Daulat Romy 05171 1 4 1 5 - 2 1 - - 14&lt;br /&gt;12 Goza Imas 05172 1 4 1 5 1 2 2 - - 16&lt;br /&gt;13 Han Ping Sun 05173 1 4 1 5 1 1 2 - - 15&lt;br /&gt;14 Jajang Jawara 05174 1 4 - 5 - 2 2 - - 14&lt;br /&gt;15 Jaman Tiarno 05175 - 4 1 5 2 2 2 - - 16&lt;br /&gt;16 Jayeng Jayakersa 05176 1 1 - 5 1 1 1 - - 10&lt;br /&gt;17 Kusnadi 05177 1 4 - 5 1 2 2 - - 15&lt;br /&gt;18 Laris Juwita 05178 1 4 - 5 1 2 1 - 1 15&lt;br /&gt;19 Lintang Suminar 05179 1 4 - 5 2 2 1 - - 15&lt;br /&gt;20 Lolong Edi Cahaya 05180 1 4 1 5 1 2 2 - 1 17&lt;br /&gt;21 Lusiana 05181 1 4 2 5 1 2 2 - - 17&lt;br /&gt;22 Mahmud Kiram 05182 1 4 1 5 1 1 2 - - 15&lt;br /&gt;23 Marcus Domigus Ard 05183 - 4 1 5 1 2 1 - - 14&lt;br /&gt;24 Osa Malik 05184 1 4 1 5 - 2 2 - - 15&lt;br /&gt;25 Prajamuda Edi 05185 1 4 - 5 - 2 2 - - 14&lt;br /&gt;26 Pupung Is 05186 1 4 1 5 1 2 2 - - 16&lt;br /&gt;27 Rekso Wibowo 05187 1 4 1 5 1 2 2 - - 16&lt;br /&gt;28 Rustandi 05188 1 4 1 5 1 1 2 1 - 16&lt;br /&gt;29 Simon Talaudi 05189 1 4 1 5 2 1 2 - - 16&lt;br /&gt;30 Susiati 05190 1 4 1 5 - 2 1 - - 14&lt;br /&gt;31 Sutarti 05191 1 3 1 3 - 2 1 - - 11&lt;br /&gt;32 Sutarto Audiro 05192 1 4 1 5 1 1 1 - - 14&lt;br /&gt;33 Tresno Jatidiri 05193 1 4 3 5 - 1 2 - - 16&lt;br /&gt;34 Usahadi Kayo 05194 1 4 1 5 1 2 2 1 - 17&lt;br /&gt;35 Wayan Sutresna 05195 1 3 1 5 1 2 2 - - 15&lt;br /&gt;36 Yuli Esiani 05196 1 4 1 4 1 2 2 - - 15&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lampiran 7 : Contoh Laporan Nilai Hasil Kegiatan Layanan Konseling&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NILAI HASIL&lt;br /&gt;LAYANAN KONSELING&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEKOLAH/MADRASAH: SMA I Perdana  SEMESTER  : II (Januari-Juni 2006)&lt;br /&gt;KELAS : X 5 KONSELOR : Afif Putra Zaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No. N a m a NIS Nilai Keterangan&lt;br /&gt;1. Amir Hardiman 05161 A -&lt;br /&gt;2. Arnoldi 05162 B PK&lt;br /&gt;3. Asma Munir 05163 B -&lt;br /&gt;4. Asri Asih 05164 A -&lt;br /&gt;5. Azimat Kurnia 05165 A -&lt;br /&gt;6. Bagir Firmansyah 05166 A -&lt;br /&gt;7. Bagus Hutajulu 05167 A -&lt;br /&gt;8. Charles Darmawan 05168 A -&lt;br /&gt;9. Daeng Dodi Dermawan 05169 A -&lt;br /&gt;10. Darius Manca 05170 A -&lt;br /&gt;11. Daulat Romy 05171 A -&lt;br /&gt;12. Goza Imas 05172 A -&lt;br /&gt;13. Han Ping Sun 05173 A -&lt;br /&gt;14. Jajang Jawara 05174 B -&lt;br /&gt;15. Jaman Tiarno 05175 A -&lt;br /&gt;16. Jayeng Jayakersa 05176 B -&lt;br /&gt;17. Kusnadi 05177 A -&lt;br /&gt;18. Laris Juwita 05178 A -&lt;br /&gt;19. Lintang Suminar 05179 A -&lt;br /&gt;20. Lolong Edi Cahaya 05180 A -&lt;br /&gt;21. Lusiana 05181 A -&lt;br /&gt;22. Mahmud Kiram 05182 B -&lt;br /&gt;23. Marcus Domigus Ard 05183 A -&lt;br /&gt;24. Osa Malik 05184 A -&lt;br /&gt;25. Prajamuda Edi 05185 A -&lt;br /&gt;26. Pupung Is 05186 A -&lt;br /&gt;27. Rekso Wibowo 05187 B -&lt;br /&gt;28. Rustandi 05188 A -&lt;br /&gt;29. Simon Talaudi 05189 B -&lt;br /&gt;30. Susiati 05190 B -&lt;br /&gt;31. Sutarti 05191 B PK&lt;br /&gt;32. Sutarto Audiro 05192 A -&lt;br /&gt;33. Tresno Jatidiri 05193 A -&lt;br /&gt;34. Usahadi Kayo 05194 A -&lt;br /&gt;35. Wayan Sutresna 05195 A -&lt;br /&gt;36. Yuli Esiani 05196 A -&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan:          Kota Sahabat, 10 Juni 2006&lt;br /&gt;• Penilaian difokuskan pada kehadiran siswa dalam&lt;br /&gt;pelaksanaan pelayanan konseling dan hasil laiseg,&lt;br /&gt;laijapen dan laijapang.           &lt;br /&gt;• Nilai yang diberikan hanya ada dua kategori :  &lt;br /&gt;Nilai A berarti memuaskan         &lt;br /&gt;Nilai B berarti memadai       &lt;br /&gt;• Kolom keterangan diisi PK (perhatian khusus) apabila    &lt;br /&gt;siswa yang bersangkutan masih perlu mendapat&lt;br /&gt;perhatian khusus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Penilaian ini bersifat  pengembangan dan tidak untuk menentukan kenaikan kelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lampiran 8 : Rincian Kewajiban Konselor &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KONSELOR YANG BERTUGAS DI SEKOLAH/MADRASAH DIWAJIBKAN MENGUASAI DAN MENYELENGGARAKAN HAL-HAL BERIKUT:&lt;br /&gt;1. Menguasai spektrum pelayanan pada umumnya, khususnya pelayanan profesional konseling&lt;br /&gt;a. Konselor menguasai spektrum pelayanan pada umumnya, yaitu pelayanan dasar, pelayanan pengembangan, dan pelayanan teraputik.&lt;br /&gt;1) Pelayanan dasar dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan peserta didik yang paling elementer, yaitu kebutuhan makan dan minum, udara segar, dan kesehatan, serta kebutuhan hubungan sosio-emosional. Orang tua dan orang-orang yang dekat (significant persons) memiliki peranan paling dominan dalam pemenuhan kebutuhan dasar peserta didik.&lt;br /&gt;2) Pelayanan pengembangan dimaksudkan mengembangkan potensi peserta didik sesuai dengan tahap-tahap dan tugas-tugas perkembangannya. Dengan pelayanan pengembangan yang cukup baik peserta didik akan dapat menjalani kehidupan dan perkembangan dirinya dengan  wajar, tanpa beban yang memberatkan, memperoleh penyaluran bagi pengembangan potensi yang dimiliki, serta menatap masa depan dengan cerah. Upaya pendidikan pada umumnya merupakan pelaksanaan pelayanan pengembangan bagi peserta didik. Di sekolah/madrasah, konselor, guru,  dan tenaga kependidikan  memiliki peran dominan dalam penyelenggaraan pengembangan terhadap peserta didik.&lt;br /&gt;3) Pelayanan teraputik dimaksudkan untuk menangani pemasalahan yang diakibatkan oleh gangguan terhadap pelayanan dasar dan pelayanan pengembangan. Permasalahan tersebut dapat terkait dengan kehidupan pribadi, kehidupan sosial, kehidupan keluarga, kegiatan belajar, karir, serta kehidupan keberagamaan. Dalam upaya menangani permasalahan peserta didik, konselor memiliki peran dominan. Peran konselor dapat menjangkau aspek-aspek pelayanan dasar dan pengembangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Konselor menguasai spektrum pelayanan profesional konseling, meliputi:&lt;br /&gt;1) Wawasan keilmuan, keterampilan keahlian, kode etik, dan organisasi profesi konseling.&lt;br /&gt;2) Paradigma, visi dan misi pelayanan konseling&lt;br /&gt;3) Bidang pelayanan konseling&lt;br /&gt;4) Fungsi, prinsip, dan asas konseling&lt;br /&gt;5) Jenis layanan, kegiatan pendukung, dan format pelayanan konseling&lt;br /&gt;6) Operasionalisasi kegiatan  konseling terhadap berbagai sasaran pelayanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Merumuskan dan menjelaskan peran profesional konselor kepada pihak-pihak terkait, terutama peserta didik, pimpinan sekolah/madrasah, sejawat pendidik, dan orang tua&lt;br /&gt;a. Sejak awal bertugas di sekolah/madrasah, konselor merumuskan secara konkrit dan jelas tugas dan kewajiban profesionalnya dalam pelayanan konseling, meliputi:&lt;br /&gt;1) Struktur pelayanan konseling&lt;br /&gt;2) Program pelayanan konseling &lt;br /&gt;3) Pengelolaan program pelayanan konseling &lt;br /&gt;4) Evaluasi hasil dan proses pelayanan konseling&lt;br /&gt;5) Tugas dan kewajiban pokok konselor.&lt;br /&gt;b. Hal-hal sebagaimana tersebut pada butir a dijelaskan kepada peserta didik, pimpinan, dan sejawat pendidik di sekolah/madrasah, dan orang tua secara profesional dan proporsional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Melaksanakan tugas pelayanan profesional konseling yang setiap kali dipertanggungjawabkan kepada pemangku kepentingan, terutama pimpinan sekolah/madrasah, orang tua, dan peserta didik.&lt;br /&gt;a. Unsur-unsur pokok dalam tugas pelayanan konseling di sekolah/madrasah:&lt;br /&gt;1) Jumlah peserta didik yang  diasuh seorang konselor 150 orang. Konselor wajib memberikan pelayanan konseling kepada seluruh peserta didik yang diasuhnya sesuai kebutuhan dan masalah masing-masing.&lt;br /&gt;2) Program tahunan, semesteran, bulanan, mingguan, dan kegiatan harian pelayanan konseling. Program-program ini disusun secara proporsional dan berkesinambungan antarkelas dan antar jenjang kelas di sekolah/madrasah.&lt;br /&gt;3) SATLAN, SATKUNG, dan LAPELPROG. Seluruh program kegiatan direncanakan, dilaksanakan, dilaporkan secara tertulis dan didokumentasikan.&lt;br /&gt;4) Pelayanan terhadap masing-masing peserta didik yang diasuh sebanyak minimal 10 (sepuluh) kali kegiatan pelayanan konseling setiap semester. Konselor melayani seluruh peserta didik asuhannya; tanpa kecuali.&lt;br /&gt;5) Jumlah jam pembelajaran wajib pelayanan konseling seminggu ekuivalen dengan jam pembelajaran wajib guru. Jumlah jam pembelajaran wajib ini dihitung perbulan dengan menggunakan Format Perhitungan Jam Kegiatan Pelayanan Konseling di Sekolah/Madrasah.&lt;br /&gt;b. Tugas yang mengandung unsur-unsur pokok sebagaimana tersebut di atas merupakan “perjanjian kerja” yang wajib dilaksanakan oleh konselor dan secara berkala dipertanggungjawabkan kepada pimpinan sekolah/madrasah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Mewaspadai hal-hal negatif yang dapat mengurangi keefektifan pelayanan profesional konseling&lt;br /&gt;a. Hal-hal berikut ini perlu dicegah untuk tidak terjadi atau tidak dilakukan oleh konselor:&lt;br /&gt;1) Tercerderainya asas kerahasiaan, karena konselor secara langsung ataupun tidak langsung mengemukakan hal-hal berkenaan dengan diri peserta didik yang tidak boleh atau tidak layak diketahui orang lain.&lt;br /&gt;2) Memberikan label kepada peserta didik, baik perorangan maupun kelompok, dengan cara apapun, yang berkonotasi negatif terhadap peserta didik yang bersangkutan.&lt;br /&gt;3) Bertindak laksana “polisi sekolah” yang memata-matai ataupun mencari-cari kesalahan peserta didik, seperti bertindak sebagai piket keamanan, perazzia, pencari pencuri. Dalam hal ini, konselor dapat menerima peserta didik yang terjaring dalam kegiatan “kepolisian sekolah” yang dilakukan oleh pihak lain, untuk mendapatkan pelayanan konseling.&lt;br /&gt;4) Membuat ataupun menyetujui dibuatnya “surat perjanjian” dengan peserta didik yang berkonotasi atau berakhir pada sanksi ataupun hukuman tertentu. Dalam hal ini, konselor dapat menerima peserta didik yang telah membuat perjanjian dengan pihak lain, untuk mendapatkan pelayanan konseling agar  terhindar dari sanksi ataupun hukuman sebagaimana dinyatakan dalam “surat perjanjian”.&lt;br /&gt;5) Kondisi tempat ataupun ruang kerja konselor yang dapat mengganggu kesukarelaan, ketenangan, dan terjaminnnya kerahasiaan peserta didik yang datang kepada konselor untuk mendapatkan pelayanan konseling.&lt;br /&gt;b. Hal-hal sebagaimana tersebut pada butir a sejak awal disampaikan oleh konselor kepada pihak-pihak terkait, terutama peserta didik, sejawat pendidik, dan pimpinan sekolah/madrasah untuk mendapatkan dukungan dan faslitas dalam mewujudkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Mengembangkan kemampuan profesional konseling secara berkelanjutan&lt;br /&gt;a. Pengembangan kemampuan profesional konselor dapat dilaksanakan melalui:&lt;br /&gt;1) Pengawasan kegiatan pelayanan konseling di sekolah/madrasah, baik yang dilaksanakan secara interen oleh pimpinan sekolah/madrasah, maupun oleh Pengawas Sekolah Bidang Konseling.&lt;br /&gt;2) Diskusi profesional yang diikuti oleh para konselor sekolah/madrasah (dalam satu sekolah/madrasah ataupun antarsekolah/madrasah) untuk membahas kasus-kasus peserta didik.&lt;br /&gt;3) Partisipasi dalam kegiatan keorganisasian profesi konseling&lt;br /&gt;4) Pendidikan dalam-jabatan (seperti penataran) dan pendidikan lanjutan dalam bidang konseling.&lt;br /&gt;5) Kegiatan dalam rangka kredensialisasi untuk sertifikasi, akreditasi, dan atau lisensi dalam bidang konseling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Untuk terlaksananya hal-hal sebagaimana tersebut pada butir a konselor membicarakannya dengan pimpinan sekolah/madrasah dan pihak-pihak lain berkenaan dengan perencanaan, persiapan, pelaksanaan, dan pelaporannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;CONTOH ISIAN FORMAT&lt;br /&gt;PERHITUNGAN JAM KEGIATAN&lt;br /&gt;PELAYANAN KONSELING DI SEKOLAH/MADRASAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEKOLAH/MADRASAH : SMA 1 Perdana BULAN : Juli 2006&lt;br /&gt;KELAS  : XI IPA 1, XI IPA 2 KONSELOR : Asti Cantika&lt;br /&gt;       XI IPS 1, XI IPS 2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No Jenis Kegiatan Minggu I Minggu II Minggu III Minggu IV Jumlah&lt;br /&gt;  Frek Ek.Jp Frek Ek.Jp Frek Ek.Jp Frek Ek.Jp Frek Ek.Jp&lt;br /&gt;1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12&lt;br /&gt;1. Layanan Orientasi *) *) *) *) **) **) - - - -&lt;br /&gt;2. Layanan Informasi *) *) *) *) **) **) 1 2 1 2&lt;br /&gt;3. Layanan Penempatan/Penyaluran *) *) *) *) **) **) - - - -&lt;br /&gt;4. Layanan Penguasaan Konten *) *) *) *) **) **) - - - -&lt;br /&gt;5. Layanan Konseling Perorangan *) *) *) *) **) **) 2 4 2 4&lt;br /&gt;6. Layanan Bimbingan Kelompok *) *) *) *) **) **) 3 6 3 6&lt;br /&gt;7. Layanan Konseling Kelompok *) *) *) *) **) **) 1 2 1 2&lt;br /&gt;8. Layanan Konsultasi *) *) *) *) **) **) - - - -&lt;br /&gt;9. Layanan Mediasi *) *) *) *) **) **) - - - -&lt;br /&gt;10. Aplikasi Instrumentasi *) *) *) *) **) **) 4 8 4 8&lt;br /&gt;11. Konferensi Kasus *) *) *) *) **) **) - - - -&lt;br /&gt;12. Kunjungan Rumah *) *) *) *) **) **) - - - -&lt;br /&gt; Jumlah - - - - - - 11 22 11 22&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rata-rata perminggu: ∑ JP/4 =  22/1 = 22 JP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan :     &lt;br /&gt;--- Kegiatan pendukung Himpuan Data, Tampilan Kepustakaan, dan Alih&lt;br /&gt; Tangan Kasus tidak diperhitungkan ke dalam jam pembelajaran&lt;br /&gt;--- Frek  = Frekuensi banyaknya kegiatan layanan/pendukung&lt;br /&gt;--- JP  = Jam Pembelajaran              &lt;br /&gt;--- Ek.Jp = Ekuivalensi Jam Pembelajaran &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lampiran 9 b&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CONTOH ISIAN FORMAT&lt;br /&gt;PERHITUNGAN JAM KEGIATAN&lt;br /&gt;P E L A Y A N A N   K O N S E L I N G DI SEKOLAH/MADRASAH&lt;br /&gt;  SEKOLAH/MADRASAH  : SMA 1 Perdana   BULAN : Agustus 2006&lt;br /&gt;  KELAS : XI IPA 1, XI IPA 2   KONSELOR : Asti Cantika &lt;br /&gt;   : XI IPS 1, XI IPS 2       &lt;br /&gt;No.   Jenis Kegiatan Minggu Minggu Minggu Minggu Jumlah&lt;br /&gt;     I II III IV &lt;br /&gt;     Frek Ek.Jp Frek Ek.Jp Frek Ek.Jp Frek Ek.Jp Frek Ek.Jp&lt;br /&gt;1   Layanan Orientasi 1 2 1 2 1 2 1 2 4 8&lt;br /&gt;2   Layanan Informasi 2 4 4 8 2 4 4 8 12 24&lt;br /&gt;3   Layanan Penempatan/Penyaluran 1 2 1 2 - - 3 6 5 10&lt;br /&gt;4   Layanan Penguasaan Konten 3 6 2 4 2 4 3 6 10 20&lt;br /&gt;5   Layanan Konseling Perorangan 2 4 3 6 1 2 1 2 7 14&lt;br /&gt;6   Layanan Bimbingan Kelompok 2 4 2 4 2 4 2 4 8 16&lt;br /&gt;7   Layanan Konseling Kelompok 2 4 2 4 2 4 2 4 8 16&lt;br /&gt;8   Layanan Konsultasi 1 2 - - - - - - 1 2&lt;br /&gt;9   Layanan Mediasi - - - - 1 2 - - 1 2&lt;br /&gt;10   Aplikasi Instrumentasi - - - - - - - - - -&lt;br /&gt;11   Konferensi Kasus - - - - - - - - - -&lt;br /&gt;12   Kunjungan Rumah - - - - - - - - - -&lt;br /&gt;    Jumlah 14 28 15 30 11 22 16 32 56 112&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Rata-rata per minggu :              JP/4 =   112/4  =  28 JP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan:      Kota Sahabat, 4 September 2006&lt;br /&gt;---  Kegiatan pendukung Himpunan Data, Tampilan Kepustakaan, dan Alih Tangan Kasus tidak diperhitungkan ke dalam jam pembelajaran Konselor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ttd   &lt;br /&gt;---  Frek = Frekkuensi banyaknya kegiatan layanan/pendukung dilaksanakan  (Asti Cantika)  &lt;br /&gt;---  PJ = Jam Pembelajaran       &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lampiran 10: Rambu-rambu Rencana Kegiatan Ekstra Kurikuler&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ISI RENCANA KEGIATAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Jenis kegiatan 1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Waktu kegiatan 2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Sasaran: peserta didik yang akan dikenai kegiatan3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Rangkaian kegiatan 4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Tempat kegiatan: sekolah/madrasah sendiri, dan atau sekolah/ madrasah yang menyelenggarakan kegiatan yang sama, dan atau tempat lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Peralatan yang digunakan: sesuai dengan karakteristik jenis kegiatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Pelaksana: pelaksana utama dan pihak-pihak lain yang terlibat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Pengorganisasian kegiatan 5) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Pilih salah satu jenis kegiatan ekstra kurikuler yang akan diselenggarakan: Kepramukaan, LKDS, PMR, Paskibraka, KIR, Lomba/keberbakatan/pretasi olahraga, seni dan budaya, teater, cinta alam, jurnalistik, keagamaan, seminar, lokakarya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Sesuai dengan waktu yang diperlukan untuk pelaksanaan kegiatan ekstra kurikuler yang dimaksud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Peserta didik yang dikenai kegiatan ekstra kurikuler dapat berasal dari satu atau dari sejumlah sekolah/madrasah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Rangkaian kegiatan disesuaikan karakteristik jenis kegiatan kurikuler.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5) Sesuai dengan karakteristik jenis kegiatan ekstra kurikuler. Jika diperlukan dapat dibentuk kepanitiaan tersendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lampiran 11: Rambu-rambu Pelaksanaan Kegiatan Ekstra Kurikuler&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ISI PELAKSANAAN KEGIATAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Rekrutmen peserta kegiatan 1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Penyiapan perlengkapan dan peralatan: sesuai dengan tahap-tahap kegiatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Penyiapan pelaksana kegiatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Kegiatan awal: menyiapkan peserta untuk dapat melaksanakan kegiatan inti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Kegiatan inti: sesuai dengan substansi untuk mencapai tujuan kegiatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Kegiatan akhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Evaluasi 2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Berdasarkan kebutuhan, potensi, bakat, dan atau minat peserta didik yang menjadi ciri khas dari jenis kegiatan ekstra kurikuler dimaksud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Evaluasi terhadap hasil dan proses penyelenggaraan tahap-tahap pelaksanaan kegiatan. Dalam evaluasi dihasilkan kualitas pencapaian peserta didik berkenaan dengan kegiatan yang dimaksud&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lampiran 12: Rambu-rambu Laporan Kegiatan Ekstra Kurikuler&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ISI LAPORAN KEGIATAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Jenis kegiatan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Waktu kegiatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Sasaran kegiatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Tahap-tahap kegiatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Hasil evaluasi: termasuk di dalamnya evaluasi hasil dan proses kegiatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Faktor penunjang dan pendukung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Rekomendasi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laporan disampaikan kepada pimpinan sekolah/madrasah dan pemangku kepentingan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lampiran 13: Contoh Laporan Keikutsertaan Peserta Didik dalam Kegiatan Ektra Kurikuler&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEIKUTSERTAAN PESERTA DIDIK &lt;br /&gt;DALAM KEGIATAN EKTRA KURIKULER&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEKOLAH/MADRASAH: SMA I Perdana SEMESTER  : II (Januari-Juni 2006)&lt;br /&gt;KELAS : X 5 Penanggung Jawab : Ranti Juwita Hadi&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;      Jenis Kegiatan&lt;br /&gt;   Pramuka LDKS PMR Paskibra KIR Lomba Semlok/&lt;br /&gt;Pameran Jurna-&lt;br /&gt;listik Lain-lain Jml&lt;br /&gt;1 Amir Hardiman 05161 v - v - v - v v - 5&lt;br /&gt;2 Arnoldi 05162 V v - v - v - v - 5&lt;br /&gt;3 Asma Munir 05163 V - v - v v - - v 5&lt;br /&gt;4 Asri Asih 05164 v v - V v - v v - 6&lt;br /&gt;5 Azimat Kurnia 05165 - - - - - V V - V 3&lt;br /&gt;6 Bagir Firmansyah 05166 V V - - - - V - - 3&lt;br /&gt;7 Bagus Hutajulu 05167 - V - - - - V - V 3&lt;br /&gt;8 Charles Darmawan 05168 V - - - - V V - - 3&lt;br /&gt;9 Daeng Dodi Dermawan 05169 V - - V - - V - - 3&lt;br /&gt;10 Darius Manca 05170 V - V - - - V V - 4&lt;br /&gt;11 Daulat Romy 05171 - V - - V V - - - 3&lt;br /&gt;12 Goza Imas 05172 V - - - - - V - - 2&lt;br /&gt;13 Han Ping Sun 05173 V V - - - V V - - 4&lt;br /&gt;14 Jajang Jawara 05174 - - - V V - V - - 3&lt;br /&gt;15 Jaman Tiarno 05175 V V - - - V V - - 4&lt;br /&gt;16 Jayeng Jayakersa 05176 V - V - - - V - - 3&lt;br /&gt;17 Kusnadi 05177 V V - - - - V - - 3&lt;br /&gt;18 Laris Juwita 05178 - - - - V V - V - 3&lt;br /&gt;19 Lintang Suminar 05179 V - - V - - V - - 3&lt;br /&gt;20 Lolong Edi Cahaya 05180 V - V - - - V - - 3&lt;br /&gt;21 Lusiana 05181 V - - - V V V - - 4&lt;br /&gt;22 Mahmud Kiram 05182 V - V - - - V - - 3&lt;br /&gt;23 Marcus Domigus Ard 05183 V - - - - V V - - 3&lt;br /&gt;24 Osa Malik 05184 V - V - - - V - - 3&lt;br /&gt;25 Prajamuda Edi 05185 V V - - - V V - - 4&lt;br /&gt;26 Pupung Is 05186 V - - V - - V - - 3&lt;br /&gt;27 Rekso Wibowo 05187 V - - - - V V - - 3&lt;br /&gt;28 Rustandi 05188 V - V - - - V - - 3&lt;br /&gt;29 Simon Talaudi 05189 V V - - - V V - - 4&lt;br /&gt;30 Susiati 05190 V - V - - - V - - 3&lt;br /&gt;31 Sutarti 05191 V - V - - - V - - 3&lt;br /&gt;32 Sutarto Audiro 05192 V V - - - V V - - 4&lt;br /&gt;33 Tresno Jatidiri 05193 V - - - - - V - V 3&lt;br /&gt;34 Usahadi Kayo 05194 V V - - - - V - - 3&lt;br /&gt;35 Wayan Sutresna 05195 V V - - - - V - V 3&lt;br /&gt;36 Yuli Esiani 05196 V V - - - V - - - 3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lampiran 14: Contoh Nilai Peserta Didik dalam Kegiatan Ektra Kurikuler&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NILAI PESERTA DIDIK &lt;br /&gt;DALAM KEGIATAN EKTRA KURIKULER&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEKOLAH/MADRASAH: SMA I Perdana  SEMESTER  : II (Januari-Juni 2006)&lt;br /&gt;KELAS : X 5 Penanggung Jawab : Ranti Juwita Hadi &lt;br /&gt;      Jenis Kegiatan&lt;br /&gt;   Pramuka LDKS PMR Paskibra KIR Lomba Semlok/&lt;br /&gt;Pameran Jurnalistik Lain-lain Jml&lt;br /&gt;1 Amir Hardiman 05161 A - B - B - A B - 5&lt;br /&gt;2 Arnoldi 05162 C B - A - A - B - 5&lt;br /&gt;3 Asma Munir 05163 B - A - B B - - A 5&lt;br /&gt;4 Asri Asih 05164 A C - B B - A B - 6&lt;br /&gt;5 Azimat Kurnia 05165 - - - - - A A - B 3&lt;br /&gt;6 Bagir Firmansyah 05166 A A - - - - B - - 3&lt;br /&gt;7 Bagus Hutajulu 05167 - A - - - - A - B 3&lt;br /&gt;8 Charles Darmawan 05168 B - - - - A A - - 3&lt;br /&gt;9 Daeng Dodi Dermawan 05169 A - - A - - B - - 3&lt;br /&gt;10 Darius Manca 05170 B - A - - - B A - 4&lt;br /&gt;11 Daulat Romy 05171 - C - - B A - - - 3&lt;br /&gt;12 Goza Imas 05172 A - - - - - A - - 2&lt;br /&gt;13 Han Ping Sun 05173 A B - - - A B - - 4&lt;br /&gt;14 Jajang Jawara 05174 - - - A B - A - - 3&lt;br /&gt;15 Jaman Tiarno 05175 B A - - - A B - - 4&lt;br /&gt;16 Jayeng Jayakersa 05176 C - B - - - A - - 3&lt;br /&gt;17 Kusnadi 05177 B B - - - - A - - 3&lt;br /&gt;18 Laris Juwita 05178 - - - - B C - A - 3&lt;br /&gt;19 Lintang Suminar 05179 A - - B - - A - - 3&lt;br /&gt;20 Lolong Edi Cahaya 05180 B -  A - - B - - 3&lt;br /&gt;21 Lusiana 05181 B - - - B A B - - 4&lt;br /&gt;22 Mahmud Kiram 05182 B - A - - - A - - 3&lt;br /&gt;23 Marcus Domigus Ard 05183 C - - - - B B - - 3&lt;br /&gt;24 Osa Malik 05184 B - B - - - A - - 3&lt;br /&gt;25 Prajamuda Edi 05185 A A - - - B B - - 4&lt;br /&gt;26 Pupung Is 05186 B - - B - - A - - 3&lt;br /&gt;27 Rekso Wibowo 05187 A - - - - A B - - 3&lt;br /&gt;28 Rustandi 05188 B - B - - - A - - 3&lt;br /&gt;29 Simon Talaudi 05189 A B - - - A B - - 4&lt;br /&gt;30 Susiati 05190 B - B - - - A - - 3&lt;br /&gt;31 Sutarti 05191 C - A - - - B - - 3&lt;br /&gt;32 Sutarto Audiro 05192 A A - - - B B - - 4&lt;br /&gt;33 Tresno Jatidiri 05193 B - - - - - A - A 3&lt;br /&gt;34 Usahadi Kayo 05194 B A - - - - A - - 3&lt;br /&gt;35 Wayan Sutresna 05195 A B - - - - A - B 3&lt;br /&gt;36 Yuli Esiani 05196 B A - - - A - - - 3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1131593786029234853-4021119116253278201?l=biocyberway.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://biocyberway.blogspot.com/feeds/4021119116253278201/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1131593786029234853&amp;postID=4021119116253278201&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1131593786029234853/posts/default/4021119116253278201'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1131593786029234853/posts/default/4021119116253278201'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://biocyberway.blogspot.com/2009/12/pengembangan-diri.html' title='PENGEMBANGAN DIRI'/><author><name>van210</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05491969756456454186</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='10' src='http://2.bp.blogspot.com/_GHP-NEyWtGY/SlQ03NZ_xuI/AAAAAAAAABQ/meC2CAfV4bc/s1600-R/van2.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1131593786029234853.post-8406336551789450431</id><published>2009-12-06T19:44:00.003+07:00</published><updated>2009-12-06T19:57:11.299+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Media pembelajaran'/><title type='text'>ARTI MEDIA PEMBELAJARAN</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;A. Pendahuluan &lt;br /&gt;Seiring dengan kemajuan di bidang teknologi, maka keberhasilan belajar mengajar  geografi yang menanamkan pengetahuan, nilai dan ketrampilan dapat dibantu dengan menggunakan media belajar.  Hal ini sesuai dengan rumusan AECT (Assosiation of Education and Comunication Technology) tentang pengertian media  yang merupakan segala bentuk dan saluran yang digunakan untuk menyampaikan pesan dan informasi. &lt;br /&gt; Heinich dkk (1982) lebih jauh mengatakan bahwa media  sebagai perantara yang mengantar informasi antara sumber dengan penerima. Sementara itu Hamijoyo dalam Latuheru (1993) media sebagai bentuk perantara yang digunakan oleh manusia untuk menyampaikan atau menyebar ide, gagasan atau pendapat yang dikemukakan sampai pada penerima yang dituju. Dalam kaitannya dengan pengajaran biasanya dikenal dengan istilah media pendidikan&lt;br /&gt;. Ashar Arsyad (2002) menggariskan ciri-ciri media pendidikan sebagai berikut: media pedidikan memiliki pengertian fisik yang dewasa ini dikenal dengan perangkat keras (hardware), memiliki pengertian nonfisik yang disebut juga perangkat lunak (software),  penekanan media pendidikan terdapat pada visual dan audio, media pendidikan memiliki pengertian alat bantu pada proses belajar, media belajar digunakan dalam rangka komunikasi antara guru dengan siswa, media pendidikan digunakan secara masa (misalnya: radio, televisi), kelompok besar dan kelompok kecil (misalnya film, slide, video, OHP) atau perorangan  (misalnya; modul, komputer, radio kaset).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Pengertian Media Pembelajaran&lt;br /&gt;Istilah media berasal dari bahasa Latin yang merupakan bentuk jamak dari "medium" yang secara harafiah berarti perantara atau pengantar. Makna umumnya adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan informasi dari sumber informasi kepada penerima informasi. Istilah media ini sangat populer dalam bidang komunikasi. Proses belajar mengajar pada dasamya juga merupakan proses komunikasi, sehingga media yang digunakan dalam pembelajaran disebut media pembelajaran.&lt;br /&gt;Banyak ahli yang memberikan batasan tentang media pembelajaran. AECT misalnya, mengatakan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan. Gagne mengartikan media sebagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang mereka untuk belajar. Senada dengan itu, Briggs mengartikan media sebagai alat untuk memberikan perangsang bagi siswa agar terjadi proses belajar. Media pendidikan , tentu saja media yang digunakan dalam proses dan untuk mencapai tujuan pendidikan. &lt;br /&gt;Pada hakekatnya media pendidikan juga merupakan media komunikasi, karena proses pendidikan juga merupakan proses komunikasi. Apabila kita bandingkan dengan media pembelajaran, maka media pendidikan sifatnya lebih umum, sebagaimana pengertian pendidikan itu sendiri.&lt;br /&gt; Sedangkan media pembelajaran sifatnya lebih mengkhusus, maksudnya media pendidikan yang secara khusus digunakan untuk mencapai tujuan belajar tertentu yang telah dirumuskan secara khusus. Tidak semua media pendidikan adalah media pembelajaran, tetapi setiap media pembelajaran pasti termasuk media pendidikan. Alat peraga, alat bantu guru (teach¬ing aids), alat bantu audio visual (AVA), atau alat bantu belajar yang selama ini sering juga kita denga pada dasamya, semua istilah itu dapat kita masukkan dalam konsep media, karena konsep media merupakan perkembangan lebih lanjut dari konsep konsep tersebut. &lt;br /&gt;Alat peraga adalah alat (benda) yang digunakan untuk memperagakan fakta, konsep, prinsip atau prosedur tertentu agar tampak lebih nyata/ konkrit. Alat bantu adalah alat (benda) yang digunakan oleh guru untuk mempermudah tugas dalam mengajar. Audio Visual Aids (AVA) mempunyai pengertian dan tujuan yang sama hanya saja penekanannya pada peralatan audio dan visual. Sedangkan alat bantu belajarpenekanannya pada fihak yang belajar (pembelajar). Semua istilah tersebut, dapat kita rangkum dalam satu istilah umum yaitu media pembelajaran.&lt;br /&gt;Satu konsep lain yang sangat berkaitan dengan media pembelajaran adalah istilah sumber belajar. Media belajar erat kaitannya dengan sumber  ber belajar, Sumber belajar memiliki cakupan yang lebih luas daripada media belajar. Sumber belajar bisa berupa pesan, orang, bahan, alat, teknik clan latar/lingkungan. Apa yang dinamakan me¬dia sebenarnya adalah bahan dan alat belajar tersebut. Bahan sering disebut perangkat lunak software, sedangkan alat juga disebut sebagi perangkat keras hardware. Transparansi, program kaset audio dan program video adalah beberapa contoh bahan belajar. Bahan belajar tersebut hanya bisa disajikan jika ada alat, misalnya berupa OHP, Radio kaset clan Video player. &lt;br /&gt;Jadi salah satu atau kombinasi perangkat lunak (bahan) dan perangkat keras (alat) bersama sama dinamakan media. Dengan demikian, jelaslah bahwa media pembelajaran merupakan bagian dari sumber belajar. Dengan demikian, kalau saat ini kita mendengar kata media, hendaklah kata tersebut diartikan dalam pengertiannya yang terakhir, yaitu meliputi alat bantu guru dalam mengajar serta sarana pembawa pesan dari sumber belajar ke penerima pesan belajar ( siswa ). Sebagai penyaji dan penyalur pesan, media belajar dalam hal hal tertentu, bisa mewakili guru menyajikan informasi belajar kepada siswa. &lt;br /&gt;C.  Perkembangan Konsepsi Media Pembelajaran&lt;br /&gt;Pada awal sejarah pendidikan, guru merupakan satu satunya sumber untuk memperoleh pelajaran. Dalam perkembangan selanjutnya, sumber belajar itu kemudian bertambah dengan adanya buku. Pada masa itu kita mengenal tokoh bernama Johan Amos Comenius yang tercatat sebagai orang pertama yang menulis buku bergambar yang ditujukan untuk anak sekolah. &lt;br /&gt;Buku tersebut berjudul Orbis Sensualium Pictus (Dunia Tergambar) yang diterbitikan pertama kali pada tahun 1657. Penulisan buku itu dilandasi oleh suatu konsep dasar bahwa tak ada sesuatu dalam akal pikiran manusia, tanpa terlebih dahulu melalui penginderaan. Dari sinilah para pendidik mulai menyadari perlunya sarana belajar yang dapat memberikan rangsangan dan pengalaman belajar secara menyeluruh bagai siswa melalui semua indera, terutama indera pandang dengar.&lt;br /&gt; Kalau kita amati lebih cermat lagi, pada mulanya media pembelajaran hanyalah dianggap sebagai alat untuk membantu guru dalam kegiatan mengajar (teaching aids). Alat bantu mengajar yang mula mula digunakan adalah alat bantu visual seperti gambar, model, grafis atau benda nyata lain. Alat alat bantu itu dimaksudkan untuk memberikan pengalaman lebih konkrit, memotivasi serta mempertinggi daya serap dan daya ingat siswa dalam belajar.&lt;br /&gt;Sekitar pertengahan abad 20 usaha pemanfaatan alat visual mulai dilengkapi dengan peralatan audio, maka lahirlah peralatan audio visual pembelajaran. Usaha usaha untuk membuat pelajaran abstrak menjadi lebih konkrit terus dilakukan.&lt;br /&gt;Dalam usaha itu, Edgar Dale membuat klasifikasi 11. Tingkatan pengalaman belajar dari yang paling konkrit sampai yang paling abstrak. Klasifikasi tersebut kemudian dikenal dengan nama "Kerucut Pengalaman" (Cone of Experience) dari Edgar Dale. Ketika itu, para pendidik sangat terpikat dengan kerucut pengalaman itu, sehingga pendapat Dale tersebut banyak dianut dalam pemilihan jenis media yang paling sesuai untuk memberikan pengalaman belajar tertentu pada siswa&lt;br /&gt;abstrak&lt;br /&gt;verba   (1) &lt;br /&gt;simbol  visual  (2)&lt;br /&gt;radio  (3)&lt;br /&gt;film  (4)&lt;br /&gt;tv     (5)&lt;br /&gt;karya wisata  (6)&lt;br /&gt;demonstrasi  (7)&lt;br /&gt;partisipasi  (8)&lt;br /&gt;observasi  (9)&lt;br /&gt;/Z ~Pengalaman langsung kongkrit (10)&lt;br /&gt;Gambar 1: Kerucut pengalaman Edgar Dale&lt;br /&gt;Pada akhir tahun 1950, teori komunikasi muiai mempengaruhi penggunaan alat audio visual. Dalarn pandangan teori komunikasi, alat audio visual berfungsi sebagai alat penyalur pesan dari sumber pesan kepada penerima pesan. Begitupun dalarn dunia pendidikan, alat audio visual bukan hanya dipandang sebagai alat bantu guru saja, melainkan juga berfungsi sebagai penyalur pesan belajar. Sayangnya, waktu itu faktor siswa, yang merupakan komponen utama dalam pembelajaran, belurn mendapat perhatian khusus.&lt;br /&gt;Baru pada tahun 1960 an, para ahli mulai memperhatikan siswa sebagai komponen utama dalam kegiatan pembelajaran. Pada saat itu teori Behaviorisme BF. Skinner mulai mempengaruhi penggunaan media dalam kegiatan pembelajaran. Teori ini telah mendorong diciptakannya media yang dapat mengubah tingkah Iaku siswa sebagai hasil proses pembelajaran. Produk media pembelajaran yang terkenal sebagai hasil terod ini adalah diciptakannya teach¬ing machine (mesin pengajaran) dan Programmed Instruction (pembelajaran terprogram).Pada tahun 1965 70, pendekatan sistern (system approach) mulai menampakkan pengaruhnya dalam dunia pendidikan dan pengajaran. Pendekatan sistern ini mendorong digunakannya me¬dia sebagai bagian integral dalarn proses pembelajaran. Media, yang tidak lagi hanya dipandang sebagai alat bantu guru, melainkan telah diberi wewenang untuk membawa pesan belajar, hendaklah merupakan bagian integral dari kegiatan belajar mengajar.&lt;br /&gt;Dengan demikian, kalau saat ini kita mendengar kata media, hendaklah kata tersebut diartikan dalarn pengertiannya yang terakhir, yaitu meliputi alat bantu guru dalam mengajar serta sarana pembawa pesan dari sumber belajar ke penerima pesan belajar (siswa). Sebagai penyaji dan penyalur pesan, media belajar dalam hal hal tertentu, bisa mewakili guru menyajikan informasi belajar kepada siswa. Jika program media itu didesain dan dikembangkan secara baik, maka fungsi itu akan dapat diperankan oleh media meskipun tanpa keberadaan guru.&lt;br /&gt;Peranan media yang semakin meningkat ini sering menimbulkan kekhawatiran bagi guru. Namun sebenamya hal itu tak perlu terjadi, seandainya kita menyadari betapa masih banyak dan beratnya peran guru yang lain. Memberikan perhatian dan bimbingan secara indi¬vidual kepada siswa, merupakan tugas penting guru yang terkadang kurang mendapat perhatian. Hal ini mungkin karena waktu yang ada telah banyak tersita untuk tugas menyajikan mated pelajaran. Kondisi semacam ini akan terus terjadi selama guru masih menganggap bahwa dirinya merupakan sumber belajar utama (apalagi satu satunya sumber) bagi siswa. Padahal, jika guru bisa memanfaatkan berbagai media belajar secara baik, maka guru dapat berbagi peran dengan media. Percayakanlah sebagian peran kita kepada media pembelajaran. Dengan begitu, peran guru akan lebih mengarah sebagai manajer pembelajran.&lt;br /&gt; Tanggungjawab utama manajer pembelajaran adalah menciptakan kondisi sedemikian rupa agar siswa dapat belajar. Proses kegiatan akan terjadi jika siswa dapat berinteraksi dengan berbagai sumber belajar. Untuk itu guru bisa lebih banyak menggunakan waktunya untuk menjalankan fungsinya sebagai penasehat, pembimbing, motivator dan fasilitator dalam kegiatan belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D.  Pemilihan dan Pemanfaatan Media dalam Belajar.&lt;br /&gt;1). Pemilihan Media&lt;br /&gt;Sebelum kita gunakan, media harus kita pilih secara cermat. Memilih media yang terbaik untuk tujuan pembelajaran bukanlah pekerjaan yang mudah. Pemilihan itu rumit dan sulit, karena harus mempertimbangkan berbagai faktor.&lt;br /&gt;a).  Model pemilihan media&lt;br /&gt;Anderson (1976) mengemukakan adanya dua pendekatan/model dalam proses pemilihan media pembelajaran, yaitu: model pemilihan tertutup dan model pemilihan terbuka. Pemilihan tertutup terjadi apabila alternatif media telah ditentukan "dari atas" (misalnya oleh Dinas Pendidikan), sehingga mau tidak mau jenis media itulah yang harus dipakai. Kalau toh kita memilih, maka yang kita lakukan lebih banyak ke arah pemilihan topik/pokok bahasan mana yang cocok untuk dimediakan pada jenis tertentu. Misalnya saja, telah ditetapkan bahwa media yang digunakan adalah media audio. Dalam situasi damikian, bukanlah mempertanyakan mengapa media audio yang digunakan, dan bukan media lain? Jadi yang harus kita lakukan adalah memilih topik topik apa saja yang tepat untuk disajikan melalui media audio. Untuk model pemilihan terbuka, lebih rumit lagi.&lt;br /&gt;Model pemilihan terbuka merupakan kebalikan dari pemilihan tertutup. Artinya, kita masih bebas memilih jenis media apa saja yang sesuai dengan kebutuhan kita. Alternatif media masih terbuka luas. Proses pemilihan terbuka lebih luwes sifatnya karena benar benar kita sesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi yang ada. Namun proses pemilihan terbuka ini menuntut kemampuan dan keterampilan guru untuk melakukan proses pemilihan. Seorang guru kadang bisa melakukan pemilihan media dengan &lt;br /&gt;mengkombinasikan antara pemilihan terbuka dengan pemilihan tertutup.&lt;br /&gt;b). Perlunya pemilihan media&lt;br /&gt;Media pada hakekatnya merupakan salah satu komponen sistem pembelajaran. Sebagai komponen, media hendaknya merupakan bagian integral dan harus sesuai dengan proses pembelajaran secara menyeluruh. Akhir dari pemilihan media adalah penggunaaan media tersebut dalam kegiatan pembelajaran, sehingga memungkinkan siswa dapat berinteraksi dengan media yang kita pilih.&lt;br /&gt;Apabila kita telah menentukan alternatif media yang akan kita gunakan dalam pembelajaran, maka pertanyaan berikutnya adalah sudah tersediakah media tersebut di sekolah atau di pasaran? Jika sudah tersedia, maka kita tinggal meminjam atau membelinya saja. Itupun jika me¬dia yang ada memang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah kita rencanakan, dan terjangkau harganya. Jika media yang kita butuhkan temyata belum tersedia, mau tak mau kita harus membuat sendiri program media sesuai keperluan tersebut.&lt;br /&gt;Jadi, pemilihan media itu perlu kita lakukan agar kita dapat menentukan media yang terbaik, tepat dan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi sasaran didik. Untuk itu, pemilihan jenis media harus dilakukan dengan prosedur yang benar, karena begitu banyak jenis media dengan berbagai kelebihan dan kelemahan masing masing.&lt;br /&gt;(1). Kriteria Pemilihan Media&lt;br /&gt;Memilih media hendaknya tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan didasarkan atas kriteria tertentu. Kesalahan pada saat pemilihan, baik pemilihan jenis media maupun pemilihan topik yang dimediakan, akan membawa akibat panjang yang tidak kita inginkan di kemudian hari. Banyak pertanyaan yang harus kita jawab sebelum kita menentukan pilihan media tertentu. Secara umum, kriteria yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan media pembelajaran diuraikan sebagai berikut.&lt;br /&gt;(a). Tujuan&lt;br /&gt;Apa tujuan pembelajaran (standar kompetensi dan kompetensi dasar) yang ingin dicapai? Apakah tujuan itu masuk ranah kognitif, afektif, psikomotor, atau kombinasinya? Jenis rangsangan indera apa yang ditekankan: apakah penglihatan, pendengaran, atau kombinasinya? Jika visual, apakah perlu gerakan atau cukup visual diam? Jawaban atas pertanyaan itu akan mengarahkan kita pada jenis media tertentu, apakah media realia, audio, visual diam, visual gerak, audio visual gerak dan seterusnya.&lt;br /&gt;(b). Sasaran didik&lt;br /&gt;Siapakah sasaran didik yang akan menggunakan media? bagaimana karakteristik mereka, berapa jumlahnya, bagaimana latar belakang sosialnya, bagaimana motivasi dan minat belajarnya? dan seterusnya. Apabila kita mengabaikan kriteria ini, maka media yang kita pilih atau kita buat tentu tak akan banyak gunanya. Mengapa? Karena pada akhirnya sasaran inilah yang akan mengambil manfaat dari media pilihan kita itu. Oleh karena itu, media harus sesuai benar dengan kondisi mereka.&lt;br /&gt;(c). Karakteristik media yang bersangkutan&lt;br /&gt;Bagaimana karakteristik media tersebut? Apa kelebihan dan kelemahannya, sesuaikah media yang akan kita pilih itu dengan tujuan yang akan dicapai? Kita tidak akan dapat memilih media dengan baik jika kita tidak mengenal dengan baik karakteristik masing masing media. Karena kegiatan memilih pada dasamya adalah kegiatan membandingkan satu sama lain, mana yang lebih baik dan lebih sesuai dibanding yang lain. Oleh karena itu, sebelum menentukan jenis media tertentu, pahami dengan baik bagaimana karaktristik media tersebut.&lt;br /&gt;(d). Waktu&lt;br /&gt;Yang dimaksud waktu di sini adalah berapa lama waktu yang diperlukan untuk mengadakan atau membuat media yang akan kita pilih, serta berapa lama waktu yang tersedia/yang kita memiliki, cukupkah? Pertanyaan lain adalah, berapa lama waktu yang diperlukan untuk menyajikan media tersebut dan berapa lama alokasi waktu yang tersedia dalam proses pembelajaran? Tak ada gunanya kita memilih media yang baik, tetapi kita tidak cukup waktu untuk mengadakannya. Jangan sampai pula terjadi, media yang telah kita buat dengan menyita banyak waktu, tetapi pada saat digunakan dalam pembelajaran temyata kita kekurangan waktu.&lt;br /&gt;(e). Biaya&lt;br /&gt;Faktor biaya juga merupakan pertanyaan penentu dalam menyewa media tersebut? Bisakah kita mengusahakan biaya tersebut/apakah besarnya biaya seimbang dengan tujuan belajar yang hendak dicapai? Tidak mungkinkah tujuan belajar itu tetap dapat dicapai tanpa memilih media. Bukankah penggunaan media pada dasarnya dimaksudkan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran. Apalah artinya kita menggunakan media, jika akibatnya justru pemborosan. Oleh sebab itu, faktor biaya menjadi kriteria yang harus kita pertimbangkan. Berapa biaya yang kita perlukan untuk membuat, membeli atau menggunakan media itu, adakah alternatif media lain yang lebih murah namun tetap dapat mencapai tujuan belajar? Media yang mahal belum tentu lebih efektif untuk mencapai tujuan belajar dibandingkan media sederhana dan murah.&lt;br /&gt;(f). Ketersediaan&lt;br /&gt;Kemudahan dalam memperoleh media juga menjadi pertimbangan kita. Adakah media yang kita butuhkan itu di sekitar kita, di sekolah atau di pasaran? Kalau kita harus membuatnya sendiri, adakah kemampuan, waktu tenaga dan sarana untuk membuatnya? Kalau semua itu ada, pertanyaan berikutnya adalah tersediakah sarana yang diperlukan untuk menyajikannya di kelas? Misalnya, untuk menjelaskan tentang proses terjadinya gerhana matahari memang lebih efektif disajikan melalui media video. Namun karena di sekolah tidak ada video player, maka sudah cukup bila digunakan alat peraga gerhana matahari.&lt;br /&gt;(g). Konteks penggunaan&lt;br /&gt;Konteks penggunaan maksudnya adalah dalam kondisi dan strategi bagaimana media tersebut akan digunakan. Misalnya: apakah untuk belajar individual, kelompok kecil, kelompok besar atau masal? Dalam hal ini kita perlu merencanakan strategi pembelajaran secara keseluruhan yang akan kita gunakan dalam proses pembelajaran, sehingga tergambar kapan dan bagaimana konteks penggunaaan media tersebut dalam pembelajaran.&lt;br /&gt;(9). Mutu Teknis&lt;br /&gt;Kriteria ini terutama untuk memilih/membeli media siap pakai yang telah ada, misalnya program audio, video, grafis atau media cetak lain. Mutu teknis media tersebut, visual jelas, menarik, dan cocok; suaranya jelas dan enak didengar, jangan sampai hanya karena keinginan kita untuk menggunakan media saja, lantas media yang kurang bermutu kita paksakan penggunaannya. &lt;br /&gt;c). Prinsip prinsip Pemanfaatan Media&lt;br /&gt;Setelah kita menentukan pilihan media yang akan kita gunakan, maka pada akhirya kita dituntut untuk dapat memanfaatkannya dalam proses pembelajaran. Media yang baik belum tentu menjamin keberhasilan belajar siswa jika kita tidak dapat menggunakannya dengan baik. Untuk itu, media yang telah kita pilih dengan tepat harus dapat kita manfaatkan dengan sebaik mungkin sesuai prinsip-¬prinsip pemanfaatan media. &lt;br /&gt;Ada beberapa prinsip umum yang perlu kita perhatikan dalam pemanfaatan media pembelajaran, yaitu:&lt;br /&gt;(1). Setiap jenis media, memiliki kelebihan dan kelemahan&lt;br /&gt;Tidak ada satu jenis media yang cocok untuk semua proses pembelajaran dan dapat mencapai semua tujuan belajar. lbaratnya, tak ada satu jenis obat yang manjur untuk semua jenis penyakit.&lt;br /&gt;(2).  Penggunaan beberapa macam media secara bervariasi memang diperlukan&lt;br /&gt;Namun harap diingat, bahwa penggunaan me¬dia yang terlalu banyak sekaligus dalam suatu kegiatan pembelajaran, justru akan membingungkan siswa dan tidak akan memperjelas pelajaran. Oleh karena itu gunakan media seperlunya, jangan berlebihan.&lt;br /&gt;(4). Penggunaan media harus dapat memperlakukan siswa secara aktif. &lt;br /&gt;Lebih baik menggunakan media yang sederhana yang dapat mengaktifkan seluruh siswa dari pada media canggih namun justru membuat siswa kita terheran heran pasif. Sebelum media digunakan harus direncanakan secara matang dalam penyusunan rencana pembelajaran. &lt;br /&gt;Tentukan bagian materi mana saja yang akan kita sajikan dengan bantuan media. Rencanakan bagaimana strategi dan teknik penggunaannya. Hindari penggunaan media yang hanya dimaksudkan sebagai selingan atau sekedar pengisi waktu kosong saja. Jika siswa sadar bahwa media yang digunakan hanya untuk mengisi waktu kosong, maka kesan ini akan selalu muncul setiap kali guru menggunakan media. &lt;br /&gt;Penggunaaan media yang sembarangan, asal asalan, atau "daripada tidak dipakai", akan membawa akibat negatif yang lebih buruk. Harus senantiasa dilakukan persiapan yang cukup sebelum penggunaaan media. Kurangnya persiapan bukan saja membuat proses pembelajaran tidak efektif dan efisien, tetapi justru mengganggu kelancaran proses pembelajaran. Hal ini terutama perlu diperhatikan ketika kita akan menggunakan media elektronik.&lt;br /&gt;(5).  Manfaat Umum dan Khusus Media dalam Pembelajaran&lt;br /&gt;Secara umum, manfaat media dalam proses pembelajaran adalah memperlancar interaksi antara guru dengan siswa sehingga kegiatan pembelajaran akan lebih efektif dan efisien. Tetapi secara. lebih khusus ada beberapa manfaat media yang lebih rinci. Kemp dan Dayton (1985) misalnya, mengidentifikasi beberapa manfaat media dalam pembelajaran, yaitu:&lt;br /&gt;(a).  Penyampaian materi pelajaran dapat diseragamkan&lt;br /&gt;Setiap guru mungkin mempunyai penafsiran yang berbeda beda terhadap suatu konsep materi pelajaran tertentu. Dengan bantuan media, penafsiran yang beragam tersebut dapat dihindari sehingga dapat disampaikan kepada siswa secara seragam. Setiap siswa yang melihat atau mendengar uraian suatu materi pelajaran melalui media yang sama, akan menerima informasi yang persis sama seperti yang diterima oleh siswa-¬siswa lain. Dengan demikian, media juga dapat mengurangi terjadinya kesenjangan informasi diantara siswa di manapun berada.&lt;br /&gt;(b). Proses pembelajaran menjadi lebih jelas dan menarik&lt;br /&gt; Dengan berbagai potensi yang dimilikinya, media dapat menampilkan informasi melalui suara, gambar, gerakan dan warna, baik secara alami maupun manipulasi. Materi pelajaran yang dikemas melalui program media, akan lebih jelas, lengkap, serta menarik minat siswa. Dengan media, materi sajian bisa membangkitkan rasa keingintahuan siswa dan merangsang siswa bereaksi baik secara fisik maupun emosional. Singkatnya, media pembelajaran dapat membantu guru untuk menciptakan suasana belajar menjadi lebih hidup, tidak monoton, dan tidak membosankan.&lt;br /&gt;(c). Proses pembelajaran menjadi lebih interaktif&lt;br /&gt;Jika dipilih dan dirancang secara baik, media dapat membantu guru dan siswa melakukan komunikasi dua arah secara aktif selama proses pembelajaran. Tanpa media, seorang guru mungkin akan cenderung berbicara satu arah kepada siswa. Namun dengan media, guru dapat mengatur kelas sehingga bukan hanya guru sendiri yang aktif tetapi juga siswanya.&lt;br /&gt;d). Efisiensi dalam waktu dan tenaga&lt;br /&gt;Keluhan yang selama ini sering kita dengar dari guru adalah, selalu kekurangan waktu untuk mencapai target kurikulum. Sering terjadi guru menghabiskan banyak waktu untuk menjelaskan suatu materi pelajaran. Hal ini sebenarnya tidak harus terjadi jika guru dapat memanfaatkan media secara maksimal. Misalnya, tanpa media seorang guru tentu saja akan menghabiskan banyak waktu untuk mejelaskan sistem peredaran darah manusia atau proses terjadinya gerhana matahari. &lt;br /&gt;Padahal dengan bantuan media visual, topik ini dengan cepat dan mudah dijelaskan kepada anak. Biarkanlah media menyajikan materi pelajaran yang memang sulit untuk disajikan oleh guru secara verbal. Dengan media, tujuan belajar akan lebih mudah tercapai secara maksimal dengan waktu dan tenaga seminimal mungkin. Dengan media, guru tidak harus menjelaskan materi pelajaran secara berulang ulang, sebab hanya dengan sekali sajian menggunakan media, siswa akan lebih mudah memahami pelajaran.&lt;br /&gt;(e).  Meningkatkan kualitas hasil belajar siswa&lt;br /&gt;     Penggunaan media bukan hanya membuat proses pembelajaran lebih efisien, tetapi juga membantu siswa menyerap materi pelajaran lebih mendalam dan utuh. Bila hanya dengan mendengarkan informasi verbal dari guru saja, siswa mungkin kurang memahami pelajaran secara baik. Tetapi jika hal itu diperkaya dengan kegiatan melihat, menyentuh, merasakan, atau mengalami sendiri melalui media, maka pemahaman siswa pasti akan lebih baik.&lt;br /&gt;(f). Media memungkinkan proses pembelajaran dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja&lt;br /&gt;    Media pembelajaran dapat dirancang sedemikian rupa sehingga siswa dapat melakukan kegiatan pembelajaran secara lebih leluasa, kapanpun dan dimanapun, tanpa tergantung pada keberadaan seorang guru. Program program pembelajaran audio visual, termasuk program pembelajaran menggunakan komputer, memungkinkan siswa dapat melakukan kegiatan belajar secara mandiri, tanpa terikat oleh waktu dan tempat. Penggunaan media akan menyadarkan siswa betapa banyak sumber sumber belajar yang dapat mereka manfaatkan dalam belajar. Perlu kita sadari bahwa alokasi waktu belajar di sekolah sangat terbatas, waktu terbanyak justru dihabiskan siswa di luar lingkungan sekolah.&lt;br /&gt;(g). Media dapat menumbuhkan sikap positip siswa terhadap materi dan proses belajar&lt;br /&gt;    Dengan media, proses pembelajaran menjadi lebih menarik sehingga mendorong siswa untuk mencintai ilmu pengetahuan dan gemar mencari sendiri sumber sumber ilmu pengetahuan. Kemampuan siswa untuk belajar dari berbagai sumber tersebut, akan bisa menanamkan sikap kepada siswa untuk senantiasa berinisiatif mencari berbagai sumber belajar yang diperlukan.&lt;br /&gt;(h). Mengubah peran guru ke arah yang lebih positif dan produktif&lt;br /&gt;    Dengan memanfaatkan media secara baik, seorang guru bukan lagi menjadi satu satunya sumber belajar bagi siswa. Seorang guru tidak perlu menjelaskan seluruh materi pelajaran, karena bisa berbagi peran dengan media. Dengan demikian, guru akan lebih banyak memiliki waktu untuk memberi perhatian kepada aspek aspek edukatif lainnya, seperti membantu kesulitan belajar siswa, pembentukan kepribadian, memotivasi belajar, dan lain-lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(6).  Manfaat Praktis Media dalam Pembelajaran &lt;br /&gt;      Selain beberapa manfaat media seperti yang dikemukakan oleh Kemp dan Dayton tersebut, kita.  masih dapat menemukan banyak manfaat manfaat praktis yang lain. Manfaat praktis media pembelajaran antara lain:&lt;br /&gt;(a). Media dapat membuat materi pelajaran yang abstrak menjadi lebih konkrit &lt;br /&gt;Arus listrik misalnya dapat dijelaskan melalui media grafis berupa simbol simbol dan bagan. Demikian pula materi pelajaran yang rumit dapat disajikan secara lebih sederhana dengan bantuan media. Misalnya materi yang membahas rangkaian peralatan elektronik atau mesin dapat disederhanakan melalui bagan skema yang sederhana.&lt;br /&gt;(b). Media juga dapat mengatasi kendala keterbatasan ruang dan waktu&lt;br /&gt;Sesuatu yang terjadi di luar ruang kelas, bahkan di luar angkasa dapat dihadirkan di dalam kelas melalui bantuan me¬dia. Demikian pula beberapa peristiwa yang telah terjadi di masa lampau, dapat kita sajikan di depan siswa sewaktu waktu. Dengan media pula suatu peristiwa penting yang sedang terjadi di benua lain dapat dihadirkan seketika di ruang kelas.&lt;br /&gt;(c). Media dapat membantu mengatasi keterbatasan indera manusia&lt;br /&gt;Obyek obyek pelajaran yang terlalu kecil, terlalu besar atau terlalu jauh, dapat kita pelajari melalui bantuan media. Demikian pula obyek berupa proses/kejadian yang sangat cepat atau sangat lambat, dapat kita saksikan dengan jelas melalui me¬dia, dengan cara memperlambat, atau mempercepat kejadian. Misalnya, proses perkembangan janin dalam kandungan selama sembilan bulan, dapat dipercepat dan disaksikan melalui me¬dia hanya dalam waktu beberapa menit saja. Sebaliknya, ketika anak belajar teknik menendang bola atau melakukan smash permainan bulu tangkis yang sangat cepat, dapat dipelajari dengan cara memperlambat gerakan tersebut melalui bantuan media (slow motion). Media juga dapat menyajikan obyek pelajaran berupa benda atau peristiwa langka dan berbahaya ke dalam kelas. Peristiwa terjadinya gerhana matahari total yang jarang sekali terjadi, dapat disaksikan oleh siswa setiap saat melalui media rekaman. Terjadinya gunung meletus yang berbahaya dapat pula disaksikan siswa di kelas melalui media. Informasi pelajaran yang disajikan dengan media yang tepat akan memberikan kesan mendalam dan lebih lama tersimpan pada diri siswa.&lt;br /&gt;  d).Jenis Media dan Karakteristiknya.&lt;br /&gt;(1).  Klasifikasi Media Pembelajaran&lt;br /&gt;Media pembelajaran banyak sekali jenis dan macamnya. Beberapa media yang paling akrab dan hampir semua sekolah memanfaatkan adalah media cetak (buku) dan papan tulis. Selain itu, banyak juga sekolah yang telah memanfaatkan jenis media lain seperti gambar, model, overhead projektor (OHP) dan obyek obyek nyata. Sedangkan media lain seperti kaset audio, video, VCD, slide (film bingkai), serta program pembelajaran komputer masih jarang digunakan meskipun sebenamya sudah tidak asing lagi bagi sebagian besar guru. Meskipun demikian, sebagai seorang guru alangkah baiknya Anda mengenal beberapa jenis media pembelajaran tersebut. Hal ini dimaksudkan agar mendorong kita untuk mengadakan dan memanfaatkan media tersebut dalam kegiatan pembelajaran di kelas. &lt;br /&gt;Ada berbagai cara dan sudut pandang untuk meng¬golongkan jenis media. Rudy Bretz (1971), misalnya, mengidentifikasi jenis jenis media berdasarkan tiga unsur pokok, yaitu: suara, visual dan gerak. Berdasarkan tiga unsur tersebut, Bretz mengklasifikasikan media ke dalam delapan kelompok, yaitu: (1) media audio, (2) media cetak, (3) media visual diam, (4) media visual gerak, (5) media audio semi gerak, (6) media semi gerak, (7) media audio visual diam, serta (8) media audio visual gerak. &lt;br /&gt;Anderson (1976) mengelompokkan media menjadi sepuluh golongan sebagai berikut:&lt;br /&gt;No. Golongan Media Contoh dalam Pembelajaran&lt;br /&gt;1.  Audio  Kaset audio, siaran radio, CID, telepon&lt;br /&gt;2.  Cetak  Buku pelajaran, modul, brosur, leaflet, gambar&lt;br /&gt;3.  Audio cetak  Kaset audio yang dilengkapi bahan tertulis&lt;br /&gt;4.  Proyeksi visual diam  Overhead transparansi (OHT), film bingkai (slide)&lt;br /&gt;5.  Proyeksi audio visual diam  Film bingkai (slide) bersuara.&lt;br /&gt;6.  Visual gerak  Film bisu&lt;br /&gt;7. Audio visual gerak Film gerak bersuara, video NCD, televisi&lt;br /&gt;8. Obyek fisik Benda nyata, model, spesimen&lt;br /&gt;9. Manusia dan lingkungan Guru, pustakawan, laboran&lt;br /&gt;10. Komputer CAI (pembelajaran berbantuan komputer) dan CBI (pembelajaran berbasis komputer)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Schramm (1985) menggolongkan media atas dasar kompleksnya suatu media. Atas dasar itu, Schramm membagi media menjadi dua golongan yaitu: media besar (media yang mahal dan kompleks) dan media kecil (media sederhana dan murah). Termasuk media besar misalnya: film, televise, dan video NCD, sedangkan yang termasuk media kecil misalnya: slide, audio, transparansi, dan teks. Selain itu Schramm juga membedakan media atas dasar jangkauannya, yaitu media masal (liputannya luas dan serentak), media kelompok (liputannya seluas ruangan tertentu), dan media individual (untuk perorangan). Termasuk media masal adalah radio dan televisi. Termasuk media kelompok adalah: kaset audio, video, OHP, dan slide. Sedangkan yang termasuk media individual adalah: buku teks, telepon, dan program komputer pembelajaran (CAI).&lt;br /&gt;Sebagian ahli lain mengelompokkan media berdasarkan pada tingkat teknologi yang digunakan, mulai dari media dengan teknologi rendah hingga yang menggunakan teknologi tinggi. Jika media digolongkan atas dasar tingkat teknologi yang digunakan, maka penggolongan media sangat dipengaruhi oleh perkembangan teknologi. Media tertentu akan dapat mengalami perubahan dalam penggolongannya. Misalnya, pada tahun 1950 an, media televisi dikategorikan media paling tinggi. Tetapi kemudian pada tahun 1970 an kategori tersebut bergeser dengan hadirnya media komputer. Pada masa tersebut, komputer digolongkan pada media dengan teknologi yang paling tinggi. Tetapi dewasa ini media komputer tergeser kedudukannya dengan adanya program computer conferencing melalui internet. Kondisi seperti ini akan terus berlangsung sejalan dengan perkembangan ilmu dan teknologi.&lt;br /&gt;Sementara itu, dari sekian banyak jenis media yang dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran, Henich dkk (1996) membuat klasifikasi media yang lebih sederhana sebagai berikut: (1) media yang tidak diproyeksikan, (2) media yang diproyeksikan, (3) media audio, (4) media video, (5) media berbasis komputer, dan (6) multi media kit.&lt;br /&gt;Dari beberapa pengelompokkan media tersebut, kita dapat melihat bahwa hingga kini belum ada suatu pengelompokkan media yang mencakup segala aspek, khususnya untuk keperluan pembelajaran. Pengelompokkan yang ada, dilakukan atas bermacam-¬macam kepentingan. Masih ada pengelompokan yang dibuat oleh ahli lain. Namun apapun dasar yang digunakan dalam pengelompokan itu, tujuannya sama yaitu agar orang lebih mudah mempelajarinya.&lt;br /&gt;Sebagai seorang guru, perlu mengikuti perkembangan teknologi khususnya yang berkaitan dengan media pembelajaran. Sehingga paling tidak kita dapat lebih mengenalnya. Beberapa jenis media tentu pernah Anda gunakan, beberapa jenis yang lain mungkin juga sudah Anda kenal meskipun belum pernah menggunakannya dalam pembelajaran. Jenis media mana yang akan kita gunakan, sangat tergantung pada kebutuhan dan kondisi yang ada di lapangan.&lt;br /&gt; (2). Karakteristik Media&lt;br /&gt;Setiap jenis media, mempunyai karakteristik (kekhasan) tertentu, yang berbeda beda satu sama lain. Masing masing media tentu memiliki kelebihan dan kelemahan. Tidak semua jenis media yang disebutkan di atas akan dibahas di sini. Untuk mempermudah pembahasan, kita akan menggunakan pengelompokkan media seperti yang dikemukakan oleh Henich. Namun karena pertimbangan praktis, maka jenis media yang akan dibahas di sini hanya dipilih beberapa media yang biasa digunakan dalam pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(a). Media yang tidak diproyeksikan&lt;br /&gt;Kelompok media ini sering disebut sebagai media pameran (dis¬played media). Jenis media yang tidak diproyeksikan antara lain; realia, model, dan grafis. Ketiga jenis media ini dapat dikategorikan sebagai media sederhana yang penyajiannya tidak memerlukan tenaga listrik. Walaupun demikian media ini sangat penting bagi siswa karena mampu menciptakan kegiatan pembelajaran menjadi lebih hidup dan lebih menarik yaitu: &lt;br /&gt;Media realia adalah benda nyata yang digunakan sebagai bahan atau sumber belajar. Pemanfaatan media realia tidak harus dihadirkan secara nyata dalam ruang kelas, melainkan dapat juga dengan cara mengajak siswa melihat langsung (observasi) benda nyata tersebut ke lokasinya. Realia dapat digunakan dalam kegiatan belajar dalam bentuk sebagaimana adanya, tidak perlu dimodifikasi, tidak ada pengubahan kecuali dipindahkan dari kondisi lingkungan aslinya. Ciri media realia yang asli adalah benda yang masih dalam keadaan utuh, dapat dioperasikan, hidup, dalam ukuran yang sebenarnya, dan dapat dikenali sebagai wujud aslinya. Media realia sangat bermanfaat terutama bagi siswa yang tidak memiliki pengalaman terhadap benda tertentu. Misalnya untuk mempelajari binatang langka, siswa diajak melihat badak yang ada di kebun binatang. Selain observasi dalam kondisi aslinya, penggunaan media realia juga dapat dimodifikasi. Modifikasi media realia bisa berupa: potongan benda (cutaways), benda contoh (specimen), dan pameran (exhibid).&lt;br /&gt;Cara potongan (cutaways) adalah benda sebenarnya tidak digunakan secara utuh atau menyeluruh, tetapi hanya diambil sebagian saja yang dianggap penting dan dapat mewakili aslinya. Misalnya binatang langka hanya diambil bagian kepalanya saja. Benda contoh (specimen) adalah benda asli tanpa dikurangi sedikitpun. Yang dipakai sebagai contoh untuk mewakili karakter dari sebuah benda dalam jenis atau kelompok tertentu. Misalnya beberapa ekor ikan hias dari jenis tertentu, yang dimasukkan dalam sebuah toples berisi air untuk diamati di dalam kelas. Pameran (exhibit) menampilkan benda benda tertentu yang dirancang seolah olah berada dalam lingkungan atau situasi aslinya. Misalnya senjata senjata kuno yang masih asli ditata dan dipajang seolah olah mengambarkan situasi perang pada jaman dulu.&lt;br /&gt;Secara teori, penggunaan media realia ini banyak kelebihannya, misalnya dapat memberikan pengalaman nyata kepada siswa. Namun dalam prakteknya banyak benda benda nyata yang tidak mudah dihadirkan dalam bentuk yang sebenarnya yang disebabkan oleh keterbatasan keterbatasan tertentu. Oleh karena itu perlu ada jenis media lain sebagai penggantinya, seperti dijelaskan berikut ini, &lt;br /&gt;Media model diartikan sebagai benda tiruan dalam wujud tiga dimensi yang merupakan representasi atau pengganti dari benda yang sesungguhnya. Penggunaan model sebagai media dalam pembelajaran dimaksudkan untuk mengatasi kendala tertentu untuk pengadaan realia. Model suatu benda dapat dibuat dengan ukuran yang lebih besar, lebih kecil atau sama dengan benda sesungguhnya. Model juga bisa dibuat dalam wujud yang lengkap seperti aslinya, bisa juga lebih disederhanakan hanya menampilkan bagian/ciri yang penting. Contoh model adalah: candi borobudur, pesawat terbang atau tugu monas yang dibuat dalam bentuk mini, &lt;br /&gt; Media grafis tergolong jenis media visual yang menyalurkan pesan lewat simbol simbol visual. Grafis juga berfungsi untuk menarik perhatian, memperjelas sajian pelajaran, dan mengilustrasikan suatu fakta atau konsep yang mudah terlupakan jika hanya dijelaskan melalui penjelasan verbal saja. Banyak konsep yang justru lebih mudah dijelaskan melalui gambar daripada menggunakan kata kata verbal. Ingat ungkapan "Satu gambar berbicara seribu kata".Semua media grafis, baik itu berupa gambar, sketsa bagan, grafik atau media visual yang lain harus dibuat dengan memperhatikan prinsip prinsip umum. Sebagai salah satu media visual, grafis harus diusahakan memenuhi ketentuan ketentuan agar menghasilkan visual yang komunikatif. Untuk lebih mudah diingat, ketentuan tersebut dinyatakan dalam akronim "VISUALS" (singkatan dari Visible, Interesting, Simple, Useful, Accurate, Ligitimate, dan Structured). Secara singkat prinsip umum pembuatan visual itu dapat dijelaskan sebagai berikut. Visible berarti mudah dilihat oleh seluruh sasaran didik yang akan memanfaatkan media yang kita buat. Interesting artinya menarik, tidak monoton dan fidak membosankan. Simple artinya sederhana, singkat, dan tidak berlebihan. Useful maksudnya adalah visual yang ditampilkan harus dipilih yang benar-benar bermanfaat bagi sasaran didik. Jangan menayangkan tulisan terlalu banyak yang sebenamya kurang penting. Accurate artinya isinva harus benar dan tepat sasaran. Jika pesan yang dikemas dalam media visual salah, maka dampak buruknya akan sulit terhapus dari ingatan siswa. Legitimate adalah bahwa visual yang ditampilkan harus sesuatu yang sah dan masuk akal. Visual yang tidak logis atau tidak lazim akan dianggap janggal oleh anak. Structured maksudnya visual harus terstruktur atau tersusun dengan baik, sistematis, dan runtut sehingga mudah dipahami pesannya.Media grafis banyak jenisnya, misalnya: gambar/foto, sketsa, bagan, diagram, grafik, poster, kartun dan sebagainya. Berikut ini dijelaskan beberapa diantara jenis grafis tersebut,&lt;br /&gt;  Gambar/foto adalah media yang paling umum dipakai dalam pembelajaran. Gambar/foto sifatnya universal, mudah dimengerti, dan tidak terikat oleh keterbatasan bahasa. Beberapa kelebihan media gambar/foto antara lain(1) sifatnya konkrit. (2).dapat mengatasi batasan ruang, waktu dan indera. (3). harganya relatif murah serta mudah dibuat dan digunakan dalam pembelajaran di kelas.Selain kelebihan, gambar/foto juga memiliki kelemahan, antara lain: (1) hanya menekankan pada persepsi indera mata, ukurannya terbatas hanya dapat terlihat oleh    sekelompok siswa.(2). jika gambar terlalu kompleks, akan kurang efektif untuk tujuan pembelajaran tertentu.&lt;br /&gt;Agar lebih bermanfaat dalam pembelajaran, maka gambar/foto hendaknya memenuhi persyaratan berikut (1). otentik, artinya dapat menggambarkan obyek/peristiwa seperti jika siswa melihat langsung. (2). sederhana, artinya harus menunjukkan dengan jelas bagian bagian pokok dari gambar tersebut. (3)ukurannya proporsional, sehingga siswa mudah membayangkan ukuran sesungguhnya   benda/obyek yang digambar. Caranya antara lain dengan mensejajarkan gambar/foto tersebut dengan benda lain yang sudah dikenal siswa. Memadukan antara keindahan dengan kesesuaiannya untuk mencapai tujuan pembelajaran.&lt;br /&gt; Sketsa adalah gambar yang sederhana atau draft kasar yang melukiskan bagian bagian pokoknya tanpa detail. Selain dapat menarik perhatian siswa, sketsa dapat menghindarkan verbalisme dan memperjelas pesan. Sketsa dapat dibuat langsung oleh guru, karena itu harganya pasti murah (bahkan bisa tanpa biaya). Satu¬-satunya hambatan yang sering dikemukakan adalah guru tidak bisa menggambar. Padahal setiap orang pasti memiliki kemampuan dasar mengganbar, dan itu sudah cukup sebagai modal membuat sketsa untuk memperjelas sajian kita.&lt;br /&gt; Diagram/skema merupakan suatu gambar sederhana yang menggunakan garis garis dan simbol simbol. Diagram menggambarkan struktur dari obyek tertentu secara garis besar. Diagram menunjukkan hubungan yang ada antara komponennya atau sifat sifat proses yang ada di sana. Isi diagram pada umumnya berupa petunjuk untuk memahami komponen dan mekanisme kerja peralatan tertentu. Misalnya kalau kita membeli peralatan elektronik, biasanya disertai sebuah diagram mengenai komponen alat tersebut, fungsi, dan cara pengoperasian. Jika digunakan dalam pembelajaran, diagram bisa menyederhanakan sesuatu yang kompleks sehingga dapat membantu memperjelas penyajian guru. Kelebihannya diagram dapat menyajikan materi yang luas dan kompleks menjadi lebih padat dan sederhana. Namun untuk bisa memahami diagram, siswa harus memiliki atar belakang tentang materi yang didiagramkan. Diagram yang baik haruslah: (1). benar datanya. (2). Rapi. (3). diberi judul dan penjelasan seperlunya. (4).ukurannya cukup dan dapat dilihat oleh siswa dalam jumlah yang diinginkan. (5). penyusunannya disesuaikan dengan pola membaca yang umum (dari kiri ke kanan).&lt;br /&gt; Bagan/chart. Fungsi bagan/chart yang pokok adalah menyajikan ide ide atau konsep yang sulit sehingga lebih mudah dicerna siswa. Bagan mampu memberikan ringkasan butir butir penting dari suatu penyajian. Dalam bagan/chart sering dijumpai bentuk grafis yang lain seperli gambar, diagram, kartun atau lambang verbal. Agar menjadi media yang baik, bagan hendaknya dibuat: (1). secara sederhana. (2).lugas. (3).tidak berbelit belit. (4).up to date. Ada beberapa macam bentuk bagan, yaitu: bagan pohon, bagan arus dan bagan garis waktu. Bagan pohon biasanya digunakan untuk menunjukkan sifat, komposisi atau hubungan antar kelas (strata). Contoh bagan pohon yang paling mudah ditemukan di sekolah adalah bagan tentang struktur organisasi OSIS. Bagan arus untuk menggambarkan hubungan atau langkah langkah suatu kegiatan. Sedangkan bagan garis waktu untuk menggambarkan hubungan antara peristiwa dengan waktu secara kronologis.&lt;br /&gt;Grafik merupakan gambar sederhana yang menggunakan garis, titik, simbol verbal atau bentuk tertentu yang menggambarkan data kuantitatif. Grafik digunakan untuk menjelaskan perkembangan atau perbandingan suatu obyek yang saling berhubungan. Grafik biasanya disusun berdasarkan prinsip matematika dan menggunakan data komparatif. Ada beberapa. bentuk grafik, antara lain: grafik garis, grafik batang, grafik lingkaran, dan grafik gambar. Beberapa kelebihan grafik dalam pembelajaran antara lain: (1).memungkinkan kita mengadakan analisis, penafsiran dan perbandingan antar data data yang   disajikan, baik dalam ukuran, jumlah, pertumbuhan, maupun arah tertentu. (2). bermanfaat untuk mempelajari hubungan kuantitatif antar beberapa data. (3). penyajian pesannya cepat, jelas, menarik, ringkas, dan logis. Semakin rumit data yang akan disajikan akan semakin efektif bila disajikan melalui grafik. Grafik yang baik haruslah: (1)jelas untuk dilihat dan dibaca siswa. (2).hanya menyajikan satu ide/pokok masalah. (3). menggunakann warna warna kontras dan harmonis. (4).dibuat secara ringkas dan diberikan judul. (5).sederhana, menarik, teliti dan mampu "berbicara sendiri" (begitu siswa membaca, langsung mengerti maksudnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; (2). Media yang diproyeksikan&lt;br /&gt;(a). Transparansi OHP&lt;br /&gt;Berbeda dengan media media visual terdahulu yang tidak memerlukan alat penyaji, transparansi OHP visualnya diproyeksikan ke layar menggunakan proyektor. Media ini terdiri dari dua perangkat, yaitu perangkat lunak (software) dan perangkat keras (hardware). Perangkat lunaknya berupa transparansi yang disebut OHT (overhead transparancy). Sedangkan perangkat lunaknya adalah OHP (overhead pro¬jector). Beberapa kelebihan media transparansi OHP adalah: (1). tidak memerlukan ruangan gelap, sehingga aktivitas belajar siswa dapat berjalan seperti biasa. (2). praktis, dapat dipergunakan untuk semua ukuran kelas dan ruangan, dan bisa disajikan tanpa layar khusus (dapat langsung ke dinding kelas). (3).memberi kemungkinan siswa mencatat informasi yang ditayangkan (4).bisa disajikan dengan berbagai variasi yang menarik sehingga tidak membosankan, (5).transparansi dapat dicopy dan dibagikan kepada siswa sebagai hand out, (6).dapat dipakai guru sebagai pointer (pokok pokok materi), (7). dapat dipakai berulang ulang, (8) guru dapat mengatur, mengurutkan, dan merevisi materi yang akan disajikan. (9) guru bebas mengatur waktu, kecepatan, dan teknik penyajiannya. (10).mudah pembuatannya, tulisan dapat dihapus, ditambah, atau dikurangi serta mudah   pengoperasiannya, (11) visual yang disajikan jauh lebih menarik dibandingkan kalau hanya digambar di papan tulis, (13) guru dapat bertatap muka (tidak perlu membelakangi siswa) sambil menggunakan OHP, (14).lebih bersih dan sehat jika dibandingkan dengan menggunakan kapur dan papan tulis. Meskipun banyak kelebihannya media ini juga memiliki kelemahan yang perlu diperhatikan, yaitu: (1).tergantung pada adanya aliran listrik. (2). urutan penyajianya mudah kacau jika sebelumnya tidak dipersiapkan secara sistematis. (3).bagi sekolah sekolah tertentu, pengadaan peralatannya masih dirasakan mahal. (4). bila rusak, misalnya lampunya putus, suku cadangnya sulit diperoleh, khususnya untuk sekolah  yang jauh dari kota besar. (5).untuk jenis OHP tertentu, tidak mudah dibawa kemana¬-mana.&lt;br /&gt;(b). Pembuatan dan Penyajian Media Tranparansi.&lt;br /&gt;Diantara beraneka macam media yang telah kita bicarakan, media transparansi agaknya merupakan media yang cukup populer penggunaannya di sekolah. Hampir semua sekolah telah memiliki peralatan OHP, namun pemanfaatannya belum maksimal. Dibandingkan dengan media pembelajaran modern lainnya (slide, film, video), OHP merupakan "alat bantu mengajar tatap muka sejati". Anggapan ini bisa dimaklumi, sebab untuk menggunakan OHP tata letak ruang kelas tetap seperti biasa, guru dapat bertatap muka dengan siswa (tanpa harus membelakangi siswa). Selain itu, dengan ruang kelas yang tidak perlu gelap, aktivitas siswa dapat berlangsung seperti biasa, dapat saling melihat dan tetap dapat sambil mencatat. Keadaan seperti ini membuat aktivitas belajar tidak terganggu.&lt;br /&gt;Perangkat Media Transparansi terdiri dari perangkat keras (OHP) dan perangkat lunak (OHT). Untuk mengenal lebih jauh, masing masing perangkat dijelaskan secara singkat sebagai berikut. (1) Overhead proyektor (OHP). Dalam kelompok peralatan proyeksi, OHP merupakan peralatan yang paling sederhana. Peralatan OHP hanya menggunakan sistem optik (lensa lensa) dan elektronik (kipas pendingin dan lampu proyektor). Ada beberapa model atau bentuk OHP, tetapi pada dasarnya memiliki prinsip kerja yang sama. Perbedaannya adalah beberapa fasilitas tambahan dan variasinya. Bentuk OHP yang biasa dipakai di sekolah pada umumnya terdiri atas lampu, reflektor dan kipas pendingin ditempatkan dalam kotak bagian bawah. Hal ini menyebabkan bentuk dan ukurannya menjadi besar, sehingga mengurangi kepraktisannya. Namun bentuk OHP yang demikian memiliki kelebihan yaitu lebih tahan untuk dinyalakan lebih lama, karena udara panas akibat nyala lampu dapat dihembuskan ke luar oleh kipas pendingin. Ada jenis OHP lain yang dirancang agar lebih praktis dan mudah di bawa kemana mana. Bentuk OHP ini lebih ramping dan bersifat portable. Pada OHP jenis tersebut, lampu proyektor dipasang menjadi satu dengan lensa. Tipe ini tidak dilengkapi dengan kipas pendingin. Jadi tidak diperlukan lagi bagian kotak besar seperti pada jenis OHP yang pertama. Karena itu, OHP jenis ini lebih tipis, ringan dan jika dilipat hanya setebal tas sehingga lebih mudah dibawa kemana mana. Meskipun demikian, jenis OHP ini akan cepat panas sehingga jika terlalu lama dinyalakan lampunya mudah putus, (2)  Overhead transparancy (OHT) sering disebut transparancy film atau transparansi. Terbuat dari bahan plastik tembus cahaya sehingga visual dapat diproyeksikan. Lembaran plastik biasanya berukuran 26,5 x 21 cm. Ada beberapa kualitas plastik yang bisa digunakan, mulai dari yang mahal dan bermerk khusus hingga yang paling murah, bahkan bisa saja menggunakan plastik seperti yang dipakai untuk taplak meja. Di atas transparansi itu, guru bisa menyiapkan tulisan jauh sebelum penyajian atau bisa langsung menulis sambil mengajar.&lt;br /&gt;Teknik Pembuatan Media Transparansi ada dua cara yang dapat dilakukan untuk menghasilkan transparansi, yaitu: (1). Dengan cara mengambil dari bahan cetak dengan teknik tertentu, antara lain: Mencetak dengan bantuan komputer, baik dengan full color (berwarna) maupun mono colour (hitam). Hal ini bisa menggunakan plotter maupun laser ink jet printer; Membuat gambar/tulisan dalam selembar kertas atau mengambil dari buku, lalu difotocopy dalam plastik transparansi khusus; Melalui proses fotografi yang dicetak dalam film transparansi., dan masih ada cara cara lain (2). Membuat sendiri secara manual. Cara ini dapat dilakukan sendiri oleh guru dengan cepat, sederhana dan murah. Secara singkat , teknik pembuatannya dijelaskan sebagai berikut :Siapkan bahan dan peralatan yang diperlukan, yaitu: plastik transparansi (sesuai kualitas yang dikehendaki), OHT pen (marker pen) atau spidol pemanen, minyak penghapus (eceton), kapas dan alat bantu tulis lain yang diperlukan. Bila diperlukan sediakan pula bingkai OHT; Siapkan draft yang akan ditrasparansikan dengan pensil pada kertas, lalu dijiplak ke dalam transparansi. Sesuaikan ketentuan ukurannya dengan bidang proyeksi.OHT dapat dibuat dalam beberapa bentuk dan teknik sajian, misalnya: bentuk tunggal, tumpang tindih (overlay), bentuk ibuka tutup (masking), bentuk yang diberikan lapisan transparansi berwarna. Selain itu, dalam membuat rancangan visual dalam transparansi, perlu juga diperhatikan perhatikan beberapa tips berikut. (1). Gunakan huruf dengan ukuran minimal 0,6 cm. Jika Anda mengunakan huruf yang lebih kecil dari itu, maka hasil tayangan akan sulit terbaca oleh siswa yang duduk di belakang. (2). Luas bidang transparansi yang ditulisi jangan melebihi ukuran 18x22 cm. Jika melebihi, maka akan ada sebagian tulisan yang tidak tampak dalam tayangan. (3). Sebaiknya dalam satu lembar transparansi tidak lebih dari enam baris tulisan. Setiap baris maksimal berisi enam kata. Jika lebih dari itu, transparansi akan terlihat terlalu "ramai". (4). Dalam satu lembar transparansi usahakan hanya berisi satu topik permasalahan. Setiap transparansi agar diberi judul. Jika satu lembar transparansi belum cukup untuk menuangkan satu topik tertentu, bisa disambung pada transparansi yang lain dengan diberi judul yang sama. (5).Bila transparansi diberi bingkai, maka pada ruang bingkai dapat diberi catatan kecil yang dianggap perlu. (6).Lembar transparansi sebaiknya tidak hanya berisi tulisan, tetapi dikombinasikan dengan gambar, bagan, grafik, foto, skema atau simbol simbol visual lain, agar lebih menarik dan tidak membosankan. Tulisan dan gambar diusahakan proporsional/seimbang. (7). Agar tayangan lebih menarik, gunakan variasi warna dan bentuk huruf. Namun pemakaian wama jangan berlebihan, maksimal empat warna agar tidak terlalu ramai.&lt;br /&gt; Teknik Penyajikan Transparansi OHP, untuk dapat menyajikan media transparansi dengan baik, ada baiknya Anda perhatikan saran saran berikut: (1).Susunlah semua transparan yang akan Anda sajikan dengan rapi. Untuk memudahkan urutan sajian, sebaiknya setiap lembar transparan diberi nomor urut, mulai transparan pertama sampai terakhir berdasarkan urutan sajian, (2) Letakkan transparan terlebih dahulu di atas OHP dengan baik, kemudian baru nyalakan lampunya, (3) Periksa arah cahaya, apakah posisi tayangan sudah tepat pada layar. Arah tayang yang tidak tepat akan membentuk efek keystone (menyempit pada salah satu sisinya). Jika mungkin, posisi layar bagian atas dibuat agak ke depan (4).Aturlah letak posisi transparansi dan ketepatan fokusnya sehingga memperoleh hasil visual yang baik, (5). Penerangan dalam ruangan tetap seperti biasa (kecuali jika ada cahaya kuat yang masuk ke ruang, maka lampu di dekat layar bisa dimatikan), (6) Gambar/tulisan yang tertayang pada layar harus dapat terlihat dengan mudah oleh seluruh siswa. Siswa harus dapat melihat dengan bebas tanpa terhalang oleh guru atau siswa lain, (7) Selama penyajian, tetaplah menghadap ke arah siswa. Hindari membaca tulisan pada layar (kecuali ketika mengontrol ketepatan fokus dan posisi tayangan), (8). dengan menunjuk nunjuk tulisan/gambar yang ada di layar, tetapi tunjuklah tulisan/gambar pada transparan di OHP, (9). Tunjukkan bagian materi yang sedang Anda bicarakan. Sebaiknya tidak menunjuk tulisan dengan menggunakan jari tetapi gunakan alat tunjuk, misalnya pensil yang runcing, (10) Bila diperlukan, Anda bisa menulis pada transparans untuk memperjelas sajian, atau menambahkan penjelasan yang baru saja Anda ingat. Sebaiknya tambahan penjelasan tersebut ditulis pada lembar plastik kosong yang ditumpangkan di atas tranparans yang sedang disajikan. Dengan demikian transparan aslinya tidak tercoret coret sehingga masih dapat digunakan lagi pada kesempatan lain, (11) Segera matikan OHP jika tayangan tidak diperlukan lagi. Hal ini untuk menghindari OHP yang terIalu panas yang dapat merusak lampu. Harap diperhatikan bahwa kerusakan OHP yang paling sering terjadi adalah putus lampunya. Lebih lebih untuk tipe OHP yang tidak menggunakan kipas pendingin, (12), Simpanlah lembar lembar transparans ke dalam map. Setiap lembar sebaiknya dilapisi selembar kertas untuk memisahkan dengan lembar lainnya agar tulisan tidak cepat rusak dan tidak lengket ketika diambil. Pemberian kertas pemisah, juga dimaksudkan agar transparan mudah terbaca pada saat dipilih pilih sebelum penayangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; (3). Film Bingkai/slide&lt;br /&gt;Film bingkai/slide adalah suatu film transparan yang umumnya berukuran 35 mm. Dalam satu paket program film bingkai berisi beberapa bingkai film yang terpisah satu sama lain. Sebagai suatu program, maka durasi (lama putar) film bingkai sangat bervariasi, tergantung jumlah bingkai filmnya. Waktu yang diperlukan untuk menayangkan setiap bingkai juga bervariasi. Film bingkai ada juga yang dilengkapi dengan paralatan audio, sehingga selain gambar, juga bisa menyajikan suara. Film bingkai yang dilengkapi dengan audio dinamakan film bingkai suara atau slide suara. Dalam beberapa hal, manfaat film bingkai ini sebenarnya hampir sama dengan transparansi OHP, hanya saja kualitas visual yang dihasilkan jauh lebih bagus. Dengan demikian potensi dan kelebihan yang ada pada transparansi OHP juga dimiliki oleh film bingkai. Kelemahan media ini dibandingkan OHP adalah biaya produksi dan peralatannya lebih mahal. Pengoperasiannya juga kurang praktis. Untuk menyajikan film bingkai ini diperlukan alat yang disebut proyektor slide. Karena faktor kemahalan dan kurang praktis tersebut, maka penggunaan media ini kurang populer di sekolah. Apalagi saat ini sudah ada program komputer yaitu Power Point yang lebih murah dan lebih praktis penggunaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4). Media Audio&lt;br /&gt;Media audio yang dibahas di sini khusus kaset audio karena media inilah yang paling sering digunakan di sekolah. Program kaset audio termasuk media yang sudah memasyarakat hingga ke pelosok pedesaan. Program kaset audio merupakan sumber yang cukup ekonomis karena biaya yang diperlukan untuk pengadaan dan perawatan cukup murah. Beberapa kelebihan program audio adalah: (1).materi pelajaran yang sudah terekam tak akan berubah, jika diperlukan bisa digandakan  berkali kali sesuai jumlah yang dibutuhkan.(2).untuk jumlah sasaran yang banyak, biaya produksi dan penggandaannya relatif murah. (3). jika diperlukan, rekaman dapat dihapus dan kasetnya masih dapat dipergunakan. (4). peralatan penyajinya (tape recorder) juga termasuk murah bila dibandingkan dengan peralatan audio visual lainnya. (5). pengoperasian dan perawatannya juga mudah, tempat perbaikannya mudah ditemukan di sekitar sekolah. (6). program kaset audio dapat menyajikan kegiatan, materi pelajaran dan sumber belajar yang berasal dari luar kelas/sekolah seperti: hasil wawancara, rekaman peristiwa, dan dokumentasi sehingga dapat memperkaya pengalaman belajar siswa. &lt;br /&gt;Program audio sangat cocok untuk menyajikan materi pelajaran yang bersifat auditif, seperti pelajaran bahasa asing dan seni suara. Program audio mampu menciptakan suasana yang imajinatif dan membangkitkan sentuhan emosional bagi siswa. Dalam pelajaran sejarah misalnya, kita tidak mungkin memperoleh suara asli patih Gajahmada. Melalui program audio, secara imajinatif kita bisa menghadirkan suara tokoh Gajahmada yang gagah berani dan patriotik. Program ini bisa digunakan sebagai media untuk menyampaikan pesan pesan afektif kepada siswa sehingga memberikan kesan mendalam di hati siswa. Adapun kelemahannya adalah: (1). daya jangkaunya terbatas, tidak bisa didengarkan secara masal (kecuali disiarkan melalui radio). (2).jika jumlah sasarannya sedikit dan hanya sekali pakai, maka biaya produksi manjadi mahal. (3).cenderung verbalistik karena semua informasi hanya disajikan melalui suara, sehingga sulit dipergunakan untuk menyajikan materi yang bersifat sangat teknis, praktek, dan eksak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(5).   Media video&lt;br /&gt;Media video merupakan salah satu jenis media audio visual. Jenis media audio visual lain misalnya film. Tetapi yang akan dibicarakan di sini hanyalah media video, karena media inilah yang sudah banyak dikembangkan untuk keperluan pembelajaran. Sebagian besar fungsi film sudah bisa digantikan oleh media video. Biaya produksi dan perawatan video juga lebih murah. dibandingkan film. Pengoperasianyapun jauh lebih praktis. Sehingga tak heran bila media video saat ini lebih populer dan diminati dibandingkan media film. Oleh sebab itu saat ini media video telah banyak diproduksi untuk keperluan pembelajaran.&lt;br /&gt;Pemanfaatan video dalam proses pembelajaran di sekolah bukan lagi sesuatu yang aneh. Saat ini banyak sekolah yang telah memiliki dan memanfaatkan program video pembelajaran di sekolah. Media video memiliki banyak kelebihan dibanding OHP, slide, dan audio. Sebagai media audio visual, video dapat menampilkan suara, gambar, dan gerakan, sekaligus. Sehingga media ini efektif untuk menyajikan berbagai topik pelajaran yang sulit disampaikan melalui informasi verbal.&lt;br /&gt;Kemampuan video untuk memanipulasi waktu dan ruang dapat mengajak siswa melanglang buana walaupun dibatasi oleh dinding ruang kelas. Obyek obyek yang terlalu kecil, terlalu besar atau obyek langka dan berbahaya dapat dihadirkan ke ruang kelas. Bahkan video dapat menghadirkan obyek yang hanya ada di lain benua dan luar angkasa. Singkatnya, media ini mampu "membawa dunia ke dalam kelas" .&lt;br /&gt;Pesan yang dapat disajikan melalui video dapat bersifat fakta (obyek, kejadian, atau informasi nyata), dapat pula bersifat fiktif. Pada mata pelajaran yang banyak mempelajari keterampilan motorik, media video sangat diperlukan. Dengan kemampuanya untuk menyajikan gerakan lambat (slow motion), maka media ini akan memudahkan siswa mempelajari prosedur gerakan tertentu secara lebih rinci dan jelas.&lt;br /&gt;Sekarang, media ini biasanya dikemas dalam bentuk VCD (video compact disc). Beberapa tahun lalu, media ini masih dianggap terlalu mahal untuk digunakan di sekolah. Tetapi saat ini harganya sudah terjangkau oleh masyarakat hingga ke lapisan bawah. Harga satu keping VCD hampir sama dengan kaset audio. Dengan demikian, media video ini layak kita jadikan sebagai salah satu pilihan untuk dimanfaatkan secara. maksimal dalam kegiatan pembelajaran di sekolah.&lt;br /&gt;Meskipun demikian, akhir-akhir ini kehebatan program video masih terkalahkan oleh program pembelajaran berbantuan komputer. Media komputer memiliki hampir semua kelebihan yang dimiliki oleh media lain. Selain mampu menampilkan teks, gerak, suara, dan gambar, komputer juga dapat digunakan secara interaktif, bukan hanya searah. Bahkan komputer yang disambung dengan internet dapat memberikan keleluasan belajar menembus ruang dan waktu serta menyediakan sumber belajar yang hampir tanpa batas. Oleh karena itu media komputer dapat dimasukkan dalam kelompok multi¬media.&lt;br /&gt;Pada modul ini media komputer memang tidak kita bahas lebih jauh lagi. Sebab untuk membahasnya diperlukan kondisi yang lebih khusus. Namun tidak lama lagi, setiap kali membahas media pembelajan, media ini mau tak mau akan menjadi media yang harus kita bahas lebih mendalam. Tidak lama lagi penggunaan media komputer dalam pembelajaran diperkirakan semakin mendesak. Perkembangan media pembelajaran memang akan terus berlanjut, seiring dengan pesatnya kemajuan iptek terutama bidang tekologi komunikasi dan informasi. Untuk itu sebagai pendidik, kita perlu mengikuti perkembamgan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Daftar Pustaka.&lt;br /&gt;Arsyad Azhar. 2002. Media Pembelajaran. Jakarta. Grafindo Persada.&lt;br /&gt;      Degeng, Sudjana. 1993. Teknologi Pendidikan. Jakarta. Dikbud Dikti.&lt;br /&gt;Hamalik, Oemar. 1990. Perencanaan Pengajaran. Bandung. PT. Citra Aditya Bakti.&lt;br /&gt;Luteheru, J. 1988. Media Pembelajaran. Jakarta. Dierjen Dikti.&lt;br /&gt;Diknas. 2001. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta.&lt;br /&gt;Retnaningsih, dkk. 1997. Perspektif Global. Jakarta. Dikti.&lt;br /&gt;Sujana, N. 1989. Teknologi Pengajaran. Bandung. Sinar Baru&lt;br /&gt;Sadiman, A. 1984. Media Pendidikan. Jakarta. CV Rajawali..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1131593786029234853-8406336551789450431?l=biocyberway.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://biocyberway.blogspot.com/feeds/8406336551789450431/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1131593786029234853&amp;postID=8406336551789450431&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1131593786029234853/posts/default/8406336551789450431'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1131593786029234853/posts/default/8406336551789450431'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://biocyberway.blogspot.com/2009/12/arti-media-pembelajaran.html' title='ARTI MEDIA PEMBELAJARAN'/><author><name>van210</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05491969756456454186</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='10' src='http://2.bp.blogspot.com/_GHP-NEyWtGY/SlQ03NZ_xuI/AAAAAAAAABQ/meC2CAfV4bc/s1600-R/van2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1131593786029234853.post-8628799397955982507</id><published>2008-04-15T23:14:00.001+07:00</published><updated>2008-04-15T23:14:35.375+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sistem gerak pada manusia'/><title type='text'>Kelainan-Kelainan Tulang</title><content type='html'>&lt;b&gt;1. Pada tulang pipa, pendek&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;a. Rongga sinovial (minyak sendi)&lt;br /&gt;- artritis eksudatif: bila terinfeksi kuman, meradang/nanah&lt;br /&gt;- artritis silika: bila terinfeksi kuman, minyak sendi berkurang&lt;br /&gt;b. Selaput sendi&lt;br /&gt;- memar&lt;br /&gt;- urai sendi: bila lepas&lt;br /&gt;c. Periosteum --&gt; nekrosa, bila rusak&lt;br /&gt;d. Fisura: retak&lt;br /&gt;e. fraktura: patah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;2. Pada tulang belakang&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;a. Skoliosis: membengkok kesamping&lt;br /&gt;b. Kifosis: bungkuk kedepan&lt;br /&gt;c. Lordosis: bungkuk kebelakang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1131593786029234853-8628799397955982507?l=biocyberway.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://biocyberway.blogspot.com/feeds/8628799397955982507/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1131593786029234853&amp;postID=8628799397955982507&amp;isPopup=true' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1131593786029234853/posts/default/8628799397955982507'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1131593786029234853/posts/default/8628799397955982507'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://biocyberway.blogspot.com/2008/04/kelainan-kelainan-tulang.html' title='Kelainan-Kelainan Tulang'/><author><name>van210</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05491969756456454186</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='10' src='http://2.bp.blogspot.com/_GHP-NEyWtGY/SlQ03NZ_xuI/AAAAAAAAABQ/meC2CAfV4bc/s1600-R/van2.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1131593786029234853.post-3783801519855298157</id><published>2008-04-15T22:59:00.001+07:00</published><updated>2008-04-15T22:59:53.612+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sistem gerak pada manusia'/><title type='text'>Rangka Tubuh Manusia</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Tulan-tulang yang menyusun tubuh manusia dapat dibedakan menjadi tulang tengkorak, tulang badan &amp; tulang anggota gerak, yang terdiri atas tulang dengan berbagai bentuk &amp; ukuran. Otot mempunyai kemampuan untuk berkerut (kontraksi) sehingga dpt menggerakkan tulang.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Macam-macam bentuk tulang&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan bentuknya dibedakan menjadi 3, yaitu:&lt;br /&gt;a. Tulang pipa: tulang lengan, paha, tungkai &amp; ruas-ruas tulang jari.&lt;br /&gt;b. Tulang pipih: tulang rusuk, dada, belikat, panggul, &amp; dahi.&lt;br /&gt;c. Tulang pendek: tulang pergelangan tangan, pergelangan kaki, telapak tangan, telapak kaki, &amp; ruas-ruas tulang belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Macam-macam tulang berdasarkan penyusun tulang&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;a. Tulang rawan: terdiri atas sel-sel tulang rawan/kondrosit &amp; matriks tulang, bingkas &amp; lentur, sedikit zat kapur.&lt;br /&gt;b. Tulang sejati: terdiri atas sel-sel tulang keras (osteosit) &amp; matriks tulang yg tersusun kolagen&amp; zat kapur sehingga bersifat keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Hubungan antar tulang (artikulasi)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;a. Diarthrosis, jika memungkinkan terjadinya gerakan leluasa (sendi: peluru, engsel, pelana, putar)&lt;br /&gt;b. Amfiarthrosis, jika gerakan yg terjadi sangat terbatas&lt;br /&gt;c. Sinarthrosis, jika antara 2 tulang yg dihubungkan tdk ada gerak. Dibedakan atas: Sinkondrosis &amp; Sinfibrosis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Fungsi rangka manusia&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;- memberi bentuk tubuh&lt;br /&gt;- pelindung bagian-bagian tubuh yg lunak&lt;br /&gt;- menegakkan tubuh&lt;br /&gt;- tempat pembentukkan sel-sel darah&lt;br /&gt;- melekatnya otot&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;b&gt;Proses penulangan/osifikasi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Tulang rawan pada embrio banyak mengandung osteoblast, osteoblast membentuk osteosit yg menyusun sistem havers. Di tengah sistem havers tempat saraf &amp; pembuluh darah. Pada tulang pipa, tempat yg terus mengalami pemanjangan adalah bagian cakra epifise (daerah antara epifise dg diafise)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1131593786029234853-3783801519855298157?l=biocyberway.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://biocyberway.blogspot.com/feeds/3783801519855298157/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1131593786029234853&amp;postID=3783801519855298157&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1131593786029234853/posts/default/3783801519855298157'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1131593786029234853/posts/default/3783801519855298157'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://biocyberway.blogspot.com/2008/04/rangka-tubuh-manusia.html' title='Rangka Tubuh Manusia'/><author><name>van210</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05491969756456454186</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='10' src='http://2.bp.blogspot.com/_GHP-NEyWtGY/SlQ03NZ_xuI/AAAAAAAAABQ/meC2CAfV4bc/s1600-R/van2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1131593786029234853.post-4389698374041873284</id><published>2008-04-15T22:19:00.001+07:00</published><updated>2008-04-15T22:19:22.857+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sistem gerak pada manusia'/><title type='text'>Susunan Tulang Rangka Manusia</title><content type='html'>Tulang rangka manusia dapat di golongkan menjadi 3 bagian yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;I. Tengkorak&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;a. Bagian kepala&lt;br /&gt;- 1 tl. dahi&lt;br /&gt;- 2 tl. ubun-ubun&lt;br /&gt;- 1 tl. kepala belakang&lt;br /&gt;- 2 tl. baji&lt;br /&gt;- 2 tl. pelipis&lt;br /&gt;b. Bagian muka&lt;br /&gt;- 2 tl. rahang atas&lt;br /&gt;- 2 tl. rahang bawah&lt;br /&gt;- 2 tl. pipi&lt;br /&gt;- 2 tl. langit-langit&lt;br /&gt;- 2 tl. hidung&lt;br /&gt;- 2 tl. air mata&lt;br /&gt;- 1 tl. lidah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;II. Badan&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;a. Ruas tl. belakang&lt;br /&gt;- 7 ruas tl. leher&lt;br /&gt;- 12 ruas tl. punggung&lt;br /&gt;- 5 ruas tl. pinggang&lt;br /&gt;- 5 ruas tl.&lt;br /&gt;kelangkang&lt;br /&gt;- 4 ruas tl. ekor&lt;br /&gt;b. Tulang dada&lt;br /&gt;c. Tulang rusuk&lt;br /&gt;- 7 ps. tl. rusuk sejati&lt;br /&gt;- 3 ps. tl. rusuk palsu&lt;br /&gt;- 2 ps. tl. rusuk melayang&lt;br /&gt;d. Tulang gelang bahu&lt;br /&gt;- 2 tl. belikat&lt;br /&gt;- 2 tl. selangka&lt;br /&gt;e. Tulang panggul&lt;br /&gt;- 2 tl. usus&lt;br /&gt;- 2 tl. duduk&lt;br /&gt;- 2 tl. kemaluan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;C. Tulang anggota gerak&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;a. Tulang legan&lt;br /&gt;- 2 tl. lengan atas&lt;br /&gt;- 2 tl. hasta&lt;br /&gt;- 2 tl. pengumpil&lt;br /&gt;- 2 x 8 tl. pergelangan tangan&lt;br /&gt;- 2 x 5 tl. telapak tangan&lt;br /&gt;- 2 x 14 ruas tl. jari tangan (tiap 3 ruas kecuali ibu jari)&lt;br /&gt;b. Tulang tungkai&lt;br /&gt;- 2 tl. paha&lt;br /&gt;- 2 tl. tempurung lutut&lt;br /&gt;- 2 tl. kering&lt;br /&gt;- 2 tl. betis&lt;br /&gt;- 2 x 7 tl. pergelangan kaki&lt;br /&gt;- 2 x 5 tl. telapak kaki&lt;br /&gt;- 2 x 14 ruas tl. jari kaki (tiap jari 3 ruas kecuali ibu jari 2 ruas)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1131593786029234853-4389698374041873284?l=biocyberway.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://biocyberway.blogspot.com/feeds/4389698374041873284/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1131593786029234853&amp;postID=4389698374041873284&amp;isPopup=true' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1131593786029234853/posts/default/4389698374041873284'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1131593786029234853/posts/default/4389698374041873284'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://biocyberway.blogspot.com/2008/04/susunan-tulang-rangka-manusia.html' title='Susunan Tulang Rangka Manusia'/><author><name>van210</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05491969756456454186</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='10' src='http://2.bp.blogspot.com/_GHP-NEyWtGY/SlQ03NZ_xuI/AAAAAAAAABQ/meC2CAfV4bc/s1600-R/van2.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1131593786029234853.post-4429521197802511034</id><published>2008-04-15T20:00:00.001+07:00</published><updated>2008-04-15T20:00:13.577+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Struktur dan fungsi jaringan hewan'/><title type='text'>Organ dan Sistem Organ</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;&lt;b&gt;A. Organ&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Organ merupakan bagian tubuh yang memiliki satu atau lebih fungsi tertentu. Penyusun organ adalah beberapa jenis jaringan yang terorganisir dan saling berkaitan satu dg lainnya. Contoh: usus halus, berfungsi mencerna dan menyerap sari-sari makanan. Struktur usus halus terdiri dari jaringan otot, jaringan epitel, jaringan ikat, dan jaringan saraf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;B. Sistem Organ&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;Sistem organ merupakan gabungan dari berbagai organ yang melaksanakan satu fungsi dalam koordinasi tertentu.&lt;br /&gt;Berikut ini berbagai sistem dalam tubuh beserta fungsinya dan organ penyusunnya:&lt;br /&gt;1. Gerak&lt;br /&gt;Fungsi: penyokong, pelindung organ internal, alat gerak.&lt;br /&gt;Penyusun: tulang &amp; otot&lt;br /&gt;2. Sirkulasi&lt;br /&gt;Fungsi: transportasi darah dan cairan limfa&lt;br /&gt;Penyusun: jantung, pembuluh darah, pembuluh limfa, darah.&lt;br /&gt;3. Saraf&lt;br /&gt;Fungsi: koordinasi aktifitas tubuh&lt;br /&gt;Penyusun: otak, 12 pasang saraf kranial, 31 pasang saraf spinal, sistem saraf simpatik dan sistem saraf parasimpatik&lt;br /&gt;4. Kelenjar buntu (endokrin)&lt;br /&gt;Fungsi: menghasilkan hormon untuk mendorong pertumbuhan, perkembangan dan koordinasi aktifitas tubuh.&lt;br /&gt;Penyusun: kelenjar tiroid, kelenjar paratiroid, kelenjar pituitari dan kelenjar adrenal&lt;br /&gt;5. Respirasi&lt;br /&gt;Fungsi: bernapas (pertukaran udara)&lt;br /&gt;Penyusun: hidung, tenggorokan/trakea, paru-paru&lt;br /&gt;6. Pencernaan&lt;br /&gt;Fungsi: memproses makanan&lt;br /&gt;Penyusun: mulut, faring, kerongkongan, lambung, usus halus, usus besar, anus, kelenjar pencernaan&lt;br /&gt;7. Eksresi (ginjal)&lt;br /&gt;Fungsi: pengeluaran sisa-sisa metabolisme, mengatur keseimbangan osmotik darah&lt;br /&gt;Penyusun: ginjal, ureter, kantong kemih, uretra&lt;br /&gt;8. Reproduksi&lt;br /&gt;Fungsi: perkembangbiakan&lt;br /&gt;Penyusun: organ kelamin pada jantan (penis, testis) dan betina (ovarium, uterus)&lt;br /&gt;9. Kulit (integumen)&lt;br /&gt;Fungsi: pelindung tubuh&lt;br /&gt;Penyusun: kulit dan derivatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Transplantasi ada 2 macam, yaitu transplantasi heteroplastik (transplantasi antara individu yang tergolong jenis berbeda dalam marga yang sama) dan transplantasi heterotopik (transplantasi antara jaringan dalam individu yang sama).&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1131593786029234853-4429521197802511034?l=biocyberway.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://biocyberway.blogspot.com/feeds/4429521197802511034/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1131593786029234853&amp;postID=4429521197802511034&amp;isPopup=true' title='8 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1131593786029234853/posts/default/4429521197802511034'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1131593786029234853/posts/default/4429521197802511034'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://biocyberway.blogspot.com/2008/04/organ-dan-sistem-organ.html' title='Organ dan Sistem Organ'/><author><name>van210</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05491969756456454186</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='10' src='http://2.bp.blogspot.com/_GHP-NEyWtGY/SlQ03NZ_xuI/AAAAAAAAABQ/meC2CAfV4bc/s1600-R/van2.jpg'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1131593786029234853.post-2772497124767477283</id><published>2008-04-15T19:23:00.001+07:00</published><updated>2008-04-15T19:23:17.121+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Struktur dan fungsi jaringan hewan'/><title type='text'>Jaringan Otot (muskulus) dan Jaringan Saraf</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Jaringan otot dapat dibagi menjadi:&lt;br /&gt;&lt;b&gt;a. Otot polos (otot involunter/tak sadar)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Lokasi: dinding saluran pencernaan, saluran pernapasan, pembuluh darah, limfe.&lt;br /&gt;Fungsi: gerak peristaltik, mengontrol diameter pembuluh darah dan pupil mata.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;b. Otot lurik (otot volunter/sadar)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Lokasi: melekat pada rangka&lt;br /&gt;Fungsi: gerakan tubuh&lt;br /&gt;&lt;b&gt;c. Otot jantung (otot tak sadar)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Lokasi: myocardium (dinding jantung)&lt;br /&gt;Fungsi: kontraksi jantung (sistole dan diasistole)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Jaringan saraf&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;- sel-selnya disebut neuron&lt;br /&gt;- bagian-bagian neuron: dendrit, badan sel saraf, selubung schwann, selubung mielin, akson.&lt;br /&gt;- lokasi: otak, sumsum tulang belakang, ganglion.&lt;br /&gt;- fungsi: konduktivitas (menghantar impuls)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1131593786029234853-2772497124767477283?l=biocyberway.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://biocyberway.blogspot.com/feeds/2772497124767477283/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1131593786029234853&amp;postID=2772497124767477283&amp;isPopup=true' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1131593786029234853/posts/default/2772497124767477283'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1131593786029234853/posts/default/2772497124767477283'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://biocyberway.blogspot.com/2008/04/jaringan-otot-muskulus-dan-jaringan.html' title='Jaringan Otot (muskulus) dan Jaringan Saraf'/><author><name>van210</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05491969756456454186</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='10' src='http://2.bp.blogspot.com/_GHP-NEyWtGY/SlQ03NZ_xuI/AAAAAAAAABQ/meC2CAfV4bc/s1600-R/van2.jpg'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1131593786029234853.post-3206844001926112522</id><published>2008-04-15T18:52:00.001+07:00</published><updated>2008-04-15T18:52:56.612+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Struktur dan fungsi jaringan hewan'/><title type='text'>Jaringan ikat atau penyokong</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Fungsi:&lt;br /&gt;- menghubungkan satu jaringan dg jaringan lain&lt;br /&gt;- mengikat, melekatkan/menghubungkan berbagai alat&lt;br /&gt;- mengisi &amp; menyokong tubuh&lt;br /&gt;Ciri-ciri:&lt;br /&gt;- letak sel2 jaringan ikat tdk berhimpitan, jk berhubungan hanya pd ujung protoplasmanya&lt;br /&gt;- memiliki komponen intraseluler/matriks&lt;br /&gt;- bentuk sel tdk teratur, sitoplasma bergranula &amp; inti sel menggelembung.&lt;br /&gt;Jaringan ikat terdiri:&lt;br /&gt;a. Jaringan ikat padat&lt;br /&gt;Tersusun atas serabut kolagen putih &amp; elastin, yg liat &amp; kuat; matriks rapat/padat, ex: tendon, ligamen, fasia.&lt;br /&gt;b. Jaringan ikat longgar&lt;br /&gt;Tersusun banyak macam sel: fibroblas/fibrosit, sel plasma, makrofag, sel darah putih, serabut kolagen &amp; elastin; matriks longgar. ex: diantara &amp; di sekitar organ, pembuluh darah, dibawah kulit.&lt;br /&gt;c. jaringan lemak/adipose&lt;br /&gt;Bentuk longgar, tersusun dr sel2 lemak yg berdinding tipis &amp; di dalamnya tdpt rongga yg penuh tetes lemak. ex: dibawah kulit, sekitar ginjal, bantalan persendian, &amp; dlm sumsum tulang panjang.&lt;br /&gt;d. Jaringan tulang&lt;br /&gt;Merupakan jaringan penyokong, menegakkan tubuh. Sel2nya disebut: osteosit, berada dlm lakuna. Matriks mengalami pengapuran/kalsifikasi yg mengandung Ca-karbonat &amp; Ca-fosfat; shg keras &amp; kuat. Proses penulangan disebut: ossifikasi.&lt;br /&gt;Meliputi jaringan tulang kompak dan spons.&lt;br /&gt;e. jar tulang rawan/kartilago&lt;br /&gt;Termasuk jaringan penyokong. Selnya disebut: kondrosit, berada dalam lakuna. Matrik elastis dan padat oleh sel2 rawan di dlm rongga matriks. Pd anak berasal dr jaringan ikat embrional/mesenkim &amp; orang dewasa dibentuk dr selaput rawan/perikondrium. Dibedakan menjadi: kartilago hialin (trachea, permukaan tulang sendi), fibrosa (cakram antar ruas tulang belakang, simfisis pubis) &amp; elastis (daun telinga, epiglotis, laring, pmbuluh eustachia)&lt;br /&gt;f. Jaringan darah&lt;br /&gt;Komponen: eritrosit, leukosit, trombosit, plasma darah. Fungsi: mengangkut sari makanan, hasil metabolisme, imunitas &amp; pembekuan darah.&lt;br /&gt;g. jaringan limfe&lt;br /&gt;Komponen: limfosit, granulosit; berada dlm cairan limfe (t'diri air, glukosa, lemak &amp; garam). Beredar dlm pembuluh limfe,&amp; dpt keluar dr pembuluh limfe membasahi rongga2 jaringan antar sel. Fungsi: mengangkut lemak, protein &amp; cairan jaringan.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1131593786029234853-3206844001926112522?l=biocyberway.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://biocyberway.blogspot.com/feeds/3206844001926112522/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1131593786029234853&amp;postID=3206844001926112522&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1131593786029234853/posts/default/3206844001926112522'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1131593786029234853/posts/default/3206844001926112522'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://biocyberway.blogspot.com/2008/04/jaringan-ikat-atau-penyokong.html' title='Jaringan ikat atau penyokong'/><author><name>van210</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05491969756456454186</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='10' src='http://2.bp.blogspot.com/_GHP-NEyWtGY/SlQ03NZ_xuI/AAAAAAAAABQ/meC2CAfV4bc/s1600-R/van2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1131593786029234853.post-6955901632232709638</id><published>2008-04-15T18:04:00.001+07:00</published><updated>2008-04-15T18:04:27.769+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Struktur dan fungsi jaringan hewan'/><title type='text'>Jaringan Epitel (ephithelium)</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Jaringan hewan terdiri atas jaringan epitel, ikat, otot dan saraf.&lt;br /&gt;Jaringan epitel merupakan jaringan yang melapisi permukaan/organ tubuh baik permukaan luar maupun permukaan dalam (endotel).&lt;br /&gt;Berdasarkan bentuk &amp; susunannya dibedakan:&lt;br /&gt;a. Epitel pipih selapis&lt;br /&gt;Lokasi: pembuluh limfe, endotel, kapsula glomerulus, alveoli, peritonium, pleura, perikardium.&lt;br /&gt;Fungsi: difusi, filtrasi&lt;br /&gt;b. Epitel kubus selapis&lt;br /&gt;Lokasi: tubula ginjal, saluran kelenjar ludah, kelenjar keringat, permukaan ovari, permukaan dalam lensa mata, sel-sel berpigmen dari retina.&lt;br /&gt;Fungsi: sekresi dan absorbsi&lt;br /&gt;c. Epitel silindris selapis&lt;br /&gt;Lokasi: lambung, usus, kelenjar pencernaan, kantong empedu, saltran uterus, uterus, rongga hidung.&lt;br /&gt;Fungsi: sekresi dan absorpsi&lt;br /&gt;d. Epitel pipih berlapis banyak&lt;br /&gt;Lokasi: epidermis, vagina, mulut, esofagus, saluran anus, ujueg uretra.&lt;br /&gt;Fungsi: proteksi&lt;br /&gt;e. Epitel kubus berlapis banyak&lt;br /&gt;Lokasi: kelenjar keringat, kelenjar minyak, kelenjar tiroid, ovarium, zakar.&lt;br /&gt;Fungsi: sekresi dan ekskresi&lt;br /&gt;f. Epitel silindris berlapis banyak&lt;br /&gt;Lokasi: saluran kelenjar ludah, saluran kelenjar susu, uretra, laring, faring, langit-langit mulut.&lt;br /&gt;Fungsi: sekresi dan pergerakan.&lt;br /&gt;g. Epitel silindris berlapis banyak&lt;br /&gt;Lokasi: saluran reproduksi, rongga hidung, saluran pernapasan, saluran ekskresi yang besar.&lt;br /&gt;Fungsi: sekresi, proteksi dan gerakan zat&lt;br /&gt;h. Epitel transisional&lt;br /&gt;Lokasi: saluran kencing, kandung kemih, ureter, ginjal.&lt;br /&gt;Fungsi: memungkinkan perubahan dalam bentuk.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1131593786029234853-6955901632232709638?l=biocyberway.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://biocyberway.blogspot.com/feeds/6955901632232709638/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1131593786029234853&amp;postID=6955901632232709638&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1131593786029234853/posts/default/6955901632232709638'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1131593786029234853/posts/default/6955901632232709638'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://biocyberway.blogspot.com/2008/04/jaringan-epitel-ephithelium.html' title='Jaringan Epitel (ephithelium)'/><author><name>van210</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05491969756456454186</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='10' src='http://2.bp.blogspot.com/_GHP-NEyWtGY/SlQ03NZ_xuI/AAAAAAAAABQ/meC2CAfV4bc/s1600-R/van2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1131593786029234853.post-8226817528168342731</id><published>2008-04-14T21:22:00.001+07:00</published><updated>2008-04-14T21:22:29.026+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Struktur dan fungsi jaringan tumbuhan'/><title type='text'>Pembudidayaan Tanaman Langka</title><content type='html'>&lt;P ALIGN="JUSTIFY"&gt;Di Indonesia terdapat beberapa jenis tumbuhan langka (jambu monyet, durian burung, kemiri, aren, sawo kecik, endana dan lain-lain).&lt;br /&gt;Kategori yang menyebabkan tumbuhan disebut langka yaitu punah (extinct), genting (endangered), rawan (vulnerable), jarang (rare) dan terkikis (indeterminate).&lt;br /&gt;Untuk menjaga kelestariannya, tanaman langka dapat dibudidayakan melalui perbanyakan dengan biji, stek dan mencangkok.&lt;/P&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1131593786029234853-8226817528168342731?l=biocyberway.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://biocyberway.blogspot.com/feeds/8226817528168342731/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1131593786029234853&amp;postID=8226817528168342731&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1131593786029234853/posts/default/8226817528168342731'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1131593786029234853/posts/default/8226817528168342731'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://biocyberway.blogspot.com/2008/04/pembudidayaan-tanaman-langka.html' title='Pembudidayaan Tanaman Langka'/><author><name>van210</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05491969756456454186</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='10' src='http://2.bp.blogspot.com/_GHP-NEyWtGY/SlQ03NZ_xuI/AAAAAAAAABQ/meC2CAfV4bc/s1600-R/van2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1131593786029234853.post-1476941759671997073</id><published>2008-04-14T21:08:00.000+07:00</published><updated>2008-04-14T21:10:44.071+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Struktur dan fungsi jaringan tumbuhan'/><title type='text'>Organ pada Tumbuhan</title><content type='html'>Bagian-bagian organ pada tumbuhan&lt;br /&gt;&lt;b&gt;1. Akar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;a. Epidermis (kulit luar)&lt;br /&gt;Terdiri atas selapis sel yang letaknya rapat dan tidak terdapat ruang-ruang antarsel. Sel-sel epidermis yang letaknya satu garis dengan berkas xilem mengalami modifikasi membentuk bulu akar. Bulu-bulu akar berfungsi menyerap air dan unsur hara dari dalam tanah.&lt;br /&gt;b. Korteks&lt;br /&gt;Terdiri atas beberapa lapis sel yang berdinding tipis serta susunanya tidak rapat. Banyak terdapat ruang antarsel yang berfungsi untuk pertukaran gas.&lt;br /&gt;c. Endodermis &lt;br /&gt;Jaringan endodermis merupakan batas terdalam lapisan korteks, terdiri sel-sel endodermis mengalami penebalan dari lignin atau suberin, yang bersifat impermiabel. Penebalan dinding sel tersebut tampak seperti pita yang mengililingi dinding sel dan disebut pita kapsari.&lt;br /&gt;d. Silinder Pusat/Stele&lt;br /&gt;Merupakan bagian yg terdapat di sebelah dalam endodermis. Batas terluar dr silinder pusat terdiri atas jaringan periskel yg mudah dibedakan dari jaringan lainnya. Sel-sel periskel yg berhadapan dg berkas xilem bersifat meristematis &amp; mampu membentuk akar cabang. B'dasarkan sifat tersebut periskel disebut juga perikambium.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;2. Batang&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;a. Epidermis&lt;br /&gt;Terdiri atas selapis sel yg tersusun rapat tanpa ruang-ruang antarsel. Dinding sel-sel epidermis yg berbatasan dg udara mengalami penebalan gabus &amp; dilapisi kutikula.&lt;br /&gt;b. Korteks&lt;br /&gt;Terdapat di sebelah dalam epidermis. Bagian korteks yg berbatasan dg epidermis terdiri atas sel-sel kolenkim yg berfungsi sbg penyokong. Sedangkan bagian ke arah dalam diisi dg sel-sel parenkim.&lt;br /&gt;c. Endodermis&lt;br /&gt;Merupakan lapisan yg menjadi batas antara korteks &amp; silinder pusat/stele. Pd tumbuhan b'biji tertutup sel-sel endodermis mengandung zat tepung shg disebut sarung tepung/floeterma.&lt;br /&gt;d. Silinder Pusat/Stele&lt;br /&gt;Silinder pusat/stele merupakan bagian batang yg t'letak paling dlm. Lapisan terluar dr silinder pusat dsbt periskel/perikambium. Di sebelah dalamnya t'dpt jaringan parenkim dg berkas pembuluh pengangkut yg tdr atas xilem &amp; floem. Ikatan xilem t'letak b'dampingpan dg ikatan floem, xilem di sblh dlm, sdgkan floem menghadap ke arah luar (tipe kolateral).&lt;br /&gt;&lt;b&gt;3. Daun&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Merupakan bagian tumbuhan yg biasanya b'bentuk lembaran pipih, hijau, &amp; b'fungsi sbg tmpt pembuatan makanan bagi tumbuhan melalui proses fotosintesis.&lt;br /&gt;Struktur anatomi daun: epidermis, parenkim palisade &amp; spons, &amp; jaringan pengangkut.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;4. Bunga&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Merupakan alat reproduksi pd angiospermae. Struktur dasar bunga: calyx, corolla, stamen, pistilum.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1131593786029234853-1476941759671997073?l=biocyberway.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://biocyberway.blogspot.com/feeds/1476941759671997073/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1131593786029234853&amp;postID=1476941759671997073&amp;isPopup=true' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1131593786029234853/posts/default/1476941759671997073'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1131593786029234853/posts/default/1476941759671997073'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://biocyberway.blogspot.com/2008/04/organ-pada-tumbuhan.html' title='Organ pada Tumbuhan'/><author><name>van210</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05491969756456454186</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='10' src='http://2.bp.blogspot.com/_GHP-NEyWtGY/SlQ03NZ_xuI/AAAAAAAAABQ/meC2CAfV4bc/s1600-R/van2.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1131593786029234853.post-3597312449639360503</id><published>2008-04-14T20:15:00.001+07:00</published><updated>2008-04-14T20:15:52.376+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Struktur dan fungsi jaringan tumbuhan'/><title type='text'>Proses Pengangkutan Pada Tumbuhan</title><content type='html'>&lt;B&gt;1. Pengambilan zat-zat oleh tumbuhan dari lingkungan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Untuk kelangsungan hidupnya tumbuhan memerlukan beberapa zat. Zat yang diperlukan tumbuhan diambil dari lingkungan sebagian besar berupa:&lt;br /&gt;- O2 dan CO2 dari udara diambil melalui daun&lt;br /&gt;- air dan mineral dari dalam tanah diambil melalui ujung akar dan bulu-bulu akar.&lt;br /&gt;Bagi tumbuhan tingkat rendah, pengambilan zat-zat dapat dilakukan oleh permxkaan tubuhnya. Kemampuan tumbuhan mengambil zat-zat dari lingkungan dilakukan dengan cara difusi, osmosis dan transpor aktif.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;2. Pengangkutan air dan mineral&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;a. pengangkutan ekstravaskular, yaitu pengangkutan yang terjadi di luar berkas pengankut. Pengankutan ini terjadi pada akar dimulai dari bulu akar→epidermis→korteks→endodermis→perisikel, terus ke xylem akar.&lt;br /&gt;Pengangkutan ini dibedakan menjadi:&lt;br /&gt;1) jalur simplas, transpor melewati plasmodesmata.&lt;br /&gt;2) jalur apoplas, transpor melewati dinding serta ruang antarsel.&lt;br /&gt;&lt;B&gt;b. Pengangkutan Intravaskuler&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Yaitu pengangkutan yang berlangsung dalam berkas pengangkut. Dalam pengangkutan air, air diangkut dari xylem akar ke xylem batang dan diteruskan ke daun. Sedangkan pengangkutan hasil fotosintesis melalui pembuluh tapis atau floem.&lt;br /&gt;Tenaga yang menyebabkan terjadinya pengangkutan ini ialah:&lt;br /&gt;1) Tekanan akar, timbul karena pergerakan air secara osmosis, ketika bulu akar menyerap air dari dalam tanah.&lt;br /&gt;2) Daya kapilaritas, terjadi karena daya dorong, hidrasi pada dinding xylem dan daya kohesi air.&lt;br /&gt;3) Daya isap daun, ditimbulkan oleh adanya transpirasi dari daun dan fotosintesis.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;3. Pengangkutan hasil fotosintesis melalui pembuluh Tapis (Floem)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pengangkutan zat organik hasil fotosintesis, diangkut melalui pembuluh floem menuju seluruh bagian tumbuhan yang memerlukan. Pengangkutan ini disebut translokasi dan bersifat bidireksional, artinya pada saat yang sama dapat menuju ujung atau pangkal batang (dua arah).&lt;br /&gt;&lt;b&gt;4. Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan pengangkutan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Air yang diangkut oleh xilem digunakan untuk fotosintesis dan transpirasi. Kecepatan transportasi diatur oleh transpirasi pada stomata dan dipengaruhi oleh keadaan lingkungan, misalnya kelembaban suhu, cahaya, angin dan kandungan air tanah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1131593786029234853-3597312449639360503?l=biocyberway.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://biocyberway.blogspot.com/feeds/3597312449639360503/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1131593786029234853&amp;postID=3597312449639360503&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1131593786029234853/posts/default/3597312449639360503'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1131593786029234853/posts/default/3597312449639360503'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://biocyberway.blogspot.com/2008/04/proses-pengangkutan-pada-tumbuhan.html' title='Proses Pengangkutan Pada Tumbuhan'/><author><name>van210</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05491969756456454186</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='10' src='http://2.bp.blogspot.com/_GHP-NEyWtGY/SlQ03NZ_xuI/AAAAAAAAABQ/meC2CAfV4bc/s1600-R/van2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1131593786029234853.post-3806692467097045570</id><published>2008-04-14T19:29:00.000+07:00</published><updated>2008-04-14T19:30:02.713+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Struktur dan fungsi jaringan tumbuhan'/><title type='text'>Macam Jaringan Tumbuhan</title><content type='html'>Berdasarkan sifatnya jaringan tumbuhan dapat dibedakan menjadi 2, yaitu jaringan meristem dan jaringan dewasa.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;1. Jaringan Meristem&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Jaringan meristem adalah jaringan yang sel penyusunnya bersifat embrional (terus menerus membelah). Ciri-ciri meristem misalnya sel muda dan belum mengalami diferensiasi dan spesialisasi, berdinding tipis, protoplasma banyak, vakuola kecil, inti besar, plastida belum matang dan berbentuk sama ke segala arah.&lt;br /&gt;a. Meristem Primer&lt;br /&gt;- berkembang dari sel embrional&lt;br /&gt;- letaknya pada kuncup, ujung akar, batang dan cabang&lt;br /&gt;- fungsinya memungkinkan akar dan batang bertambah panjang (pertumbuhan primer)&lt;br /&gt;b. Meristem Sekunder&lt;br /&gt;- berkembang dari jaringan dewasa yang telah mengalami differensiasi dan spesialisasi&lt;br /&gt;- terdapat pada kambium&lt;br /&gt;- fungsinya memungkinkan batang bertamch besar (pertumbukan sekunder/melebar)&lt;br /&gt;&lt;b&gt;2. Jaringan Dewasa&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Jaringan dewasa merupakan jaringan yang terbentuk dari hasil diferensiasi dan spesialisasi sel-sel jaringan meristem.&lt;br /&gt;Berdasarkan bentuk dan fungsinya jaringan permanen sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. jaringan epidermis, terdapat di permukaan organ tubuh tumbuhan.&lt;br /&gt;b. jaringan parenkim, umumnya sel-sel besar, kaya akan ruang antara sel, disebut sebagai jaringan dasar. Pada daun ada 2 macam yaitu parenkim palisade dan parenkim bunga karang (spons)&lt;br /&gt;c. jaringan penyokong, mengokokoh berdirinya tubuh tumbuhan, diantaranya jaringan kolenkim dan sklerenkim&lt;br /&gt;d. jaringan pengangkut, terdiri atas floem dan xilem.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1131593786029234853-3806692467097045570?l=biocyberway.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://biocyberway.blogspot.com/feeds/3806692467097045570/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1131593786029234853&amp;postID=3806692467097045570&amp;isPopup=true' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1131593786029234853/posts/default/3806692467097045570'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1131593786029234853/posts/default/3806692467097045570'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://biocyberway.blogspot.com/2008/04/macam-jaringan-tumbuhan.html' title='Macam Jaringan Tumbuhan'/><author><name>van210</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05491969756456454186</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='10' src='http://2.bp.blogspot.com/_GHP-NEyWtGY/SlQ03NZ_xuI/AAAAAAAAABQ/meC2CAfV4bc/s1600-R/van2.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1131593786029234853.post-3068608118185947790</id><published>2008-04-14T19:05:00.000+07:00</published><updated>2008-04-14T19:06:37.031+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Struktur dan Fungsi Sel'/><title type='text'>Perbedaan Sel Hewan dan Sel Tumbuhan</title><content type='html'>&lt;b&gt;Sel Hewan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;1. tidak memiliki dinding sel&lt;br /&gt;2. tidak memiliki plastida&lt;br /&gt;3. memiliki lisosom&lt;br /&gt;4. memiliki sentrosom&lt;br /&gt;5. timbunan zat berupa lemak dan glikogen&lt;br /&gt;6. bentuk tidak tetap&lt;br /&gt;7. pada hewan tertentu memiliki vakuola, ukuran kecil, sedikit&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sel Tumbuhan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;1. memiliki dinding sel dan membran sel&lt;br /&gt;2. umumnya memiliki plastida&lt;br /&gt;3. tidak memiliki lisosom&lt;br /&gt;4. tidak memiliki sentrosom&lt;br /&gt;5. timbunan zat berupa pati&lt;br /&gt;6. bentuk tetap&lt;br /&gt;7. memiliki vakuola ukuran besar, banyak&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Transpor lewat membran&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;Transpor lewat membran dibedakan atas:&lt;br /&gt;1. Transpor pasif, tanpa bantuan energi dari sel (difusi dan osmosis)&lt;br /&gt;2. Transpor aktif, dengan menggunakan energi dari sel (endositosis, eksositosis dan pompa natrium kalium).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1131593786029234853-3068608118185947790?l=biocyberway.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://biocyberway.blogspot.com/feeds/3068608118185947790/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1131593786029234853&amp;postID=3068608118185947790&amp;isPopup=true' title='36 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1131593786029234853/posts/default/3068608118185947790'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1131593786029234853/posts/default/3068608118185947790'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://biocyberway.blogspot.com/2008/04/perbedaan-sel-hewan-dan-sel-tumbuhan.html' title='Perbedaan Sel Hewan dan Sel Tumbuhan'/><author><name>van210</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05491969756456454186</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='10' src='http://2.bp.blogspot.com/_GHP-NEyWtGY/SlQ03NZ_xuI/AAAAAAAAABQ/meC2CAfV4bc/s1600-R/van2.jpg'/></author><thr:total>36</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1131593786029234853.post-4851328095321155976</id><published>2008-04-14T13:58:00.001+07:00</published><updated>2008-04-14T18:01:55.060+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Struktur dan Fungsi Sel'/><title type='text'>Fungsi Organela-organela Sel</title><content type='html'>a. Membran Plasma&lt;br /&gt;Tersusun atas lemak (lipid) dan protein (lipoprotein).&lt;br /&gt;Fungsi: melindungi sel, mengatur keluar masuknya zat dan sebagai penerima rangsang dari luar sel.&lt;br /&gt;2. Sitoplasma&lt;br /&gt;Tersusun atas:&lt;br /&gt;- cairan: sitosol&lt;br /&gt;- padatan: berupa organela-organela&lt;br /&gt;Fungsi: tempat berlangsungnya reaksi metabolisme sel.&lt;br /&gt;c. Nukleus&lt;br /&gt;Merupakan organel terbesar, berbentuk bulat, membran rangkap. Di dalam nukleus terdapat nukleoplasma, yang terdiri atas benang 'kromatin' yang tersusun atas DNA, RNA dan protein. Selain itu terkadang terbentuk nukleolus&lt;br /&gt;Fungsi: pengendali seluruh aktivitas sel, pengatur pembelahan sel dan pembawa informasi genetik.&lt;br /&gt;d. Sentriol&lt;br /&gt;Hanya dimiliki sel hewan.&lt;br /&gt;Fungsi: menarik kromosom menuju ke kutub.&lt;br /&gt;e. Retikulum Endoplasma (RE)&lt;br /&gt;Berbentuk benang-benang jala meliputi:&lt;br /&gt;- RE kasar: terdapat ribosom, b'fungsi utk transpor &amp; sintesis protein.&lt;br /&gt;- RE halus: tdk t'dpt ribosom, b'fungsi utk transpor &amp; sintesis lemak &amp; steroid.&lt;br /&gt;f. Ribosom&lt;br /&gt;Tersusun dr protein &amp; RNA, b'bentuk bulat &amp; tdk b'membran.&lt;br /&gt;Fungsi: tempat b'langsungnya sintesis protein.&lt;br /&gt;g. Kompleks Golgi&lt;br /&gt;Terdiri atas membran b'bentuk kantong pipih. Pd sel tumbuhan, kompleks golgi disebut diktiosom.&lt;br /&gt;Fungsi: sekresi polisakarida, protein &amp; lendir (musin).&lt;br /&gt;h. Lisosom&lt;br /&gt;Merupakan membran b'bentuk kantong kecil b'isi enzim hidrolitik yg b'fungsi dlm pencernaan intrasel.&lt;br /&gt;Fungsi lain:&lt;br /&gt;- mencerna materi yg diambil secara endositosis.&lt;br /&gt;- menghancurkan organela sel lain yg sudah tdk b'fungsi (autofage).&lt;br /&gt;- menghancurkan selnya sendiri (autolisis).&lt;br /&gt;i. Mitokondria&lt;br /&gt;Memiliki membran rangkap (luar &amp; dlm). Membran dlm berlekuk-lekuk membentuk krista.&lt;br /&gt;j. Mikrotubulus&lt;br /&gt;Tersusun atas protein tubulin&lt;br /&gt;Fungsi: punyusun spindel, sentriol, silia &amp; flagela.&lt;br /&gt;k. Mikrofilamen&lt;br /&gt;Tersusun atas protein aktin.&lt;br /&gt;Fungsi: dlm gerakan sel, sitoplasma, kontraksi otot &amp; pembelahan sel.&lt;br /&gt;l. Dinding Sel&lt;br /&gt;Tersusun atas protein selulose, hemiselulose, pektin &amp; lignin.&lt;br /&gt;Fungsi: memberi bentuk sel, melindungi bagian sebelah dlm, &amp; mengatur transportasi zat.&lt;br /&gt;m. Badan mikro&lt;br /&gt;Terdiri:&lt;br /&gt;- Peroksisom: mengandung enzim katalase.&lt;br /&gt;- Glioksisom: mengandung enzim katalase &amp; oksidase.&lt;br /&gt;n. Plastida&lt;br /&gt;Organela yg mengandung pigmen, meliputi:&lt;br /&gt;- Kloroplas: plastida yg mengandung pigmen klorofil/hijau.&lt;br /&gt;- Kromoplas: plastida yg mengandung pigmen merah, jingga, kuning.&lt;br /&gt;- Leukoplas: plastida yg tdk mengandung pigmen.&lt;br /&gt;o. Vakuola&lt;br /&gt;Vakuola sel tumbuhan b'sifat menetap.&lt;br /&gt;Fungsi: tmpt menyimpan cadangan mkanan, pigmen, minyak atsiri &amp; sisa metabolisme.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1131593786029234853-4851328095321155976?l=biocyberway.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://biocyberway.blogspot.com/feeds/4851328095321155976/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1131593786029234853&amp;postID=4851328095321155976&amp;isPopup=true' title='12 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1131593786029234853/posts/default/4851328095321155976'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1131593786029234853/posts/default/4851328095321155976'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://biocyberway.blogspot.com/2008/04/fungsi-organela-organela-sel.html' title='Fungsi Organela-organela Sel'/><author><name>van210</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05491969756456454186</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='10' src='http://2.bp.blogspot.com/_GHP-NEyWtGY/SlQ03NZ_xuI/AAAAAAAAABQ/meC2CAfV4bc/s1600-R/van2.jpg'/></author><thr:total>12</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1131593786029234853.post-864519021315053466</id><published>2008-04-14T10:19:00.001+07:00</published><updated>2008-04-14T10:19:09.519+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Struktur dan Fungsi Sel'/><title type='text'>Struktur Sel Eukariotik</title><content type='html'>Sel Eukariotik memiliki membran nukleus dan sistem endomembran.&lt;br /&gt;Berikut struktur sel eukariotik:&lt;br /&gt;1. Sel tumbuhan terdiri dari: nukleus, RE kasar, RE halus, ribosom, kompleks golgi, lisosom, membran plasma, mikrotubulus, mikrofilamen, mitokondria, badan mikro, kloroplas, vakuola, dinding sel.&lt;br /&gt;2. Sel hewan terdiri dari: (membran nukleus, nukleoplasma+DNA, nukleolus)  nukleus, vesikula, lisosom, RE kasar, RE halus, kompleks golgi, vesikula, sentriol, mitokondria, membran plasma, mikrofilamen, mikrotubulus.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1131593786029234853-864519021315053466?l=biocyberway.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://biocyberway.blogspot.com/feeds/864519021315053466/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1131593786029234853&amp;postID=864519021315053466&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1131593786029234853/posts/default/864519021315053466'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1131593786029234853/posts/default/864519021315053466'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://biocyberway.blogspot.com/2008/04/struktur-sel-eukariotik.html' title='Struktur Sel Eukariotik'/><author><name>van210</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05491969756456454186</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='10' src='http://2.bp.blogspot.com/_GHP-NEyWtGY/SlQ03NZ_xuI/AAAAAAAAABQ/meC2CAfV4bc/s1600-R/van2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1131593786029234853.post-1813122575042802529</id><published>2008-04-14T10:07:00.001+07:00</published><updated>2008-04-14T10:07:38.238+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Struktur dan Fungsi Sel'/><title type='text'>Struktur Sel Prokariotik</title><content type='html'>Sel prokariotik mempunyai membran plasma, sitoplasma yang mengandung ribosom, mesosom, kromator (pigmen) dan materi inti (DNA dan RNA).&lt;br /&gt;Sel prokariotik tidak mempunyai membran inti dan sistem endomembran seperti retikulum endoplasma dan kompleks golgi. Selain itu tidak memiliki mitokondria dan kloroplas. Yang termasuk sel prokariotik adalah bakteri dan alga biru.&lt;br /&gt;Berikut bagian struktur sel bakteri Escherichia coli:&lt;br /&gt;- pilus&lt;br /&gt;- ribosom&lt;br /&gt;- kapsul&lt;br /&gt;- dinding sel&lt;br /&gt;-membran plasma&lt;br /&gt;- daerah nukleoid (DNA)&lt;br /&gt;- mesosom&lt;br /&gt;- flagela&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1131593786029234853-1813122575042802529?l=biocyberway.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://biocyberway.blogspot.com/feeds/1813122575042802529/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1131593786029234853&amp;postID=1813122575042802529&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1131593786029234853/posts/default/1813122575042802529'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1131593786029234853/posts/default/1813122575042802529'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://biocyberway.blogspot.com/2008/04/struktur-sel-prokariotik.html' title='Struktur Sel Prokariotik'/><author><name>van210</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05491969756456454186</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='10' src='http://2.bp.blogspot.com/_GHP-NEyWtGY/SlQ03NZ_xuI/AAAAAAAAABQ/meC2CAfV4bc/s1600-R/van2.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1131593786029234853.post-4508870877132600983</id><published>2008-04-14T09:59:00.001+07:00</published><updated>2008-04-14T09:59:26.499+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Struktur dan Fungsi Sel'/><title type='text'>Pengertian Sel</title><content type='html'>Sel berasal dari kata 'cella' yang berarti ruangan berukuran kecil maka sel merupakan unit (kesatuan, zahrah) terkecil dari makhluk hidup, yang dapat melaksanakan kehidupan.&lt;br /&gt;Ada empat teori tentang sel, yaitu:&lt;br /&gt;- unit struktural terkecil makhluk hidup (Schleiden &amp; T. Schwann)&lt;br /&gt;- unit fungsional terkecil makhluk hidup (Max Schultze)&lt;br /&gt;- unit pertumbuhan terkecil makhluk hidup (Rudolf Virchow)&lt;br /&gt;- unit hereditas terkecil makhluk hidup (Penemuan akhir abad XIX)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan membran inti, sel dibagi menjadi 2, yaitu sel prokariotik dan sel eukariotik.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1131593786029234853-4508870877132600983?l=biocyberway.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://biocyberway.blogspot.com/feeds/4508870877132600983/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1131593786029234853&amp;postID=4508870877132600983&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1131593786029234853/posts/default/4508870877132600983'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1131593786029234853/posts/default/4508870877132600983'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://biocyberway.blogspot.com/2008/04/pengertian-sel.html' title='Pengertian Sel'/><author><name>van210</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05491969756456454186</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='10' src='http://2.bp.blogspot.com/_GHP-NEyWtGY/SlQ03NZ_xuI/AAAAAAAAABQ/meC2CAfV4bc/s1600-R/van2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
